kumparan
3 Nov 2017 7:50 WIB

Pemimpin Tertinggi Khamenei: AS Musuh Nomor Satu Iran

Ayatollah Ali Khamenei Berpidato di Teheran (Foto: Leader.ir/Handout via Reuters)
Dalam sebuah pidato di televisi pada hari Kamis (2/11), Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut Amerika Serikat adalah "musuh nomor satu" Iran dan Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan Washington atas kesepakatan nuklir multinasional.
ADVERTISEMENT
Dilansir Reuters, Kamis (2/11), pernyataan yang disampaikan Khamenei tersebut merupakan respons terhadap tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang pada pertengahan Oktober lalu mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran.
Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu itu secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA).
Ayatollah Ali Khamenei Berpidato di Teheran (Foto: Leader.ir/Handout via Reuters)
Tak hanya mencabut dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran, Trump juga pernah secara terang-terangan mengeluarkan pernyataan anti-Teheran dan menyerukan kepada seluruh negara di dunia untuk mengisolasi Iran secara internasional.
"Komentar bodoh Presiden Amerika terhadap rakyat kita, menunjukkan betapa dalamnya permusuhan Amerika terhadap seluruh bangsa Iran," kata Khamenei di depan para pelajar di Teheran.
“Amerika adalah musuh nomor satu bangsa kita,” tegasnya.
Para Pelajar di Teheran (Foto: Leader.ir/Handout via Reuters)
Trump sebelumnya juga menyebut bahwa JCPOA yang dibuat pada masa Barrack Obama merupakan “kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan” dan ia memilih mengadopsi pendekatan yang keras terhadap Iran mengenai program rudal nuklir dan balistiknya.
ADVERTISEMENT
Di bawah Trump, pemerintah Washington telah memberlakukan sanksi-sanksi baru terhadap Iran atas aktivitas misilnya dan meminta Teheran untuk tidak mengembangkan rudal yang mampu menghasilkan bom nuklir.
Menanggapi hal tersebut, Iran mengklaim tak memiliki rencana semacam itu dan mengatakan bahwa program rudalnya semata-mata untuk tujuan pertahanan.
Negara-negara lain yang ikut menandatangani kesepakatan JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, China, dan Uni Eropa, mengatakan Amerika Serikat tidak dapat secara sepihak membatalkan kesepakatan internasional yang telah diabadikan oleh resolusi PBB tersebut.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan