kumparan
23 Okt 2018 23:56 WIB

Polisi Sudah Periksa 6 Saksi Terkait Kasus Pembakaran Bendera Tauhid

Kapolres Garut Budi Satria Wiguna. (Foto: Instagram @wigunabudisatria)
Polisi masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dalam kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut pada acara Hari Santri Nasional, Senin (22/10) lalu.
ADVERTISEMENT
Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah memeriksa enam saksi dalam kasus tersebut. Selain tiga pembakar bendera yakni A, N, dan F, penyidik juga sudah memeriksa tiga warga yang telah membuat laporan polisi terkait kejadian itu.
"Semuanya ada 6 (saksi yang sudah diperiksa), yang 3 (saksi) tambahan setelah masyarakat membuat dumas (aduan masyarakat)," ujar Budi di Garut, Selasa (23/10).
Budi menegaskan, hingga saat ini 3 pembakar bendera tersebut masih berstatus saksi. Namun pihaknya akan menentukan status ketiganya dalam gelar perkara yang rencana digelar mulai Selasa malam.
Ilustrasi Bendera Tauhid. (Foto: AFP/JEWEL SAMAD)
Dalam gelar perkara itu, lanjut Budi, polisi juga akan mencocokkan keterangan dari ketiga pembakar bendera itu dengan alat bukti yang telah diamankan, seperti korek api dan bekas bendera yang dibakar.
ADVERTISEMENT
"Malam ini kami ada rencana gelar terbuka kaitan dengan alat bukti yang dikumpulkan dari kemarin (seperti) korek api, bekas pembakaran karena sudah jadi abu," ucapnya.
Sebelumnya, salah seorang pelaku pembakaran bendera tauhid di Garut, Jawa Barat, telah meminta maaf ke masyarakat dan umat Islam. Pelaku itu menyadari apa yang telah dilakukannya membuat kegaduhan di masyarakat.
"Saya meminta maaf kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya umat Islam apabila peristiwa ini menjadi ketidaknyamanan," jelas salah seorang pelaku pembakaran di Polres Garut, Jawa Barat, Selasa (23/10).
Pelaku mengaku aksi pembakaran bendera tauhid ini bentuk spontanitas dirinya dan tak ada hubungannya dengan Banser. Ia meyakini bendera Tauhid yang ia bakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
ADVERTISEMENT
"Peristiwa pembakaran itu merupakan respons spontanitas tidak ada kaitannya sedikitpun dengan kebijakan Banser, itu mutlak respons kami. Kedua, bendera yang kami bakar saat HSN (Hari Santri Nasional) itu bendera yang terlarang yang dilarang pemerintah yaitu bendera HTI," jelasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·