Pencarian populer

Polri Bandingkan Kasus Novel dengan Pembunuhan Akseyna

Kadiv Humas Polri, M. Iqbal (tengah) saat memaparkan hasil investigasi Tim Gabungan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rabu (17/7). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Polri memberikan penjelasan terkait lamanya pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Hal ini sebagai bentuk jawaban dari tudingan dari berbagai pihak yang menyebut Polri tidak serius mengungkap kasus Novel.
ADVERTISEMENT
Bahkan Polri, membandingkannya dengan sejumlah kasus lain sebelum kasus Novel ini terjadi. Menurut Polri, tingkat kesulitan pengungkapan suatu kasus dengan kasus lainnya, berbeda.
"Memang tingkat kesulitan berbeda, saya sering sampaikan, publik harus paham. Teman-teman penyidik sudah periksa 74 saksi dan wawancara 40 orang, 38 CCTV diperiksa, 114 toko bahan kimia sudah diperiksa. Kemudian tim eksternal asistensi dari KPK," kata Kadiv Humas Polri, Irjen M Iqbal saat konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (17/7).
"Masalahnya banyak kasus yang cepat terungkap, tapi ada juga puluhan bahkan ratusan kasus yang belum terungkap sampai saat ini," lanjut Iqbal.
Iqbal mencontohkan kasus Akseyna, mahasiswa UI yang ditemukan tewas di danau kampus UI. Menurutnya, hingga saat ini belum diketahui penyebab kematian Akseyna, apakah dibunuh atau terbunuh.
ADVERTISEMENT
"Contoh kasus Akseyna, dibunuh atau terbunuh, di danau kecil UI," jelas Iqbal.
Kemudian, Iqbal mencontohkan kasus lain yang masih belum terungkap, siapa pelaku dan motifnya, yakni kasus pembacokan putra Brigjen Hendro Pandowo (pada saat itu menjabat Kapolrestabes Bandung).
"Satu lagi kasus pembacokan putra Brigjen Hendro Pandowo, luka luar biasa, sampai sekarang belum terungkap. Kita sudah olah TKP, apakah ini dikatakan Polri tidak serius," ujar Iqbal.
Pengungkapan setiap kasus yang ditangani Polri, lanjut Iqbal, berbeda-beda. Seperti pengungkapan kasus bom Kedubes Australia di Jakarta pada tahun 2003 dan Kedubes Indonesia di Paris pada 2004 silam.
"Bom di kedubes Australia, ini pertaruhan martabat bangsa. Tahun 2003 baru terungkap, itupun baru sebatas eksekutor, kasus ini Polri dengan semua kekuatan, dibantu Australia, FBI - CIA dan martabat bangsa dipertaruhkan. 2008 baru bisa ungkap mastermind nya. Itu menggambarkan apakah itu kurang serius?" tegas Iqbal
ADVERTISEMENT
"Lalu contoh kasus Kedubes RI di Paris, sampai hari ini tidak terungkap, apakah kita bilang kepolisian Paris tidak serius? Sabarlah, ini masalah waktu, jangan bawa kasus ini, ke asumsi, dan Kapolri akan bentuk tim ini 6 bulan bekerja," lanjut Iqbal.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80