kumparan
13 Nov 2017 13:05 WIB

Pajaknya Mau Diturunkan, Orang Superkaya di AS Malah Menolak

Poster layanan kantor pajak AS. (Foto: REUTERS/Shannon Stapleton)
Janji Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memangkas pajak pribadi dan perusahaan di AS ternyata tak mudah diwujudkan. Lebih dari 400 orang superkaya menggalang penolakan terhadap rencana reformasi pajak yang didukung Partai Republik itu.
ADVERTISEMENT
Di antara para penanda tangan petisi penolakan pemotongan pajak, terdapat nama-nama terkemuka seperti George Soros, Steven Rockefeller, Ben Cohen dan Jerry Greenfield (pendiri perusahaan es krim premium Ben & Jerry), dan mantan CEO American Airlines Bob Crandall.
Selain itu, menurut The Washington Post, banyak individu lain yang masuk 5% penduduk AS berpenghasilan tertinggi (1,5 juta-250 juta dolar AS per tahun), ikut mendukung petisi ini. Surat penolakan rencana pemotongan pajak ini, akan dikirimkan ke Kongres AS pekan ini juga.
Petisi ini disebarkan secara online melalui responsiblewealth.org. Para penggagasnya masih terus menggalang dukungan dari para miliuner AS lainnya, untuk ikut menandatangani petisi.
Don't Cut Taxes (Foto: http://www.responsiblewealth.org/)
“Kami mendesak Anda (Kongres AS) untuk menolak segala undang-undang yang akan memperburuk kesenjangan ekonomi di AS,” tulis surat pernyataan yang disebar secara online itu. “Kami sangat prihatin penurunan pendapatan negara akan menyebabkan penurunan layanan mendasar seperti pendidikan dan kesehatan. Ini akan menghambat kemampuan bangsa kita untuk mengembalikan investasi pada masyarakat yang membutuhkan. "
ADVERTISEMENT
Sejumlah profesional yang ikut mendukung petisi ini, seperti dokter, pengacara, serta eksekutif perusahaan menilai, Partai Republik melakukan kesalahan dengan rencana pemangkasan pajak oarang-orang kaya. Apalagi hal ini dilakukan saat utang negara sedang tinggi, dan kesenjangan ekonomi ada pada tingkat terburuk sejak 1920-an.
George Soros (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI )
Untuk diketahui, indeks kesenjangan (Gini Ratio) AS ada di angka 0,41 lebih tinggi dari Indonesia yang ada di angka 0,39. Koefisien gini atau gini ratio merupakan ukuran ketimpangan, yang angkanya berkisar antara nol dan satu. Semakin besar gini ratio, artinya kesenjangan ekonomi semakin tinggi.
Mantan CEO American Airlines, Bob Crandall mengatakan, "Pemotongan pajak itu tidak masuk akal," katanya. Dalam hitungan Crandall, potongan pajak yang akan dinikmati orang-orang superkaya, jauh lebih besar dibandingkan uang pajak yang mereka bayarkan untuk mendanai kesehatan dan lingkungan yang dinikmati warga AS.
ADVERTISEMENT
Alih-alih mendukung rencana pemotongan pajak untuk orang kaya, petisi tersebut meminta Kongres untuk menaikkan pajak atas orang kaya seperti mereka. "Kami minta Kongres menaikkan pajak kami untuk menghasilkan tambahan pendapatan negara, yang sangat dibutuhkan dan mengembalikan investasi ke layanan vital masyarakat," katanya.
Pidato Donald Trump soal Reformasi Pajak. (Foto: REUTERS/Jonathan Ernst)
Pengambilan keputusan atas rencana pemotongan pajak dari semula 35% menjadi 20%, terhadap individu dan perusahaan-perusahaan kaya di AS tertunda. Karena dengan penurunan pajak, pemerintah harus menutupi kekurangan penerimaan negara dengan utang yang diperkirakan sebesar 1,5 triliun dolar AS.
Sementara Gedung Putih berdalih, pemotongan pajak diharapkan bisa membangkitkan perekonomian AS. Dengan berkurangnya beban pajak perusahaan-perusahaan besar, diharapkan mereka dapat menambah investasi baru, yang pada akhirnya akan membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Partai Republik sebagai pendukung reformasi pajak ini mengatakan, pemerintah tak punya uang untuk investasi dan membuka lapangan kerja baru. “Tapi kita bisa memberi orang kaya potongan pajak yang besar."
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan