Pencarian populer

Prabowo-Sandi dan Upaya Tingkatkan Elektabilitas Lewat Sosok Pahlawan

Paslon Capres - Cawapres Nomor 2, Prabowo dan Sandiaga Tiba di Monas (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
Timses mengaitkan Prabowo-Sandi dengan sejumlah pahlawan mulai dari Jenderal Soedirman, Presiden Sukarno hingga Wapres Muhammad Hatta. Hal ini dinilai sebagai bagian dari meningkatkan elektabilitas, meski sebagian lainnya mengkritik hal itu.
ADVERTISEMENT
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ardian Sopa mengatakan, penyamaan sosok Prabowo-Sandi dengan sejumlah pahlawan memang bagian dari strategi untuk meningkatkan elektabilitas dengan cepat. Cara ini dinilai lebih mudah dibanding membangun citra dari nol.
Prabowo Subianto. (Foto: AFP PHOTO / Adek Berry)
"Itu memang strategi untuk membangun image. Kalau membangun sendiri butuh jangka waktu yang lama tapi dengan mencantol salah satu tokoh nasional, bagus secara penilaian publik, enggak ada cacat dan sebagainya dengan begitu lebih mudah terkatrol (elektabilitas) akhirnya," jelas Adrian saat dihubungi kumparan, Kamis (25/10).
Cara ini memang berpeluang meningkatkan elektabilitas Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Tapi, semua itu tergantung pada kesungguhan timses dalam mengelola isu ini.
Gaya Sandiaga Uno di acara dirgahayu Resimen Mahasiswa (Menwa) Jayakarta ke-56. (Foto: Instagram/@sandiuno)
"Kalau hanya di media sosial tanpa ada langsung ke bawah efeknya tak akan terlau banyak. Ketika ini masif digerakkan dan masyarakat melihat identik akan bisa menaikkan, tapi masalahnya seberapa besar masyarakat mengetahui ini," kata dia.
ADVERTISEMENT
"Kalau masyarakat enggak mengetahui ini relatif ya enggak ada apa-apanya kecuali untuk kesenangan saja, di permukaan saja, pelampiasan hasrat," imbuh dia.
Penentuan pahlawan yang dikaitkan dengan Prabowo-Sandi juga harus benar-benar tepat. Jangan sampai, sosok yang disandingkan jauh dengan karakter Prabowo-Sandi yang pada akhirnya hanya membuat strategi ini salah kaprah.
"Iya. Terlebih misalnya kita menggunakan tokoh yang ada tapi banyak orang yang enggak setuju dengan itu. Ketika dia mengidentikkan dengan tokoh itu publik melihat memang pantas menerima, akan jadi masalah ketika malah jadi antipati," tutur dia.
"Pilihan tokohnya juga. Jangan sampai tanpa ada sesuatu yang identik tiba-tiba menyamakan diri. Itu juga bermasalah," ucap dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80