kumparan
18 Okt 2018 19:39 WIB

Perbatasan Irlandia-Inggris Menjadi Isu Utama Brexit

Ilustrasi Brexit (Foto: daniel_diaz_bardillo)
Keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang disebut dengan Brexit masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Mayoritas masyarakat Inggris yang mengikuti referendum pada Juni 2016 memilih agar Inggris keluar dari Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
Setelah hasil dari referendum keluar, negosiasi antara Uni Eropa dan Inggris mulai dilakukan sejak Juni 2017 dan diharapkan dapat mencapai kesepakatan pada bulan ini, Oktober 2018. Inggris sendiri akan benar-benar keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019 23.00 waktu Eropa bagian tengah, atau kurang dari 200 hari lagi.
Saat ini pertemuan tingkat tinggi untuk membicarakan tentang Brexit sedang dilakukan di ibukota Uni Eropa, Brussels, Belgia. Pertemuan ini dilakukan untuk membicarakan masa depan hubungan antara Inggris dan negara Uni Eropa lainnya. Selain isu tentang ekonomi, politik, keamanan, dan sektor-sektor lainnya, salah satu isu yang harus melewati perdebatan alot adalah isu mengenai perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara yang masuk ke dalam wilayah Inggris.
ADVERTISEMENT
Setelah Inggris secara resmi meninggalkan Uni Eropa, Irlandia Utara tidak akan menjadi bagian dari Uni Eropa lagi. Meski kedua belah pihak setuju tidak akan ada infrastruktur fisik yang akan dibangun untuk memisahkan kedua wilayah, tapi Inggris tetap ingin mengontrol orang-orang dan barang-barang yang melewati perbatasan.
Hal tersebut dapat membuat masalah mengingat masyarakat Irlandia Utara merasa bagian lain dari Inggris, tapi juga merasa satu dengan Irlandia secara keseluruhan. Sehingga pemisahan kedua wilayah akan menjadi sulit.
Perbatasan dan pengecekkan di antara kedua wilayah tersebut sudah dihapuskan sejak 1998. Sebelumnya terjadi konflik antara Inggris dan Irlandia yang menyebabkan tewasnya sekitar 3.500 orang. Adanya perbatasan dapat memunculkan kembali konflik oleh orang-orang yang belum bisa menerima perdamaian yang diusulkan.
ADVERTISEMENT
Uni Eropa menginginkan perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara tetap dapat terbuka ketika Inggris sudah meninggalkan Uni Eropa. Masyarakat dan pelaku bisnis yang ada dalam radius 500 kilometer dari perbatasan Irlandia dan Irlandia Utara juga menekankan betapa pentingnya mempertahankan arus bebas perdagangan dan masuk keluarnya orang-orang. Setidaknya ada 30.000 orang yang melewati perbatasan ini setiap harinya untuk bekerja. Mereka tinggal di satu sisi Irlandia dan bekerja di sisi lainnya.
Menyadari hal tersebut, Uni Eropa menginginkan Irlandia Utara, yang terpisah dari bagian Inggris yang lain, tetap mengikuti aturan pasar Uni Eropa dengan menerapkan standar kualitas dan tarif yang sama meskipun nantinya sudah keluar dari Uni Eropa.
Theresa May (Foto: AFP/Daniel LEAL-OLIVAS)
Namun Perdana Menteri Inggris Theresa May tidak bisa menerima hal tersebut karena jika tidak ada kontrol di antara Irlandia dan Irlandia Utara, maka Inggris harus membuat batas pada laut Irlandia untuk mengecek barang-barang dan orang yang masuk ke pulau utama Inggris. Hal tersebut akan membuat Irlandia Utara terasingkan dari wilayah Inggris lainnya. May tidak menginginkan adanya perbedaan peraturan di wilayah Inggris.
ADVERTISEMENT
May sendiri dapat memenuhi keinginan Uni Eropa tersebut jika Inggris bisa mendapatkan perjanjian dagang baru dengan Uni Eropa. Ia mengatakan bahwa Inggris dan Uni Eropa dapat membuat perjanjian bea cukai sementara sampai akhir Desember 2021. Namun negara-negara Uni-Eropa menolak karena mereka menginginkan perjanjian yang tidak memiliki batasan waktu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan