kumparan
23 Okt 2018 10:31 WIB

PKB soal Pembakaran Bendera oleh Banser: Bentuk Kecintaan Pada NKRI

Abdul Kadir Karding-PKB. (Foto: Darin Atiandina/kumparan)
Video pembakaran bendera oleh Banser saat perayaan Hari Santri Nasional di Garut viral di media sosial. Banyak pihak yang mempermasalahkannya, sebab bendera itu juga bertuliskan lafaz 'lailahaillalah'.
ADVERTISEMENT
Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding meluruskan polemik pembakaran bendera tersebut. Menurutnya, pembakaran yang dilakukan GP Ansor itu bentuk kecintaan Banser terhadap NKRI.
Loading Instagram...
"Simbol saja simbol kecintaan mereka terhadap NKRI. Karena mereka menganggap salah satu organisasi yang membahayakan NKRI ini, HTI," kata Karding saat dihubungi, Selasa (23/10).
Kendati demikian, Karding sebagai warga NU juga menghimbau agar tindakan seperti itu tidak lagi dilakukan sebab rentan menjadi kontroversi di masyarakat. Seperti dalam kasus itu, Banser dinarasikan seakan-akan membakar kalimat tauhid.
"Saya berharap langkah seperti ini tidak perlu dilakukan lagi karena tentu maksud baik juga dipahami baik di masyarakat justru dipahami lain sehingga itu merugikan bagi banser itu sendiri," ucap dia.
ADVERTISEMENT
Karding mengakui membakar bendera HTI yang dinilai sebagai kalimat tauhid itu sangat sensitif dan berbahaya. Apalagi, di tahun politik pasti ada pihak yang mengelolanya menjadi sebuah narasi politik.
Karding menegaskan bahwa tidak ada niat Banser untuk membakar kalimat tauhid, namun lebih kepada semangat dan militansi untuk menjaga keutuhan NKRI dari rong-rongan paham yang bertentangan dengan ideologi negara.
Banser dan Ansor. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Karena itu, agar tidak terus menjadi polemik, Ansor sebagai organisasi harus menjelaskan kepada publik terkait insiden pembakaran itu.
"Nanti Banser sama kelompok-kelompok tertentu jadi berhadap-hadapan," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan