Peneliti LIPI: Politisi 'Kutu Loncat', Parpol seperti Event Organizer

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
LIPI merilis hasil survei yang dilakukan pada 26 April hingga 9 Mei 2018. (Foto: Fachrul Irwansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
LIPI merilis hasil survei yang dilakukan pada 26 April hingga 9 Mei 2018. (Foto: Fachrul Irwansyah/kumparan)

Perpindahan anggota atau kader partai politik (parpol) ke parpol lainnya mewarnai babak pendaftaran Pileg 2019. Ada beragam alasan para politisi itu menyeberang ke parpol lain. Mulai dari tidak sejalan lagi dengan parpol yang lama, dipecat, hingga dualisme kepengurusan.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menyayangkan fenomena 'kutu loncat' ini. Menurutnya, fenomena ini akan menghasilkan anggota legislatif yang buruk karena menjadikan partai politik seperti event organizer (EO).

“Sangat jelas dampaknya menghasilkan caleg yang tidak berkualitas untuk pileg jika terpilih. Bagi parpol itu tidak lebih sebagai EO. Ini suatu langkah mundur bagi bangsa kita,” kata Syamsuddin dalam Sosialisasi Hasil Survei Publik 'Partisipasi, Kepemimpinan Politik dan Masa Depan Demokrasi' di Hotel Century Park, Jakarta Selatan, Kamis (19/7).

Ia merasa prihatin dengan fenomena tersebut. Karena menurutnya itu menunjukkan kualitas moral politisi rendah.

“Kedua menunjukkan pragmatisme politik luar biasa, sehingga seolah-olah kapan saja politisi bisa pindah-pindah parpol. Padahal itu sama sekali tidak patut, tidak etis dilakukan,” kata Syamsuddin.

Selain itu, ideologi politisi yang berpindah partai juga belum jelas apakah sejalan dengan partai yang baru atau tidak. Apalagi jika isu adanya biaya perpindahan yang mencapai miliaran rupiah.

“Ini lebih gila lagi kalau isu bahwa caleg itu pindah parpol dengan nilai transfer dalam hitungan miliar rupiah. Bagi saya sudah gilalah,” kata Syamsuddin.

Kasus transfer politisi diungkap oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan. Zul menyebut Lucky Hakim yang merupakan anggota DPR dari PAN menyeberang ke NasDem sebagai caleg pada Pemilu 2019 dengan "nilai transfer" Rp 5 miliar.