• 2

Saat Gus Yahya Gaungkan Pesan Perdamaian di Israel

Saat Gus Yahya Gaungkan Pesan Perdamaian di Israel


Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengunjungi Israel pada Minggu (10/6) kemarin. Dia menjadi pembicara dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan America Jewish Commitee (AJC) di Yerusalem. AJC sendiri merupakan organisasi advokasi yahudi dunia.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya berbicara tentang pentingnya pemahaman baru atas agama yang seringkali dijadikan alasan untuk melanggengkan konflik. Ditemani moderator sekaligus Direktur AJC David Rosen, Gus Yahya tampil dengan sangat percaya diri membawa pesan perdamaian.

Gus Yahya di Israel

Gus Yahya di Israel (Foto: Youtube/AJCGlobal)
Pesan itu disinggung olehnya menanggapi konflik tak berujung antara Muslim dan Yahudi. Padahal, kata dia, baik Muslim maupun Yahudi pernah memiliki satu ikatan yang cukup baik di masa lalu.
"Sekarang dalam konteks saat ini, orang-orang beragama termasuk Islam dan Yahudi butuh jalan baru. Pertama, kita harus menemukan solusi baru terkait fungsi agama dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, harus ada interpretasi baru atas hubungan antaragama demi menciptakan satu kondisi masyarakat yang harmonis," ucap Gus Yahya.
Gus Yahya bukanlah tokoh NU pertama yang menginjakkan kakinya ke Israel. Dalam sambutan yang diberikan David, dijelaskan bahwa tokoh terkemuka NU yang juga pernah menjabat sebagai Presiden RI Abdurrahman Wahid pernah menginjakkan kakinya sebanyak tiga kali di Israel. Kedatangan Gus Yahya menjadi suatu kehormatan tersendiri bagi AJC.

Gus Yahya di Israel

Gus Yahya di Israel (Foto: Youtube/AJCGlobal)
Dalam forum itu, Gus Yahya kemudian menjelaskan, interpretasi baru terhadap teks-teks suci penting untuk dilakukan. Bagaimanapun, kata dia, setiap ayat di dalam Alquran juga turun dalam satu konteks yang partikular.
"Alquran dan hadis pada dasarnya merupakan dokumen sejarah. Dokumen itu mengandung tuntunan moral untuk menjawab situasi partikular. Ketika situasinya berubah, maka manifestasinya semangatnya juga harus berubah," tambahnya.
"Nabi Muhammad ketika mengatakan sesuatu, dia akan selalu menekankan bahwa apa dikatakannya selalu terikat dengan konteks yang terjadi pada saat itu," imbuhnya.
Menurut Gus Yahya, konflik hanya menyisakan ambisi untuk melenyapkan orang lain. Dalam sejarah, kata dia, orang-orang beragama bahkan tak pernah tahu bagaimana konflik itu bermula dan tak tahu pula bagaimana mengakhirinya.

Masjid Al Aqsa, Yerusalem

Masjid Al Aqsa, Yerusalem (Foto: Wikimedia Commons)
Oleh karena itu, lanjut dia, dibutuhkan 'rahmah' dalam melihat kenyataan di dunia ini. Rahmah, kata dia, berarti kasih sayang dan peduli satu sama lain. Hanya dengan menerima rahmah umat manusia dapat berbuat kebaikan dan mampu berbicara keadilan.
"Jika aku harus menggaungkan sesuatu, maka aku akan menggaungkan kepada dunia bahwa kita harus memilih rahmah," pungkasnya.
Jadi Polemik
Sebelumnya, kepergian Gus Yahya ke Israel sempat menjadi polemik di kalangan warganet. Tak sedikit yang menilai bahwa Gus Yahya tak peka terhadap keresahan umat Muslim yang mengutuk berbagai tindakan Israel atas Palestina.
Ketua Pengurus Besar Nadlatul Ulama (PBNU) Bidang Hukum Robikin Emhas sempat menegaskan bahwa Gus Yahya berbicara di Israel atas nama pribadi.
Usai menjadi polemik, sempat ada kabar bahwa Gus Yahya membatalkan kuliah umumnya di Israel. Hal itu terungkap dalam klarifikasi tertulis yang ditujukkan Gus Yahya ke Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
"Rencana pidato saya di AJC forum sudah dibatalkan, tapi saya tetap dijadwalkan bertemu sejumlah tokoh dengan liputan media," tulis Gus Yahya, Sabtu (9/6).
Menurut keterangan adik kandung Gus Yahya, yakni Yaqut Cholil Qoumas atau yang kerap disapa Gus Yaqut, kedatangan Gus Yahya di Israel pada Minggu (10/6) bukan dalam rangka kuliah umum yang sebelumnya dijadwalkan pada 13 Juni. Gus Yaqut menjelaskan, pesan perdamaian Gus Yahya yang diunggah di Youtube AJC merupakan sebuah wawancara biasa.
"Kuliah umumnya yang dibatalkan. Saya kira jelas itu," kata Gus Yaqut saat dikonfirmasi kumparan, Senin (11/6).
kumparan telah mencoba menghubungi Gus Yahya untuk mengkonfirmasi kunjungannya ke Yerusalem, namun hingga kini belum ada jawaban.

NewsInternasionalNahdlatul UlamaIsraelGus Yahya ke Israel

presentation
500

Baca Lainnya