• 1

Saat Binatang Buas Masuk Kampung

Saat Binatang Buas Masuk Kampung


Harimau di Batu Secret Zoo, Malang

Harimau (Foto: instagram/@denitigatigatiga via @batusecretzoo )
Serangan binatang buas ke lahan perkebunan dan perkampungan makin sering terjadi. Tak kurang dari 7 kejadian selama setahun belakangan. Hewan-hewan buas itu menyerang ternak hingga manusia, membuat korban jiwa berjatuhan.
Yang paling terbaru terjadi di perkebunan sawit Eboni Estate PT THIP Kabupaten Indragiri Hilir, Kamis (4/1). Seekor harimau Sumatera memasuki perkebunan sawit ini, mengejar tiga pekerja perempuan, hingga salah satunya tewas.
Fitriyanti (40) jatuh ke kubangan lumpur tepat di depan harimau, namun harimau itu justru mengejar Jumiati (33) yang sedang bersusah payah memanjat pohon.
Harimau yang diduga lapar tersebut lompat menarik kaki Jumiati, dan menerkamnya hingga tewas. Sungguh malang.
Tapi tentu saja, harimau masuk kebun, masuk kampung, bukan hal baru sehingga tak terlalu mengejutkan.
Pada awal 2017, harimau Sumatera terlihat berkeliaran di perkampungan warga Kabupaten Indragiri Hilir. Ia lalu dikembalikan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau ke habitatnya.
Kemudian Mei 2017, kembali masuk laporan ada harimau berkeliaran di perkebunan sawit hingga perkampungan warga di kecamatan yang sama.

Ular yang menyerang manusia

Ular yang menyerang manusia (Foto: Facebook/Risdawaty Nababan)
Masih di Riau, kali ini di Kabupaten Indragili Hulu, Robert Nababan digigit ular piton raksasa.
Kejadian mengerikan itu dialami Robert ketika dia pulang bekerja Sabtu (30/9/2017) sekitar pukul 09.00 WIB. Robert bersama dengan rekannya, Torang Sitanggang, berjalan menuju kebun sawit.
Tiba-tiba di tengah jalan, mereka berjumpa seekor ular piton. Ular sepanjang tujuh meter itu berada di dalam areal PT Sumber Sawindo Kencana, tempat Robert bekerja sebagai pegawai keamanan.
Piton itu menggigit lengan kiri Robert. Lelaki itu sesungguhnya berniat lebih dulu membunuh ular raksasa itu. Beruntung Robert berhasil lepas dari gigitan piton dengan bantuan rekannya dan masyarakat sekitar lokasi.

Ilustrasi Ular Piton

Ilustrasi ular piton (Foto: Thinkstock)
Ular piton menyerang manusia diyakini karena makanan yang minim di habitatnya. Hal ini dikatakan oleh Aji Rachmat, Ketua Sioux Indonesia, kepada kumparan ketika ada kejadian serupa beberapa bulan sebelum kasus Robert (26/3/2017).
Sioux ialah lembaga studi ular Indonesia. Sementara di Desa Salobiro, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Akbar, seorang petani, dimakan hidup-hidup oleh ular piton saat sedang memanen sawit.
Hari itu Akbar pergi berkebun ke kebun miliknya. Namun sehari berselang, ia tak kunjung pulang. Maka warga bergegas mencari Akbar di kebun. Di tengah pencarian, mereka melihat ada seekor ular piton besar dengan perut buncit.
Warga curiga dengan ular buncit itu, dan segera membunuh serta mengulitinya. Benar saja, saat tubuh piton mulai disobek, tubuh Akbar ditemukan di dalam perut ular itu dalam kondisi utuh, namun tak bernyawa.
Menurut Aji, ular yang sedang kelaparan itu kebetulan bertemu Akbar yang sedang memanen sawit. Ular langsung memangsa Akbar.
“Analisis kami, korban masuk ke kawasan kelapa sawit yang jadi habitat si ular piton. Poisisi ular piton itu lapar dan sedang berburu makanan,” kata Aji.

Ilustrasi serangan monyet

Ilustrasi serangan monyet (Foto: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
Rusaknya habitat alami adalah salah satu alasan utama hewan-hewan buas muncul di lahan perkebunan dan perkampungan warga.
Agung Setyabudi dari Badan Sumber Daya Alam (BKSDA), seperti dilansir Antara (20/6), mengatakan habitat binatang-binatang itu rusak akibat dirambah dan dibalak. Hal tersebut mendorong hewan-hewan itu bergerak ke lahan pertanian dan perkampungan untuk mencari makan.
Mereka tak semata memburu manusia, tapi juga memakan ternak-ternak atau mencuri makanan di ladang. Di Boyolali misal, kawanan monyet ekor panjang terus-menerus turun gunung menuju perkampungan untuk mencuri makanan dan menyerang warga.
Akhir Maret 2017, seorang sepuh, Jumirah (60), diserang kawanan monyet di rumahnya. Kulit kepalanya robek belasan sentimeter karena gigitan monyet, hingga harus dijahit.
Sebelumnya, tiga orang warga Desa Sendang Boyolali juga diserang monyet. Seorang lagi, Karinah (90), bahkan nyaris putus kakinya karena digigit dan dicakar kawanan monyet liar tersebut. Total, sudah ada 11 korban dari serangan-serangan monyet tersebut.
“Kebanyakan warga desa yang diserang adalah lansia yang hidup sendiri di gubuk-gubuk desa,” ucap Aries. “Mereka tinggal berjauhan dan tidak punya tetangga dekat. Jadi ketika diserang, tidak ada yang tahu dan tidak ada yang membantu.”
Meski begitu, aktivis perlindungan hewan mengatakan, kawanan monyet tersebut turun gunung (lagi-lagi) karena habitat asli mereka sudah dirambah dan dikuasai manusia.
“Alasan mereka menjarah rumah warga adalah karena mereka butuh makanan,” ucap Robithotul Huda dari International Animal Rescue Indonesia.

Kambing mati diserang gerombolan anjing liar

Kambing mati diserang gerombolan anjing liar (Foto: Dok. Polres Bogor)
Kasus lain, mulai pertengahan hingga akhir 2017, beberapa kali anjing hutan turun gunung dan memangsa kambing ternak milik warga.
Akhir Juni 2017, 12 kambing di Babakan Madang, Bogor, mati dengan luka gigitan dan cabikan. Warga sempat bertanya-tanya makhluk apa gerangan yang menyerang selusin kambing itu.
Hasil penelitian Dinas Peternakan Kecamatan Babakan Madang menunjukkan, hewan yang mati tersebut bukan karena penyakit, tapi diduga kuat dimakan binatang buas.
Hingga akhirnya, warga melakukan ronda dan melihat segerombolan anjing hutan menghampiri kandang. Saat dihampiri warga, anjing itu kabur ke arah semak-semak belukar.
Kejadian serupa terjadi di Malang, Jawa Timur. Kelompok binatang buas yang diduga anjing hutan memangsa 25 ekor kambing. Selang beberapa hari kemudian, akhir September 2017, kawanan anjing hutan memangsa 6 kambing milik warga di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta.

Kambing mati diserang gerombolan anjing liar

Kambing mati diserang gerombolan anjing liar (Foto: Dok. Polres Bogor)
Untuk kasus harimau menyerang manusia di Riau, menurut Fandi Rahman dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), kawasan yang menjadi lokasi penyerangan itu sebetulnya masuk ke dalam wilayah jelajah harimau.
“Ekspansi perkebunan--baik HTI (hutan tanaman industri) maupun kelapa sawit--ke dalam wilayah jelajah harimau, menjadikan konflik manusia dengan satwa,” kata Fandi.
Menurut Fandi, hilangnya fungsi hutan berbanding lurus dengan semakin sedikitnya sumber makanan dan wilayah berburu. Hal itulah yang menyebabkan harimau berkonflik dengan manusia.
“Seharusnya perusahaan yang berada di sekitar hutan atau berada dalam wilayah jelajah satwa liar, memiliki SOP (standar operasi prosedur) keselamatan,” kata Fandi.
SOP tersebut terkait waktu bekerja, alat keselamatan bekerja, dan cara-cara menyelamatkan diri jika bertemu dengan satwa liar.
Selanjutnya menurut Fandi, alih fungsi hutan menjadi konsesi perkebunan dan hutan tanaman industri harus segera dihentikan.

Pertambangan Ilegal di Hutan Hujan Amazon

Ilustrasi Pertambangan ilegal di hutan (Foto: REUTERS/Nacho Doce )
Yang menjadi catatan, apa yang terjadi di Indonesia ini juga terjadi di seluruh dunia. Serigala beberapa kali muncul di kota-kota dari Los Angeles sampai New York. Sementara di Nevada, keluhan tentang kemunculan beruang di sekitar Danau Tahoe meningkat 10 kali lipat antara tahun 1997 dan 2007.
Keluarnya binatang buas ke perkampungan bukan hanya membahayakan manusia, tapi juga mengindikasikan rusaknya habitat mereka--yang juga mempercepat kepunahan hewan-hewan langka.
Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List 2012 menunjukkan bahwa dari 63.837 spesies yang diperiksa di seluruh dunia, 19.817 terancam punah--hampir sepertiga dari total populasi.
Dibanding tingkat kepunahan alami, yaitu satu kepunahan dari sejuta spesies per tahun, sekarang Bumi kehilangan 30.000 spesies per tahun, atau tiga spesies per jam.
Jika tren ini terus berlanjut, para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam beberapa dekade, setidaknya setengah dari semua spesies tumbuhan dan hewan di Bumi akan punah.
Ini akibat perubahan iklim, polusi, pengasaman samudra, spesies invasif, eksploitasi berlebihan sumber daya alam, penangkapan berlebih, perburuan, kelebihan populasi manusia, dan hilangnya habitat.
Kompleks, memang. Menjaga keseimbangan alam nyatanya tak pernah mudah.
===================
Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!

NewsHutanHarimauSerangan MonyetOutline

presentation
500

Baca Lainnya