Pencarian populer

Penjaga Bantah Rumah di Proklamasi 36 Jadi Pangkalan Anak Buah Kivlan

Suasana di rumah Jalan Proklamasi nomor 36, tempat yang disebut menjadi pangkalan tersangka Hadi Kurniawan alias Iwan. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Tersangka kepemilikan senjata dan eksekutor rencana pembunuhan sejumlah tokoh nasional, Hadi Kurniawan (HK) alias Iwan, mengaku memiliki pangkalan di sebuah rumah di Jalan Proklamasi Nomor 36, Jakarta Pusat. Namun, sejumlah penjaga rumah membantah pengakuan Iwan.

Salah satunya adalah Heri. Ia bahkan mengaku tak mengenal sosok Iwan.

"Kalau dengar Iwan-Iwan, itu bohong. Di sini jujur, apalagi pangkalan. Itu enggak ada," kata Heri saat ditemui kumparan di lokasi, Rabu (12/6).

Heri menjelaskan, sejak bertugas dua bulan lalu, rumah itu sudah dalam keadaan kosong dan tidak memiliki kegiatan apa pun. Heri juga tidak mengetahui kegiatan yang dilakukan di rumah tersebut sebelum ia bertugas.

Suasana di rumah Jalan Proklamasi nomor 36, tempat yang disebut menjadi pangkalan tersangka Hadi Kurniawan alias Iwan. Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

"Wah, enggak tahu, saya, saya ke sini sudah (keadaan) kosong, enggak ada apa-apa," ucapnya.

Penjaga lainnya, Tole Suarez, juga menyangkal pengakuan tersangka Iwan.

"Ini bukan posko, 01 atau 02, bukan. Tidak ada kaitannya. Jadi kalau (pengakuan) Iwan itu enggak ada," kata Suarez.

Rumah ini hanya berjarak sekitar 500 meter dari Rumah Aspirasi Rakyat, salah satu posko pemenangan Jokowi-Ma'ruf, yang berlamat di Jalan Proklamasi 46.

Video

Peran Iwan

HK alias Hadi Kurniawan alias Iwan diduga berperan sebagai pemimpin untuk mencari senjata api sekaligus mencari eksekutor kerusuhan. Eks anggota TNI ini ditangkap pada 21 Mei pukul 17.00 WIB di lobi Hotel di Megaria, Cikini, Jakarta Pusat.

Iwan juga mengaku diperintahkan mantan Kepala Staf Kostrad ABRI Mayjen Purnawirawan Kivlan Zen untuk membunuh empat tokoh nasional, yakni Menkopolhukam Wiranto, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, Stafsus Presiden Gories Mere, dan KaBIN Budi Gunawan, serta Yunarto Wijaya dari lembaga survei Charta Politika.

Iwan sempat dipanggil Kivlan untuk bertemu di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam pertemuan itu, Kivlan meminta Iwan untuk mencari senjata.

"Saya diberi uang Rp 150 juta untuk pembelian alat, senjata, yaitu senjata laras pendek dua pucuk, laras panjang dua pucuk. Uang Rp 150 juta dalam bentuk dolar Singapura saya langsung tukar," jelasnya.

Selain itu, Iwan juga menyebutkan bahwa rumah di Jalan Proklamasi 36 sebagai pangkalannya saat kerusuhan di depan Bawaslu terjadi.

"Saya bawa (senjata) memang untuk aksi demo, tujuan saya adalah untuk apabila menemukan massa tandingan dan membahayakan anak buah saya, maka saya bertanggung jawab untuk mengamankan seluruh anak buah saya. Dan 21 (Mei) itu itu adalah demo di KPU massa belum ramai. Saya kembali ke pangkalan di Jalan Proklamasi nomor 36," ucap Iwan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36