Pencarian populer

Kejanggalan Selimuti Kematian Terduga Teroris Jefri

Terduga teroris M Jefri. (Foto: Dok.Ardilla Sholihatun Nisa)

Terduga teroris Muhammad Jefri (31) tewas setelah ditangkap Detasemen Khusus Mabes Polri 88 di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (7/2). Ia dituduh terlibat sejumlah aksi teror. Meski demikian, kematian Muhammad Jefri terbilang misterius.

Jefri diketahui ditangkap oleh Detasemen khusus 88 Mabes Polri lantaran diduga menjadi bagian dari kelompok binaan Ali Hamka, seorang narapidana teroris yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Selain itu, polisi menyebut, Jefri diduga bagian dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Istri Jefri, Ardilla Sholihatun Nisa (18) membeberkan sejumlah fakta terkait kematian suaminya.

Kepada kumparan, Ardilla bersedia bercerita banyak. Dia memberikan keterangan lengkap, dari momen Jefri yang ditangkap hidup-hidup oleh polisi hingga berujung meninggal dunia di rumah sakit.

Ardilla masih tak percaya bahwa suaminya, Jefri, secepat itu meninggalkannya. Padahal, pagi itu, Rabu (7/2) sekira pukul 08.00 WIB, Jefri hanya keluar rumah untuk membeli gas.

"Sampai sore itu belum pulang-pulang, sampai setelah ashar, ada beberapa orang menemui bapak saya, sekitar dua orang mereka bertanya tentang suami saya, padahal mereka itu orang asing, saya tidak kenal dengan mereka," ujar Ardilla saat dihubungi kumparan via aplikasi WhatsApp, Sabtu (17/2).

Densus 88 Antiteror (Foto: ANTARA FOTO/Idhad Zakaria)

"Mereka (orang-orang asing itu) langsung tanya, 'Jefri ditahan ya Pak? bisa lihat fotonya?' begitu kata mereka, terus bapak saya bilang 'saya enggak tahu, dia lagi cari gas'. Saya tidak pernah majang foto di rumah, enggak ada foto di sini," kata Ardilla meniru ucapan ayahnya.

"Terus mereka tanya 'anak-istrinya ada di sini atau tidak?'. Lalu saat itu saya mulai khawatir dengan suami saya, ada apa ini?" sambungnya.

Ardilla panik, ia menghubungi tempat tujuan Jefri membeli gas. Ternyata, Jefri tidak pernah benar-benar sampai ke lokasi itu.

Hingga keesokan harinya, setelah melihat pemberitaan di salah satu media online, Ardilla membaca kabar penangkapan seorang terduga teroris di Indramayu, Jawa Barat. Dia yakin betul itu suaminya.

"Ada penangkapan di daerah sekitar rumah saya, sekitar jam 08.15 WIB, saya yakin itu suami saya karena ciri-ciri sama, dia pakai motor Honda Supra Fit, dan bawa gas," tutur Ardilla.

Untuk mengetahui fakta apakah benar Jefri ditangkap polisi atau tidak, Ardilla segera menemui pihak berwajib. Dia meminta untuk segera dipertemukan dengan Jefri.

Keinginan mereka untuk bertemu Jefri dikabulkan, namun, dengan cara yang lain. Ardilla dipertemukan dengan jenazah Jefri di RS Bhayangkara Jakarta Timur.

"Setelah kami ikut. Ibu saya langsung menangis, 'Kenapa kami dibawa ke sini, mana menantu saya?' Setelah itu mereka bilang kami suruh ikut lagi untuk melihat suami saya, saat itu saya belum tahu bahwa suami saya telah tiada," kenangnya.

"Mereka juga beritahu suami saya katanya terlibat kasus teror, entahlah selama ini saya tidak pernah tahu itu, dan itupun baru terduga. Di situ pun saya baru diberitahu bahwa suami saya telah wafat. Perasaan kaget, syok, enggak percaya, lemas menjadi satu, membuat pikiran saya kacau, saya tidak dapat berfikir jernih," tuturnya.

Saat dibawa ke RS, Ardilla menuturkan, polisi sempat menanyakan riwayat penyakit Jefri. Dari situ, Ardilla semakin cemas. Ardilla sekeluarga juga tidak boleh mengaktifkan telepon genggam atau mengambil gambar.

"Mereka tanya apa suami saya sakit liver,jantung,paru-paru atau punya penyakit lainnya. Saya bilang, enggak pernah dia punya penyakit seperti itu. Gejala-gejalanya pun enggak pernah saya lihat pada dirinya," ujar Ardilla.

Akhirnya, Ardilla dan mertuanya sepakat untuk memasuki ruangan tersebut. Mereka lalu bertemu dengan seorang dokter dan beberapa orang lainnya.

Ketika tiba saatnya Ardilla dan jasad Jefri dipertemukan, ia sempat ditawarkan apakah ingin membuka seluruh kain kafan suaminya. Namun, mertua Ardilla menolaknya.

Setelah Ardilla melihat jenazah suaminya di kamar mayat, keesokan harinya, jasad Jefri tiba di Lampung untuk dikebumikan di tempat orang tua dan keluarganya tinggal.

Ilustrasi jenazah (Foto: Thinkstock)

"Setelah itu, suami saya langsung dibawa untuk pemakaman di Lampung, mereka menawarkan untuk kami ikut, akhirnya kami ikut dengan dikawal beberapa mobil, enam mobil kalau tidak salah itu sudah termasuk mobil jenazah dan satu bus besar, berarti mobil pribadi sekitar empat buah," tuturnya.

Pihak keluarga kembali meminta untuk melihat jenazah Jefri untuk terakhir kali, namun kali ini permintaan itu ditolak.

"Permintaan itu tidak sama sekali dihiraukan, kami sangat kecewa tentunya, karena sebelumnya mereka sudah menjanjikan bahwa kami boleh melihatnya kembali setelah sampai Lampung. Cepat sekali prosesnya, setelah sampai beberapa menit kemudian langsung dimakamkan suami saya," ungkap dia.

Peristiwa itu membuat Ardilla kecewa dengan polisi. Saking kecewanya dengan polisi, Ardilla menginginkan agar Densus 88 segera dibubarkan.

"Agar tidak terjadi lagi kasus semacam ini. Ini menyangkut nyawa seseorang," tuturnya.

Konfrensi pers teroris di Humas Polri. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Respons Kepolisian

Kesaksian Ardilla, jelas berbeda dengan pernyataan polisi yang mengatakan suaminya mati karena murni sakit jantung

"Pada 13 Februari 2018 hasil autopsi disimpulkan penyebab kematian adalah serangan jantung dengan riwayat penyakit jantung menahun," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto saat konferensi pers di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (15/2).

Hanya saja, Setyo tidak menunjukkan kepada wartawan surat dari tim dokter RS Polri Kramat Jati terkait hasil autopsi yang menunjukkan Jefri meninggal karena serangan jantung.

Setyo mengatakan, Jefri ditangkap Densus 88 pada Rabu (7/2) pukul 15.17 WIB di Indramayu, Jawa Barat. Jefri ditangkap karena diduga terlibat sejumlah aksi teror di Mapolres dan Mako Brimob Toli-Toli, Sulawesi Selatan.

Setelah ditangkap, polisi kemudian meminta Jefri menunjukkan tempat rekan lainnya bersembunyi. Di tengah perjalanan, Jefri mengeluhkan sesak pada dadanya.

"Pada pukul 18.00 WIB tanggal 7 Februari dibawa ke klinik terdekat di Indramayu. Namun, kita juga ikut prihatin pada pukul 18.30 WIB berdasarkan keterangan dokter di klinik, tersangka meninggal dunia," jelas Setyo.

Jenazah Jefri lalu dibawa ke RS Polri Kramat Jati dan diserahkan ke tim dokter pada 9 Februari 2018 untuk diautopsi. Jenazah Jefri diserahkan ke keluarga yang diwakili oleh ayahanda dan istri Jefri.

"Atas kesepakatan keluarga, jenazah dimakamkan di Pemakaman Kapuran, Kota Agung, Lampung, pada Sabtu 10 Februari 2018 pukul 06.15 WIB," ucap Setyo.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55