kumparan
4 Jan 2019 15:05 WIB

NasDem DKI Nilai Pemprov Lalai Awasi Kali Item yang Berbusa

Bestari Barus di DPRD DKI Jakarta (Foto: Mohammad Fajri/kumparan)
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Bestari Barus, buka suara terkait berbusanya Kali Item, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Menurut Bestari, pejabat yang bersangkutan lalai dalam pengawasan, bahkan ada pendiaman dari beberapa jajaran terkait.
ADVERTISEMENT
“Itu kan bisa saja limbah dari industri yang dibuang ke situ tanpa tidak diketahui. Kenapa industri bisa membuang ke situ berarti pergerakannya tidak pernah dipantau oleh lurah dan camat atau dinas terkait,” ucap Bestari ketika dihubungi oleh wartawan, pada Jumat, (4/1).
Menurut Bestari, pendiaman dilakukan dalam bentuk ketidakmampuan para pejabat menemukan sumber munculnya busa. Ia yakin ada industri besar di lingkungan kali Item yang membuang limbahnya ke sungai tersebut.
Busa di Kali Sentiong alias Kali Item, Rabu (2/1). (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
“Kalau limbah yang bisa bikin berbusa itu, pasti kan industri besar, masa enggak terpantau. Ada pendiaman-pendiaman yang dilakukan di hulunya. Itu sudah beberapa kali kita sampaikan di rapat-rapat dengan Dinas LH (Lingkungan Hidup) kalian janganlah diam,” kata Bestari.
Bestari menegaskan, bahwa untuk menuntaskan masalah ini diperlukan komunikasi antar Satuan Kerja dan Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
ADVERTISEMENT
“Harus duduk bareng, dengan wali kota juga. Ini enggak pernah mau, karena ada ego sektoral yang terlalu tinggi,” kata Bestari.
Busa di Kali item sebelumnya muncul pada Selasa (1/1). Sri (35) salah satu penjual es di pinggir kali mengatakan, busa tebal memang kerap kali muncul di Kali Item. Hanya saja, kemunculannya ini tidak selalu terjadi.
Busa kembali terlihat di Kali Sentiong alias Kali Item. Buih berwarna putih itu keluar dari saluran yang menghubungkan Danau Sunter Barat dengan Kali Item. Busa mulai terlihat saat mesin pompa Sunter Selatan dihidupkan. Pompa tersebut mengalirkan air dari danau ke kali.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan