Polemik WNI Pertama yang Mendaki Everest: Ada Clara Sang Wanita Baja
12 Oktober 2018 15:13 WIB
0
0
Clara Sumarwati Clara Sumarwati (paling kanan) (Foto:Istimewa)
Dunia maya dihebohkan oleh pernyataan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera di acara ‘Mata Najwa’, Rabu (10/10) malam. Di acara itu, inisiator gerakan #2019GantiPresiden itu menyebut Prabowo adalah orang Indonesia pertama yang mendaki Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet.
“Prabowo sudah membuktikan kualitasnya, 26 April 1997 ketika tidak ada satu orang pun yang mampu menaklukkan Everest, Prabowo dengan tim Kopassus-nya mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia, itu ciri kepemimpinan utama,” ujar Mardani menggebu-gebu.
Ucapan Mardani menjadi perbincangan di dunia maya. Perbincangan itu mengarah ke pertanyaan benarkah Prabowo dan tim Kopassus-nya termasuk Asmujiono adalah orang Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di puncak Everest.
Namun, beberapa warganet mengunggah capture dari laman Everest Summiteers Association. Website tersebut merupakan milik sebuah organisasi nonprofit yang mencatat nama para pendaki yang pernah mencapai puncak Everest.
Di laman itu tercatat, orang Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di Everest adalah Clara Sumarwati pada 1996.
“Indonesia pertama untuk mendaki ke puncak Gunung Everest adalah seorang wanita, Clara Sumarwati pada tahun 1996,” ujar @hermansaksono, seorang warganet di Twitter.
Setelah ramai menjadi perbincangan, kemudian nama Clara dikaitkan dengan sebuah rumah sakit jiwa di Magelang. Clara disebut-sebut mengalami gangguan jiwa setelah mendaki Everest. Namun, kabar yang menyebut Clara mengalami gangguan jiwa hingga sekarang dibantah oleh salah satu kerabat Clara yang namanya minta diinisialkan.
“Kemarin juga bulan April sempat ke Jakarta menemui saya, keadaan sehat, enggak seperti yang diberitakan, sehat walafiat,” ujar orang dekat Clara berinisial M kepada kumparan, Jumat (12/10).
Clara Sumarwati, Gunung EverestNama Clara Sumarwati di situs Everest Summiteers Association (Foto:Screenshot)
M menuturkan Clara memang sampat mengalami gangguan mental. Namun hal itu tak berlangsung lama. “Sepulang dari Everest sempat dirawat karena tekanan, dia masuk RSJ yang dinyatakan gila, tapi enggak gila, waktu itu sekitar tiga bulan terus keluar,” imbuh M.
M menuturkan, sepulang dari Everest, Clara mengalami tekanan. “Pembunuhan karakter ada, fisik juga ada, (ada) beberapa bukti dia dapat ada pergesekan.” M tak merinci siapa yang menekan Clara secara psikis.
M melanjutkan, Clara saat ini aktif mengajar di sebuah sekolah di Yogyakarta. Sejak kuliah, Clara memang aktif dalam dunia pendidikan.
Gunung EverestPuncak tertinggi di dunia. Gunung Everest. (Foto:Tim Chong/Reuters)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: