Pencarian populer

Pileg Bersamaan dengan Pilpres Ibarat Sunatan Mengundang Via Vallen

Dikusi dengan tema 'Apa Kabar Pileg'. Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan

Dalam pemilu serentak 2019, perhatian masyarakat seolah lebih berfokus pada pilpres daripada pileg. Anggota DPR RI Mahfuz Sidik mengatakan saat ini kontestasi pemilihan legislatif seolah tenggelam dengan hinggar bingar pilpres. Bahkan, kata dia, denyut pileg belum terasa di sejumlah daerah.

"Rasanya kalau kita keliling di berbagai daerah, mencoba meraskaan denyut pileg, itu jauh kalah dengan denyut pilpres. Bukan saja atensi, partisipasi masyarakat pemilih, tetapi partai dan caleg-caleg juga seperti tenggelam, tergerus oleh arus besar," kata Mahfuz dalam diskusi 'Apa Kabar Pileg' di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2).

Mahfuz mengibaratkan kontestasi pileg seperti acara sunatan yang mengundang artis terkenal, Via Vallen. Menurutnya, tamu undangan yang datang akan lebih fokus terhadap artis yang diundang daripada acara utamanya.

"Ini seperti seorang anak pengantin sunatan, terus biar rame ngundang Via Vallen. Jadi akhirnya sebelum acara khitanan itu, yang diperbincangkan masyarakat adalah bukan si 'anu' mau khitan. Memang banyak orang datang, tapi sebagian kecilnya datang ke orang yang mau sunat, sebagian besar sisanya ke Via Vallen," ujarnya.

Selain itu, Mahfuz menyebut bahwa dua paslon capres cawapres lebih mudah dikenal dibandingkan ribuan caleg yang bertarung di pileg. Masyarakat perlu memberikan perhatian lebih untuk mengenali calon wakil rakyatnya itu.

"Mengenali dua orang capres dan dua orang cawapres lebih mudah daripada mengenali ribuan calon anggota DPR. Artinya masyarakat harus punya ruang perhatian, ruang partisipasi lebih besar di pileg. Dia harus mengidentifikasi 8 ribu orang, belum yang provinsi dan kabupaten kota," tutur dia.

Sementara itu, Peneliti Politik Perludem, Heroik M. Pratama mengatakan tujuan awal pemilu serentak untuk menjalankan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pemilu serentak diharapkan mempengaruhi efisiensi anggaran politik.

"Kita lihat meskipun putusan MK no 14 itu bagaimana desain pemilu serentaknya. Ada dua tujuan yang ingin dicapai," ungkapnya.

"Pertama soal efisiensi tadi, meskipun politik butuh anggaran tapi postur anggaran pemilu dibiayai penyelenggara. Esensi utama pemilu serentak untuk efektivitas pemerintahan," ucapnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60