kumparan
19 Apr 2019 6:09 WIB

Rekap Quick Count: Hanura-Demokrat Jeblok, PDIP-Gerindra Berjaya

Ilustrasi Partai Peserta Pemilu Foto: Fitra Andrianto/kumparan
Partai lama berjaya, namun tidak untuk partai-partai baru yang akan mengisi parlemen di Senayan.
ADVERTISEMENT
Pemilihan legislatif (pileg) 2019 memang tak seramai capres-cawapres. Tapi, pileg juga tak boleh dilupakan. Karena merekalah yang akan menjadi wakil rakyat, baik di DPR hingga DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Hasil penghitungan cepat (quick count) dari empat lembaga survei, yaitu CSIS, Indo Barometer, Charta Politika, dan LSI Denny JA menunjukkan ada 9 parpol yang lolos ke parlemen, yang merupakan partai-partai lama. Sementara 4 partai baru peserta Pemilu 2019 kemungkinan besar tidak lolos karena tidak mencapai ambang batas minimal 4 persen atau parlementary treshold.
PDIP masih berjaya. Di sejumlah perhitungan cepat, dari 16 parpol yang berlaga, PDIP memiliki persentase tertinggi yang berkisar rata-rata 20 persen.
Berbagai faktor menjadi alasan PDIP bisa memiliki elektabilitas tinggi, bahkan angkanya naik dari pemilu sebelumnya yang hanya 18,9 persen. Menurut Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, partainya terus memperbaiki diri dari sejumlah pihak.
ADVERTISEMENT
"Kami terus memperbaiki diri, melakukan kritik, otokritik dan kami tidak mentolerir terhadap mereka yang menyalahgunakan kekuasaan melalui korupsi. Kami memperkenalkan pemecatan seketika, siapa pun tidak diizinkan dicalonkan sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah maupun legislatif," kata Hasto di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan, Rabu (17/4).
Begitu juga dengan sekolah partai yang digagas PDIP, yang dianggap mempengaruhi kualitas kader yang dimiliki. Selain itu, sosok Jokowi dianggap penting karena memiliki efek ekor jas (coattail effect).
Sementara, persaingan untuk posisi kedua versi quick count juga sempat sengit antara Partai Gerindra dan Partai Golkar. Namun, di beberapa lembaga survei, Gerindra sukses mengungguli Golkar, dengan persentase di antara 12-13 persen. Sementara Golkar mengikuti dengan selisih 0,25-2 persen.
ADVERTISEMENT
Meski persentase pada quick count menempatkan Gerindra di antara 12-13 persen, namun mereka optimistis bisa meraih angka 15 persen pada real count KPU.
“Insyaallah 15 persen,” ucap Wasekjen Gerindra Andre Rosiade.
Suasana rapat Konsolidasi dan Deklarasi kader DPW Partai Gerindra se-Provinsi Lampung di Bandar Lampung, Lampung, Senin (19/3). Foto: Antara/Ardiansyah
Sekarang, coba tengok ke partai-partai lama yang suaranya menurun di Pileg 2019. Misal, Partai Demokrat yang angkanya semakin menurun dari pemilu-pemilu sebelumnya. Di Pemilu 2009, Demokrat berjaya dengan 20,85 persen, lalu menurun menjadi 10,19 persen di Pemilu 2014.
Namun, di pemilu kali ini Demokrat hanya berada di kisaran 6-7 persen. Memang pada pemilu kali ini Partai Demokrat bekerja keras, karena mereka tak megusung capres sendiri.
"Sejak awal memang analisis kami, yang punya capres akan dapat keuntungan. Namun di dapil-dapil para caleg juga bekerja luar biasa, termasuk Pak SBY dan Ibu Ani Yudhoyono sebelum sakit, juga Mas AHY," ungkap Ketua Divisi Media Partai Demokrat, Imelda Sari.
ADVERTISEMENT
Ada juga PPP yang elektabilitasnya juga menurun di Pemilu 2019. Kasus yang menjerat eks Ketua Umum PPP Romahurmuziy dinilai menjadi salah satu faktor anjloknya suara bagi partai berlambang Kakbah itu. Meski begitu, suara PPP cenderung masih tertolong karena mereka memiliki basis pemilih yang cukup loyal.
"PPP sebagai partai lama, sebagai partai yang sudah cukup punya kekuatan di bawah dan punya pemilih yang loyal, walaupun Ketumnya kena OTT, tapi pemilihnya tetap bertahan," tutur Direktur Riset Charta Politika, Muslimin.
Wasekjen PPP Achmad Baidowi juga sempat menyinggung soal prediksi beberapa lembaga survei yang menyatakan partainya tak akan terpental dari Senayan karena kasus Romy.
Jika sebelumnya berbicara soal partai lama yang elektabilitasnya menurun, kali ini ada Hanura yang kemungkinan besar harus keluar dari Senayan karena tak mampu mencapai 4 persen. Setidaknya, berdasarkan quick count yang masuk, Hanura hanya mengantongi 1,6-1,8 persen.
ADVERTISEMENT
Muslim mengungkapkan penurunan suara Hanura karena disebabkan berbagai faktor. Mulai dari dualisme kepengurusan hingga banyaknya kader yang keluar dari Hanura. Meski begitu, Hanura yakin masih bisa menembus 4 persen.
“Kalau quick count hanya gambaran. Nanti kita berpatokan pada real count. Artinya insyaallah kita tebus cuma sekadar 4 persen,” ucap Ketua Bappilu Hanura, Jafar Bajeber.
Belum Waktunya Partai-partai Baru di Parlemen
Lantas, bagaimana dengan partai-partai baru?
Setidaknya, berdasarkan hasil quick count dari empat lembaga survei menunjukkan Partai Garuda, Partai Berkarya, Perindo, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak bisa mengisi parlemen.
Dari sampel suara di atas 90 persen, Garuda hanya mampu meraup 0,5 -1 persen suara. Sementara itu, Partai Berkarya mengumpulkan 2 hingga 2,4 persen. Dari partai baru, yang berhasil meraih suara tertinggi adalah Perindo. Dengan kisaran angka 2,7 sampai 3 persen. Sementara itu, PSI hanya meraup 1,9 hingga 2,4 persen suara.
ADVERTISEMENT
Meski kemungkinan besar tak lolos, 3 dari 4 partai baru ini memiliki perolehan yang lebih baik dari beberapa partai lama seperti Hanura, PBB, dan PKPI.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan