kumparan
12 Sep 2019 18:45 WIB

MUI Lapor ke JK, Dana Bangun RS di Palestina Terkumpul Rp 10 M

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi di Kantor Wapres. Foto: Nadia Riso/kumparan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama sejumlah lembaga filantropi berencana membangun Rumah Sakit Indonesia-Hebron (RSIH) di Hebron, Tepi Barat, Palestina. Beberapa lembaga filantropi tersebut yakni Baznas, Dompet Dhuafa, LazisMu, NU Care-LazisNu, dan Lazis Al-Azhar Peduli Umat.
ADVERTISEMENT
Ketua Panitia Penggalangan Dana Pembangunan RSIH, KH Muhyiddin Junaidi, menyampaikan rencana pihaknya untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit.
"Insyaallah kami akan berkunjung ke lokasi RSIH dalam waktu dekat, karena memang sudah ada dana yang terkumpul. Cukup untuk melakukan dan membiayai peletakan batu pertama," kata Muhyiddin di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Kamis (12/9).
Muhyiddin menjelaskan, hingga kini pihaknya masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin menyumbang. Setidaknya dibutuhkan dana Rp 90 miliar untuk mewujudkan RS Indonesia-Hebron, yang ditargetkan dapat terkumpul dalam kurun 2 tahun.
Jika dana sudah terkumpul, maka tak menutup kemungkinan pembangunan RS dilakukan dalam waktu 2 tahun ini.
"Yang kita butuhkan sekitar Rp 90 miliar. Mudah-mudahan sudah terkumpul sekitar Rp 10 Miliar. Berarti sisanya tinggal sekian dan kita optimistis dapat kita kumpulkan selama 2 tahun," tuturnya.
ADVERTISEMENT
"Mudah-mudahan dengan adanya peletakan batu pertama nanti semangatnya semakin meninggi, menguat. Karena masyarakat juga akan tahu, kalau sementara waktu kan kita belum yakin, istilahnya ainul yaqin dan haqul yaqin," imbuh Muhyiddin.
RSIH rencananya dibangun di atas tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi. Sementara dana yang dibutuhkan untuk membangun rumah sakit itu sebesar 7 juta dolar AS. Tanah wakaf tersebut diberikan oleh 16 keluarga yang tinggal di sana, dan segala dokumen terkait sudah diurus. Sehingga tidak ada masalah dari segi hukum.
Sementara itu, Masyuri Kurniawan sebagai desainer masjid dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mengatakan, rumah sakit akan dibangun untuk proses trauma healing bagi pasien-pasiennya. RS tersebut akan dibangun setinggi tiga lantai.
ADVERTISEMENT
"Yang kita bangun ini kan rumah sakit khusus trauma. Karena mereka di sana terbiasa dengan suara-suara perang dan sebagainya. Sehingga mereka terbiasa dengan mungkin suara-suara perang dan sebagainya, berbeda dengan konsep rumah sakit di Indonesia," ujar Masyuri.
Sehingga perawatan yang akan dilakukan di sana akan sedikit berbeda dari beberapa rumah sakit pada umumnya, baik yang menangani luka maupun korban kekerasan.
"Mungkin pertanyaannya bukan seperti perawatan orang sakit, tapi dimungkinkan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi yang utama memang untuk trauma healing. Itu nanti terdiri dari sekian lantai 3 lantai dan memang konturnya naik turun. Kita menyesuaikan kontur yang ada di sana," tutupnya.
Jusuf Kalla sebelumnya juga telah menghadiri peluncuran program penggalangan dana RSIH pada Mei 2019. Saat itu, JK memastikan pemerintah mendukung sepenuhnya pembangunan RSIH.
ADVERTISEMENT
"Pemerintah pasti akan membantu, tapi karena ini inisiatif masyarakat, jadi kita beri kesempatan dulu masyarakat beramal. Kalau pemerintah langsung ambil alih nanti masyarakat tidak beramal," ucap JK sambil bercanda, lalu diikuti tawa tamu yang hadir, Kamis (2/5).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan