kumparan
5 Jun 2018 13:45 WIB

PDIP Dinilai Jadi Penghalang Demokrat Berkoalisi dengan Jokowi

Jokowi dan SBY: Batik Pesisir vs Keraton. (Foto: Biro Pers Istana)
Mendekati pendaftaran capres-cawapres pada Agustus mendatang, sejumlah partai politik telah mendeklarasikan dukungannya terhadap sejumlah tokoh yang menjadi kandidat pada Pilpres 2019. Namun hingga kini, Partai Demokrat belum menentukan sikap politiknya di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
Pengamat politik CSIS, Arya Fernandes menilai, Demokrat sebetulnya punya keinginan untuk merapat ke koalisi Joko Widodo. Namun, banyak rintangan yang harus dihadapi Demokrat bila ingin merapat ke Jokowi.
"Saya kira Demokrat masih mempertimbangkan beberapa opsi dan saya melihat Demokrat ada keinginan untuk bergabung bersama Jokowi. Tetapi itu tidak mudah karena di internal Jokowi sendiri itu muncul semacam ketegangan, ya terutama dari PDIP," kata Arya kepada kumparan, Selasa (5/6).
"Terutama yang hubungannya relatif dalam beberapa tahun terakhir ini kurang harmonis dengan Demokrat dan SBY. Jadi usaha Demokrat untuk mendekati Jokowi tentu itu sangat akan mendapatkan semacam tantangan dari internal PDIP. Nah tidak mudah," lanjut dia.
Tak hanya dari internal PDIP saja, parpol yang sejak awal mendukung Jokowi maju sebagai capres kemungkinan besar akan menentang bila Demokrat merapat.
ADVERTISEMENT
"Demokrat bukan bagian dari pemerintahan gitu. Bila dia masuk tentu akan muncul penolakan juga dari partai-partai koalisi lainnya. Apalagi beberapa pimpinan partai dari koalisi juga sudah mendeklarasikan diri dan berkeinginan jadi cawapres Jokowi," tuturnya.
Namun, Arya yakin Demokrat akan tetap berupaya mendekati Jokowi. Tentunya mungkin dengan berbagai strategi seperti mencari tokoh tengah yang tak punya afiliasi partai atau tokoh yang memang dekat dengan parpol koalisi Jokowi. Sosok ini kemudian ditawarkan kepada Jokowi.
"Bisa dari profesional, ekonom yang dekat dengan Demokrat, kemudian ditawarkan kepada Jokowi. Tokoh ini bisa juga dekat dengan partai-partai lainnya gitu," ujarnya.
Jika tak berhasil bergabung dengan koalis Jokowi, Arya berpendapat, Demokrat bisa saja menggagas poros tengah dengan mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Apalagi Demokrat memang berkeinginan menjadikan AHY sebagai ikon baru.
ADVERTISEMENT
"Dan karena juga porsi pemilih muda, milenial, dan ibu rumah tangga ini cukup besar dia berharap dengan sosok AHY ini mampu membentuk satu segmen pemilih baru Demokrat," imbuhnya.
"Strategi yang ketiga saya kira adalah dengan tetap bergabung dengan pemerintahan gitu, tetapi menyerahkan kesepakatan siapa cawapres itu kepada partai-partai koalisi. Tapi Demokrat mengajukan beberapa opsi menteri gitu," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan