Pencarian populer

Pidato Prabowo Sebut Hardi Bunuh Diri karena Utang, Keluarga Keberatan

Rumah keluarga Hardi di Grobogan. (Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan)

Dusun Dalingan, Desa Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah nampak sepi. Tak banyak aktivitas dari warga yang tinggal di sana. Hanya satu dua orang yang lalu lalang. Rumah warganya, rata-rata berbentuk joglo dengan material utamanya kayu.

Pada Selasa (22/1), kumparan bertandang ke salah satu rumah di dusun itu yang dihuni Supinah (54). Janda beranak empat yang mendiang suaminya, Hardi (56) menjadi perbincangan usai disebut Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pidato kebangsaannya.

Supinah mengenakan daster berwarna hitam dengan corak bunga merah muda. Ia sedang memasak sayur di dapur rumahnya. Rumahnya sederhana, jauh dari mewah.

"Masuk saja, Mbak. Maaf masih semrawut," Supinah mempersilakan masuk untuk berbincang soal penyebutan nama almarhum suaminya oleh Prabowo Subianto.

Supinah mengaku bingung dengan berita yang beredar dan menyebutkan jika suaminya, Hardi, bunuh diri akibat kondisi ekonomi dan terlilit utang.

"Lha ya saya juga tidak tahu, kemarin tetangga pada marah-marah ndak terima Bapak dibilang seperti itu," ujar Supinah. "Wong tetangga juga tahu Bapak orangnya baik dan memang pendiam."

Prabowo dalam pidato kebangsaannya pada Senin (14/1), menggambarkan potret kemiskinan Indonesia. Mantan Danjen Kopassus itu kemudian mengambil contoh kematian Hardi. Menurut Prabowo, peristiwa bunuh diri Hardi pada tahun 2017 akibat terlilit utang dan dikejar penagih.

"Saudara-saudara sekalian, beberapa waktu yang lalu saya mendapat laporan, seorang buruh tani, seorang bapak, seorang kepala keluarga, namanya Hardi, di desa Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya," kata Prabowo pada saat itu. "Almarhum gantung diri meninggalkan istri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar hutang. Karena beban ekonomi dirasa terlalu berat."

Supinah istri Hardi. (Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan)

Supinah tidak terima kematian suaminya dijadikan bahan kampanye Prabowo membahas soal kemisikinan. "Lha dia (Prabowo) harusnya kalau tahu ada yang kesulitan, ndak usah diomong-omongkan ke orang. Kan tinggal dibantu saja he he he," ujar Supinah.

Menurut Supinah, apa yang disampaikan Prabowo itu tidak benar. Pascakematian suaminya, tidak pernah ada orang yang menyambangi rumahnya untuk menagih utang. Akan tetapi, Supinah tidak menampik jika dirinya memiliki utang. Namun, utangnya tidak sebesar berita tentang kematian suaminya.

"Yang namanya utang itu kan lumrah, ya ada, tapi sedikit. Wong jual satu pohon dari tegalan (pohon jati di kebun) saja insyaallah sudah bisa nutup," kata dia.

Supinah ternyata memiliki sebidang tanah yang ditanami pohon jati dan sawah. Dia tidak hafal berapa luas kebun yang dimilikinya. Namun yang pasti, Supinah mengatakan dari hasil kebun itu sangat cukup untuk menghidupi keluarganya.

kumparan menengok sebidang tanah yang disebut oleh Supinah. Luasannya sekitar satu lapangan futsal. Separuh dari lahan kebun itu, berjajar rapi pohon jati yang batangnya belum terlalu besar. Separuh sisanya, masih kosong ditumbuhi rumput liar.

"Kalau ukuran meterannya saya nggak tau, patokannnya ya jati paling besar di ujung-ujungnya. Ini tanah turunan," kata dia.

Supri, putra ketiga pasangan Hardi dan Supinah menunjukkan Tegalan atau Kebun Jati milik keluarga Hardi, warga Grobogan yang disebut Capres 02 bunuh diri karena terlilit hutang dan kelaparan. (Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan)

Diceritakan Supinah, tanah itu tersebut memang dimiliki turun-temurun dari orang tua Hardi. Kelak nanti, jika Supinah sudah tidak mampu mengurusnya juga akan diserahkan ke anak-anaknya

"Bapak (Hardi) itu ngomongnya begini, 'biar saja kita nggak usah bangun rumah bagus, biar nanti anak-anak saja kalau mereka mau bangun rumah ya silakan'," ujarnya mengenang.

Kenangan Supinah dengan Hardi

Supinah mengatakan, Hardi merupakan seorang pekerja ladang. Mendiang suaminya itu jarang berdiam diri di rumah. Selain merawat sawah dan kebun, Hardi sering membuat perabotan rumah tangga seperti bangku hingga rak piring dari bambu.

"Ya ini perabotan di rumah juga hampir semuanya Bapak yang bikin, kursi-kursi dari bambu," ujar Supinah. "Pagi bangun, mandi, makan sama minum teh, nanti ke sawah, di rumah ya ada saja kerjaannya."

Sebelum ditemukan meninggal, kata Supinah, beberapa hari sebelumnya Hardi sempat meminta anaknya membeli peralatan untuk membetulkan pintu rumahnya. "Bapak minta belikan gergaji untuk benerin pintu, ya tapi belum sempat dibetulkan sudah nggak ada," katanya.

Supinah kaget begitu mendengar suaminya gantung diri di salah satu pohon di kebunnya. Padahal, sebelumnya sama sekail tidak ada keluhan apa-apa yang disampaikan suaminya itu.

Menurut Supinah, semasa hidup, suaminya itu berhubungan baik dengan tetangga. Apalagi, lingkungan rumahnya masih memiliki hubungan saudara. Jarak dua rumah dari huniannya, juga ditinggali keponakan Hardi.

"Malah pagi itu sebelum meninggal, bapak sempat beli rokok. Ya rokoknya malah masih utuh. Ponakan saya juga gak nyangka," ujar dia.

Tegalan atau Kebun Jati milik keluarga Hardi, warga Grobogan yang disebut Capres 02 bunuh diri karena terlilit hutang dan kelaparan. (Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan)

Supinah mengaku menyayangkan Prabowo yang menyebut nama suaminya dan menjadikannya contoh dari gambaran perekonomian rakyat Indonesia. Padahal, Supinah mengklaim selama ini keluarganya hidup berkecukupan.

"Kalau dilihatnya dari rumah ya memang biasa, jelek gini, tapi kan kami makan juga setiap hari. Dibilang kelaparan gimana kan gak benar," ujarnya. "Kalau tahu ada rakyat yang susah ya dibantu, kan gitu. Malah diomongin se-Indonesia yang tidak benar. Ya saya juga gak nyalahin dia (Prabowo), cuma harusnya bisa cek dulu."

Supinah sendiri, sehari-harinya bekerja serabutan. Dia biasanya ikut membantu jika ada orang yang menggelar hajatan atau pesta pernikahan. "Kalau lagi nggak ada yang manggil, ya di rumah aja, ikut beresin sawah," ujar dia.

Penghasilannya keluarga Supinah, berasal dari hasil panen sawah. Dalam setahun, panen bisa mencapai tiga kali. Sekali panen, Supinah mendapat sedikitnya Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Belum lagi dari hasil penjualan pohon jati.

"Kalau jati, satu pohonnya yang sudah agak besar itu bisa Rp 4 juta. Lain-lain ya didapat kalau saya rewang hajatan. Kalau anak-anak, sudah mandiri semua," ujarnya.

Ada pesan yang hingga kini diingat oleh Supinah. Menurutnya, sehari sebelum suaminya meninggal, dia dipesani untuk menjaga diri. Suaminya berpesan agar Supinah selalu merendam kakinya dengan air panas dan larutan garan jika kelelahan.

"Bapak orangnya nggak neko-neko, sakit ya paling hanya sakit gigi. Rumah ini ya apa adanya, sesuai keinginan bapak," kata dia.

Supinah berharap, siapapun pemimpin dan calon pemimpin tidak asal menjadikan kesengsaraan rakyat sebagai contoh untuk kampanye. Menurut dia, lebih baik bertindak dan datang langsung menyampaikan bantuan jika memang menemukan rakyat yang kesulitan.

"Ya kalau memang benar kami banyak utang dan kelaparan ya dibantu, dikasih beras yang banyak, ditutup utangnya. Tapi kan nyatanya kita nggak kelaparan," kata dia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60