Pencarian populer

Quick Count Pileg 2019: PDIP Meroket, Demokrat Merosot

Suasana Jambore Kader Komunitas Juang berbaris di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Jateng, Minggu (10/2). Foto: Dok. Istimewa

Pelaksanaan Pileg 2019 sebagai salah satu rangkaian Pemilu 2019 baru saja usai. Hasil quick count Pileg 2019 pun menunjukkan sejumlah partai politik (parpol) berguguran karena tak memenuhi ambang batas suara parlemen (parliamentary threshold) sebanyak 4 persen

Melalui quick count pileg 2019, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menjadi salah satu lembaga survei yang memprediksi bahwa hanya 9 dari 16 parpol yang lolos ke parlemen.

Yakni PDIP dengan perolehan suara 19,80 persen, Gerindra 12,50 persen, Golkar 12,21 persen, PKB 9,56 persen, NasDem 8,53 persen, PKS 8,04 persen, Demokrat 6,81 persen, PAN 6,16 persen, dan PPP 4,34 persen.

Bila dibandingkan dengan 2 pileg sebelumnya yakni 2009 dan 2014, ada perubahan tren perolehan suara beberapa partai. Sebanyak 3 parpol yaitu PDIP, Gerindra, dan PKB menunjukkan tren kenaikan perolehan suara.

Tahun 2009, PDIP menduduki peringkat ketiga perolehan suara setelah Demokrat dan Golkar. Saat itu, PDIP hanya mendapat 14,03 persen suara di parlemen. Namun, pada Pileg 2014, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu merajai perolehan suara di parlemen, sebanyak 18,95 persen. Puncaknya, Pileg 2019 versi quick count LSI, suara PDIP kembali menguat dengan 19,8 persen.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, sosok Jokowi memiliki efek ekor jas (coat-tail effect) bagi tingkat elektoral PDIP. Menurut dia, Jokowi bisa membawa berkah bagi partai tersebut.

"Kalau di skor paling ranking atas itu karena ada faktor Jokowi yang banyak bawa berkahlah kepada PDIP," tutur Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu.

Bila dirunut, proses meroketnya suara PDIP di pileg 2014 terjadi setelah Megawati mengumumkan pencapresan Jokowi pada Maret (sebulan sebelum pileg dihelat). Saat Jokowi diusung kembali sebagai presiden dan digelar pemilu serentak tahun 2019, suara PDIP versi quick count makin moncer.

Ilustrasi Partai Demokrat Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Keadaan berkebalikan terlihat pada Partai Demokrat yang suaranya justru merosot setelah sosok SBY tak lagi berkuasa. Pada Pilpres 2014, SBY tak bisa mencalonkan kembali sebagai presiden karena terganjal aturan UU yang membatasi jabatan presiden hanya bisa maksimal 2 kali seumur hidup.

Sebagai gambaran, perolehan suara Partai Demokrat tahun 2009 cukup mendominasi yakni sebanyak 20,85 persen dan menduduki 150 kursi di DPR. Tahun 2014, suara partai itu hanya 10,19 persen. Hasil quick count pada Pileg 2019 dari LSI mengonfirmasi kemerosotan perolehan suara Demokrat yang hanya mampu menggaet 6,81 persen.

Hasil Pileg 2019 sebenarnya sudah terbaca lewat survei terakhir yang dirilis LSI pada awal April 2019 lalu. Dalam survei itu, PDIP diperkirakan mendapatkan suara terbanyak sebesar 24,6 persen, kemudian Gerindra 13,4 persen, Golkar 11,8 persen, Demokrat 5,9 persen, dan PKB 5,8 persen.

“Survei Maret 2019 menunjukkan bahwa elektabilitas PDIP saat ini adalah sebesar 24,6 persen. Jika akhirnya PDIP menjadi juara, maka PDIP menjadi sejarah baru Pemilu Indonesia sebagai partai pertama yang menang dua kali pemilu berturut-turut pasca-orde baru,” terang peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar di Kantor LSI Denny JA, Jakarta Timur, Jumat, (5/4).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33