Pencarian populer

Pendidikan Tanpa Batas ala Susi Pudjiastuti

Video

Susi Pudjiastuti pernah tak memiliki ijazah SMA selama puluhan tahun. Tanpa ijazah itu, juga tanpa pernah menempuh pendidikan tinggi, Susi mampu bertahan dan terus mengarungi hidup. Lini bisnis ikan yang dia miliki kian moncer, diangkat pula jadi menteri oleh Presiden Joko Widodo. Lantas, buat apa Susi repot-repot mengambil Paket C?

Tepat dua hari sebelum berita mengenai lulusnya Susi pada Ujian Nasional Paket C mengemuka, Rabu (11/7), kumparan sempat menyinggung soal arti pendidikan bagi Susi, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Saat itu, Susi ditemui di kediamannya di Jalan Widya Chandra, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Saya walaupun quit school, berhenti dari sekolah, bukan berarti saya berhenti belajar. Saya juga membaca terus, banyak. Saya suka cari tahu, saya suka exploring, traveling, talking to orang pintar, baca apa saja to continue knowledge,” kata Susi saat berbincang dengan kumparan, Rabu (11/7).

Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Ya, di mata Susi, pendidikan tak pernah terbatas pada ruang kelas semata. Menurut dia, ada banyak hal yang bisa dilakukan seseorang untuk menyerap ilmu pengetahuan. Keterampilan berbisnis misalnya, tak melulu harus makan bangku sekolah. Kemampuan dirinya mengelola PT ASI Pudjiastuti Marine Product jelas jauh dari itu semua.

Kendati demikian, dia menekankan bahwa orang lain tak perlu mengikuti jejaknya. Anak Susi, Nadine Kaiser, bahkan merupakan jebolan Embry-Riddle Aeronautical University, sebuah kampus di Florida, Amerika Serikat. Tentu saja, Susi berseloroh bahwa pendidikan formal harus diselesaikan, oleh siapa pun itu.

“Sekolah itu harus diselesaikan. Kalau misalnya sudah terlanjur drop out sekarang kan juga ada ujian persamaan. Bisa ikut juga kan. Just to feel good misalnya,” ujar Susi menyinggung soal kelebihan Paket C.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Sayangnya, selama perbincangan itu, Susi sama sekali tak mengutarakan bahwa dirinya telah lulus program Paket C. Baru dua hari kemudian, Jumat (13/7), Susi dengan terbuka menyampaikan bahwa ia berhasil lulus ujian Paket C dengan nilai tertinggi dalam ujian nasional yang dihelat di SMAN 1 Pangandaran, Jawa Barat, pada 11-13 Mei 2018.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kanan) terima ijazah paket C. (Foto: Istimewa)

Jauh sebelum Susi mendapatkan Ijazah Paket C tersebut, perempuan berusia 53 tahun itu telah memperolah gelar Doktor Honoris Causa (DHC). Sebuah gelar prestisius yang diberikan sebuah universitas untuk orang-orang yang memiliki jasa dan kiprahnya bagi masyarakat luas.

Tak tanggung-tanggung, Susi mendapatkan DHC dari dua universitas negeri terbaik di Indonesia. Pertama, dia mendapat gelar kehormatan itu dari Universitas Diponegoro (Undip) pada 3 Desember 2016. Kedua, Susi memperoleh gelar itu dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) tepat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 Novembar 2017.

Penghargaan Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Dalam pandangan Susi, gelar kehormatan tersebut tidak saja membuktikan bahwa dirinya yang tak pernah menempuh pendidikan tinggi, kemudian bisa mendapatkan gelar. Lebih dari itu, dia ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa segala macam kritik maupun cibiran yang dilontarkan kepada Jokowi saat memilih dirinya itu salah kaprah.

“Ya (mau membuktikan bahwa) penglihatan Pak Jokowi, kepercayaan Pak Jokowi tuh sudah benar,” jelas Susi.

Penghargaan Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Sebagai seorang menteri, Susi memang telah mencatatkan banyak prestasi memukau. Di bawah kepemimpinannya, KKP mencetak rekor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tertinggi sepanjang sejarah. Pada 2016, PNBP sektor kelautan dan perikanan mencapai Rp 360,86 miliar. Angka itu meningkat hampir lima kali lipat dari PNBP 2015 yang hanya Rp 77,49 miliar.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Menurut Susi, era media sosial seperti saat ini seharusnya bisa berkontribusi lebih untuk proses pembelajaran. Oleh sebab itu, lanjut Susi, jangan sekali-kali menggunakan media sosial untuk memupuk kebencian. Namun pergunakanlah untuk terus belajar, belajar dan belajar.

“Memakai platform medsos itu jangan cuma untuk chatting yang enggak ada gunanya. Tapi chatting untuk menambah pengetahuan, knowing nothing, knowing new thing, many thing,” tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63