kumparan
31 Mei 2018 12:44 WIB

Radar Bogor Digeruduk Massa PDIP, Sempat Ada Intimidasi

Massa PDIP Geruduk Kantor Radar Bogor (Foto: Others/Dok. Tegar Bagja)
Massa kader Partai Perjuangan Indonesia Perjuangan (PDIP) menggeruduk Kantor Surat Kabar Radar Bogor, Rabu (30/5) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Seratusan kader itu marah dan tak terima atas berita di halaman utama Radar Bogor yang berjudul 'Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 juta'.
ADVERTISEMENT
Surat kabar itu sendiri terbit pada pagi hari. Tepat di atas judul berita, terdapat foto Megawati yang disandingkan dengan sejumlah nominal rupiah.
Kemarahan tersebut dilampiaskan dengan memaki karyawan Radar Bogor yang ada di tempat. Sejumlah properti kantor dirusak. Mereka berteriak-teriak ingin bertemu dengan Pemimpin Redaksi Radar Bogor Tegar Bagja.
"Mereka mencari saya yang bertanggung jawab atas pemberitaan agar segera turun. Saat itu saya sedang rapat redaksi di lantai 4. Massa yang tensinya mulai naik itu, sempat membuat (karyawan) front office saya yang sehari-harinya menerima tamu ketakutan," kata Tegar saat dihubungi kumparan, Kamis (31/5).
Loading Instagram...
Saat karyawan yang berada di front office itu lari ke dalam, massa mulai mengikuti hingga ke aula utama. Di dalam aula utama itu, kata Tegar, dirinya menemui massa yang tak lagi bisa terkendali.
ADVERTISEMENT
"Mereka semacam melakukan intimidasilah ya terhadap beberapa karyawan kita. Sempat terjadi dorong-doronganan. Dan berulangkali saya berusaha menenangkan pun mereka tetap menghardik saya," ujar dia.
"Luka Secara tanda kutip tidak ada. Tetapi kekerasan itu terjadi," tambah Tegar.
Meski demikian, sebuah titik temu pun berhasil dilakukan. Kedua belah pihak sepakat untuk berunding. Sekitar delapan orang perwakilan massa PDIP diajak untuk bermusyawarah ke ruang redaksi di lantai empat sambil di temani polisi.
"Saya kemudian menawarkan beberapa pilihan untuk mereka menggunakan ruang hak jawab. Banyak tuntutan yang mereka mau. Saya kemudian membelahnya menjadi dua hal. Pertama soal tuntutan permintaan maaf atas kesalahan. Saya tak mungkin merealisasi. Karena salah atau benarnya karya jurnalistik kita kan harus lewat jalur dewan pers," ungkap dia.
ADVERTISEMENT
Oleh sebab itu, hingga kini pihak Radar Bogor belum akan meminta maaf atas berita yang dimuat. "Jadi saya meminta mereka menempuh jalur itu (dewan pers) jika ingin mendapatkan permintaan maaf dari Radar Bogor," katanya.
Video
Kendati demikian, Tegar pun mengaku bahwa terdapat beberapa kekeliruan di dalam beritanya. Bukan soal judul, tetapi soa infografik dan muatan berita yang mencantumkan kata 'gaji', bukan kata 'pendapatan'. Sebab dua hal tersebut memang ternyata berbeda.
"Saya mengaku kekeliruan itu karena gaji itu adalah komponen dari penghasilan. Gaji pokok, ada tunjangan, itu kita bulat jadi satu, itu kita bilang gaji. Okelah ada ralat di situ," tambahnya.
Saat disinggung mengenai adanya korban dalam peristiwa tersebut. Tegar mengatakan bahwa karyawannya memang tak mengalami luka yang membekas. Namun dia mengklaim bahwa kekerasan itu terjadi. "Luka Secara tanda kutip tidak ada. Tetapi kekerasan itu terjadi," tambah Tegar.
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini, Tegar mengaku pihaknya hanya akan menunggu pelaporan dari massa PDIP ke Dewan Pers. Meski demikian, dia sangat menyesalkan sikap menggeruduk kantor orang seperti itu.
"Saya sangat menyayangkan sikap mereka. Karena selayaknya di bulan puasa ini kita bisa menahan diri lah ya," tandasnya.
Kasubag Humas Polres Bogor Kota Kompol Yuni Astuti yang dikonfirmasi membenarkan peristiwa ini.
"Ya (ada sekitar 50 orang dari PDIP) yang datang ke kantor Radar Bogor," kata Yuni.
========================
Tanggapan PDIP mengenai peristiwa tersebut dapat dibaca di sini
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan