kumparan
25 Jul 2019 21:58 WIB

Potensi Simpang Koalisi: Poros Gondangdia Vs Poros Teuku Umar

Surya Paloh dan Megawati Soekarnoputri. Foto: Dok. Nasdem dan Iqbal Firdaus/kumparan
Spekulasi terus bermunculan seusai rekonsiliasi Jokowi dan Prabowo. Belum sebulan berselang, sejak pertemuan mereka di stasiun MRT Lebak Bulus, muncul dua pertemuan yang dianggap sebagai simpang jalan antar koalisi politik seusai Pemilu 2019
ADVERTISEMENT
Yang pertama pada, Senin (22/7), pertemuan antara empat ketua umum partai (PKB, PPP, Golkar, dan Nasdem) di DPP NasDem, Jalan Gondangdia. Kedua adalah pertemuan antara Ketum PDIP, Megawati dan Ketum Gerindra, Prabowo Subianto di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar pada Rabu (24/7). Keduanya masih berada dalam satu kelurahan, yakni Kelurahan Menteng.
Pengamat berpendapat, pertemuan ini akan memunculkan potensi “simpang” jalan bagi para koalisi ke depan.
“Dari Gondangdia, disebut perlu soliditas koalisi, seakan-akan mereka tidak perlu partai baru yang masuk. Sementara di seberangnya, di Teuku Umar, ada pertemuan Prabowo dan Megawati, dan menyampaikan ada kecocokan dan kenyamanan. Itu satu ketersimpangan,” kata pengamat politik, Hanta Yudha, di Sekretariat KNPI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (25/7).
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) berpamitan kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (tengah) usai menggelar pertemuan tertutup di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Pada hari yang sama saat Prabowo bertandang ke rumah Megawati, Ketum NasDem Surya Paloh mengundang Anies Baswedan. Anies pada pilgub DKI Jakarta 2017 didukung oleh partai Gerindra.
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kanan) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di Kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (24/7). Foto: ANTARA FOTO/Fauzi Lamboka
Menurut Hanta, ada 1 tokoh yang jadi kunci pada kondisi ini. Ia adalah presiden terpilih Joko Widodo. Hanta melihat, Jokowi harus bisa bersikap lebih presidensial dengan kondisi ini.
ADVERTISEMENT
“Jokowi bilang di periode kedua ia tak ada beban. Catatan saya Jokowi harus lebih presidensial, tidak butuh citra, tidak butuh koalisi, jadi harus fokus tinggalkan legacy. Itu jadi kekuatan khusus Jokowi untuk tentukan sikap presidensial,” kata Hanta.
Direktur Eksekutif Poltracking, Hanta Yuda AR. Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan
Selain itu, jika Jokowi bisa merangkul semua tokoh tersebut merapat kepadanya, maka ia bebas dari tokoh ketum partai yang membayangi.
“Saya mau menuturkan begini, dengan adanya figur kuat di koalisi, semakin banyak figur yang berpengaruh, menguntungkan Presiden. Sehingga tak ada figur ketum partai yang membayangi,” tutup Hanta.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·