kumparan
24 Okt 2018 17:51 WIB

Remotivi: Irasionalitas FTV 'Azab' Bikin Masyarakat Tertawa

Salah Satu Adegan di 'Mulut Busuk Jasad Pemandi Jenazah Tukang Ghibah' (Foto: erlinsarintan/instagram)
Pernah melihat seseorang yang tewas dan hanya bisa dimakamkan di kandang kambing? atau orang tewas karena dipatuk ayam? jika iya, mungkin Anda baru saja menonton film televisi (FTV) 'Azab' yang tayang di Indosiar.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari situs resmi Indosiar, Rabu (24/10), program religi itu tayang setiap Senin sampai Sabtu pada pukul 17.00 dan 18.30 WIB. FTV religi itu mengisahkan soal adanya balasan atas semua perbuatan yang pernah dilakukan manusia semasa hidupnya.
"Azab menceritakan tentang ganjaran yang didapat seseorang di dunia akibat perbuatan jahat dan dosa semasa hidupnya, sehingga pemirsa Indosiar dapat memetik pelajaran untuk selalu berbuat baik dan menabung pahala di dunia. #IngatAdaAzab," demikian tulis Indosiar.
Alih-alih membuat masyarakat sadar, 'Azab' menjadi perbincangan warganet media sosial. Contohnya salah satu episode 'Azab' yang menjadi perbincangan warganet adalah "Jenazah Suami Berbau Busuk Karena Dosanya, Jenazah Istri Berbau Harum Karena Amalnya".
Cuitan warganet di atas adalah dua dari sekian banyak komentar soal FTV bertema religi itu. Azab-azab yang kerap tak masuk akal itu menjadi perbincangan renyah warganet. Reaksi netizen atas 'Azab' adalah respons wajar bagi Muhamad Hechael, seorang peneliti di Remotivi.
ADVERTISEMENT
"Jadi yang sebetulnya ditertawakan oleh netizen itu bukan agama, tapi yang ditertawakan itu adalah bagaimana cerita itu dibuat yang enggak masuk akal," ujar Heychael kepada kumparan, Rabu (24/10).
Menurut Heychael, terus beredarnya FTV atau tayangan religi semacam 'Azab' itu adalah efek domino yang terus terjadi di Indonesia.

Ini bukan menertawakan nilai-nilai agama, yang ditertawakan adalah irasionalitas yang membuatnya, stasiun tivi

- Muhamad Heychael, Remotivi

Bagi Heychael masyarakat harus lebih cerdas dalam memilih tayangan. Selain itu, masyarakat juga sebenarnya ikut andil dalam setiap tayangan yang ada di layar kaca.
"Masyarakat juga harus terlibat dong, mengadukan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), KPI juga harus rame-rame kita dorong," ujar Heychael.
Namun, Heychael menjelaskan, seharusnya KPI punya peran lebih dalam mengontrol tayangan yang hilir-mudik di televisi. Sebab, KPI merupakan lembaga yang memiliki wewenang penuh atas sebuah tayangan.
ADVERTISEMENT
"KPI juga seharusnya tak perlu menunggu kita dorong, KPI itu punya kewenangan untnuk menindak tanpa adanya aduan," imbuh Heychael.
Heychael mempertanyakan keseriusan KPI atas tayangan semacam 'Azab' tersebut. Di sisi lain, Heychael menyarankan KPI untuk berkonsultasi ke MUI jika memiliki keraguan dalam menindak 'Azab' dan tayangan serupa lainnya.
Sebab, legitimasi dari masyarakat bisa runtuh jika KPI tak melakukan tindakan apapun. "MUI bisa sebagai konsultan, kalau KPI ragu, MUI bisa diundang dan ‘apakah agama nilainya begini’ kalau emang KPI ragu," tutup Heychael.
-----------------
Simak selengkapnya dalam topik Membedah FTV Azab.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan