kumparan
30 Nov 2018 11:45 WIB

Pengakuan Produsen DVD Koplo: Tak Ada Lagu Murah, 1 Lagu Rp 5 Juta

Ilustrasi musik koplo. (Foto: kumparan)
Sayang opo kowe krungu jerite atiku mengharap engkau kembali sayang nganti memutih rambutku ra bakal luntur tresnaku.
ADVERTISEMENT
Potongan lagu ‘Sayang’ yang dipopulerkan Via Vallen itu berkumandang keras dari sebuah lapak penjual Disc Video Recorder (DVD) di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (29/11). Ketika penjual memasukkan satu keping ke mesin pemutar, muncul Via Vallen di layar televisi. Dia bergoyang diiringi band New Monata asal Jawa Timur.
“Kalau yang asli, harganya Rp 15 ribu, yang bajakan Rp 7 ribu,” ucap penjual keping DVD yang menolak menyebut namanya kepada kumparan.
Di tengah berkembangnya era digital, keping DVD masih menjadi salah satu medium untuk menikmati dangdut koplo. Terlihat pembeli silih berganti berbelanja di lapak berukuran kurang lebih 3 kali 3 meter itu.
Adi (40) salah satu produsen mengaku, era kejayaan DVD dangdut sudah berlalu. Tepatnya enam tahun yang lalu. Meski begitu, bersama timnya di MMSC Records di Surabaya, Jawa Timur, ia tetap menjadi mitra produksi video untuk orkes New Monata.
Ilustrasi dvd dangdut koplo. (Foto: Sabar Artiyono/kumparan)
“Kan masih banyak penikmat live music, jadi kami (MMSC Records) mengajukan proposal ke New Monata, hingga dari mitra lalu masuk management,” ujar Adi melalui sambungan telepon, Rabu (28/11).
ADVERTISEMENT
Tidak semua aksi panggung orkes Monata dibuat versi video. Hanya project-project tertentu.
“Pertimbangannya untuk di-record atau tidak, itu ya matematika musik. Kalau ada yang bisa dibenahi ya dibenahi, kalau tidak layak ya sudah disingkirkan,” ucap Adi.
Ia menambahkan, kepiawaian musisi merupakan pertimbangan utama dalam menentukan apakah konser New Monata dibuat versi video atau tidak.
Nama-nama penyanyi seperti Ratna Antika, Rena KDI, Fajar Agustin, Nasya Akhila, Laili Yolita, dan Rere Amora pernah masuk dari project videonya.
Sebelum memulai rekaman, ia harus memastikan izin dari penyelenggara. Jika perlu, maka ia dan timnya akan mendekor panggung dan keperluan lainnya.
Ilustrasi dvd dangdut koplo. (Foto: Sabar Artiyono/kumparan)
“Pas eksekusi kita barengan, tim audio dan video bekerja,” ungkap Adi.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, proses selanjutnya review bagian audio untuk menentukan di-dubbing atau tidak. “Sejauh ini yang penting di vokal, suling, sama bass, kalau tidak salah-salah banget ya tidak perlu di-dubbing,” tambah Adi.
Rata-rata biaya produksi pembuatan satu album oleh MMSC Records berkisar antara Rp 60 hingga Rp 100 juta. Dalam satu album minimal ada sepuluh lagu.
“Saya bikin project video untuk New Monata sekitar 12 album dengan rata-rata modalnya Rp 60 sampai Rp 100 juta per album. Angka itu di luar perizinan lagu,” ujar pria lulusan SMA itu.
Ia selalu memastikan lagu-lagu yang masuk dalam albumnya diurus perizinannya. Jika ada sepuluh lagu dalam satu album, maka semuanya diurus satu per satu izinnya.
ADVERTISEMENT
“Sekarang tidak ada lagu murah (untuk izinnya)." kata Adi sambil tertawa. "Kisarannya untuk izin itu mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta per lagu,” sambungnya.
Angka itu hanya untuk perizinan produksi fisik. Apabila aada konten yang diunggah ke YouTube, ia menjelaskan perizinannya berbeda karena banyak pihak yang terlibat.
Ilustrasi dvd dangdut koplo. (Foto: Sabar Artiyono/kumparan)
Untuk penjualannya sendiri, Adi masih menggunakan pendekatan tradisional. Strategi andalannya adalah mengirimkan ke distributor atau agen-agen.
“Untuk harga per keping DVD dijual Rp 6.750, itu harga grosir ke agen. Kalau harga jual itu rahasia. Paling ditulis Rp 10 ribu di DVD-nya,” ungkap Adi.
Ia tidak menjelaskan secara spesifik keuntungan dari penjualannya. Sebab, tidak semua DVD diproduksi untuk mengejar keuntungan. Setiap album juga jumlah produksinya berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
“Produksi tergantung, ada yang 3 ribu, 5 ribu, 20 ribu keping berhenti. Tujuannya juga beda, kadang untuk promosi, ya sudah kita korban (uang) saja,” tuturnya.
Adi mengatakan, dia hanya bertanggung jawab untuk video New Monata saja. Untuk acara off air lainnya ia tidak mengetahuinya.
“Kan ada tuan rumah bikin recording sendiri, kalau di luar project Monata saya tidak tahu,” pungkas Adi.
Simak cerita selengkapnya dalam topik Orisinalitas Koplo.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan