Pencarian populer

Orang Tua di Denpasar Adu Cepat Berebut Nomor Token PPDB SMP

Sejumlah orang tua siswa di berkumpul mengambil nomor token Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Sejumlah orang tua siswa di Denpasar, Bali, saling adu cepat untuk mendapatkan nomor token Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Token ini digunakan untuk login saat mendaftar secara online ke SMP idaman.
ADVERTISEMENT
Pantauan kumparan, Senin (17/6) pukul 11.00 WITA di SMPN 10 Denpasar, sejumlah orang tua mengeluhkan antrean yang serampangan dalam PPDB. Di antaranya, antrean pendaftaran, verifikasi data, dan mendapatkan token.
Orang tua tampak mengerumuni panitia PPDB. Mereka menunggu panita memberi nomor antrean verifikasi data.
Salah satu orang tua bernama Mira Astra mengaku kecewa dengan pihak sekolah. Sebab, tak ada baris antrean yang tersedia. Ia pun harus mempertajam telinga mendengar panita memberi nomor antrean usai mendaftar.
"Pihak sekolah enggak siap, antreannya serampangan. Enggak rapi, pihak sekolah tak menyiapkan nomor antrean, begitu masuk dipanggil satu-satu tak urut absen. Enggak fair, kok," kata Mira kepada wartawan.
Suasana pengambilan nomor token Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Demi anaknya, Mira sudah mendatangi dua sekolah untuk mendapatkan nomor antrean PPDB. Mulanya, ia datang ke SMPN 5 Denpasar untuk mendapatkan nomor token PPBD menggunakan jalur zonasi sejak pukul 05.00 WITA. Kemudian, pukul 10.00 WITA, ia melanjutkan ke SMPN 10 Denpasar dengan maksud menggunakan jalur kawasan.
ADVERTISEMENT
"Dari Kementerian Pendidikan kan ada keputusan, jadi bisa dengan zonasi dan kawasan, prestasi, dan lain-lain, seperti tidak mampu," kata dia.
Suasana pengambilan nomor token Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Dia mengatakan, bila tak masuk di SMPN 10 Denpasar, anaknya masih punya peluang diterima di SMPN 5 Denpasar. Apalagi, dari informasi yang diperolehnya, SMPN 10 hanya menerima 6 kelas dengan jumlah siswa rata-rata per kelas 30 orang.
Menurutnya, sistem zonasi yang digunakan saat ini sangat tak efektif. Pertama, membuat sang anak tak mandiri karena harus bersama orang tuanya. Belum lagi, nanti harus cepat-cepatan untuk memasukkan nomer registrasi ke pendaftaran secara online.
"Orang tua tersiksa dan kemudian tak efisien," kata dia.
Orang tua dan anaknya tiba untuk mengambil nomor token Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Senada dengan Mira, Putu Agus Sastrawan mengaku kecewa dengan sistem antrean yang serampangan. Bahkan, bapak dua anak ini harus cuti sehari untuk mendapatkan nomor antrean PPDB dan mendaftarkan anaknya.
ADVERTISEMENT
Ia kecewa karena sistem zonasi ini membingungkan dan sosialisasinya tak mendalam. Ia datang sekitar pukul 08.00 WITA dan harus mengantre tiga jam untuk mendapatkan nomor antrean.
Besoknya, ia harus kembali untuk melakukan verifikasi data untuk mendapatkan nomor registrasi pendaftaran.
"Pertama kali disosialisasikan secara umum saja. Kalau detail kita disuruh ke sekolah yang dituju. Sosialisasi untuk masuk zonning terlalu mepet waktunya. Mestinya agak jauh-jauh biar kita bisa prepare," ujar Agus.
"Dari sekolahnya saya lihat belum siap, amburadul, sistem belum bagus. Semua rebutan padahal ngapain belum tentu masuk karena sistem ada parameter yang menentukan," tambahnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80