Pencarian populer

Saat Pedagang hingga Perampok di Surabaya Bersatu Melawan Sekutu

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)

Konon katanya dalam sebuah ajaran revolusioner, kekerasan adalah ibarat bidan zaman yang akan melahirkan situasi baru. Pada 10 November 1945 di Surabaya, sang bidan telah terpanggil untuk bekerja dan membantu lahirnya zaman baru. Tetapi, tidak dengan cara yang normal, melainkan harus menjalankan keizer-snede (pembedahan silang) untuk menyelamatkan sang ibu pertiwi dan sang putra Indonesia merdeka.

“Dan sang bidan berhasil. Sang ibu pertiwi menyaksikan lahirnya sang putra Indonesia merdeka,” kata Menteri Luar Negeri Indonesia era 50-an Roeslan Abdulgani dalam bukunya Api Revolusi Tetap Berkibar (1963).

Sajak kepahlawanan adalah hal jamak yang digaungkan bilamana berbicara soal Surabaya. “Surabaya adalah kota pahlawan,” begitu nadanya melantang.

Pemuda adalah lakon-lakon yang meninggikan sajak perjuangan itu sehingga lazim bila disebut perjuangan itu adalah milik mereka. Meski, tak bisa diklaim sepenuhnya, tapi kiranya semua sepakat bahwa pemuda adalah denyut nadi dari perjuangan tersebut.

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)

Dikutip dari uraian sejarawan Australia Frank Palmos (2016) dalam bukunya, Surabaya 1945 Sakral Tanahku, di medan perang pekik pemuda adalah kata yang dilantangkan untuk menyebut anggota masyarakat seusia murid sekolah sampai dengan mereka yang berumur 30-an. Semuanya berhak mendapat predikat sebagai pemuda, dari penjual kaki lima, pekerja pelabuhan dan kereta api, penjaga toko, mantan anggota Pramuka, hingga kaum intelektual.

Bila ditarik ke beberapa tahun sebelumnya, pemuda Surabaya hidup dalam siksa kolonialisme Belanda dan Jepang. Sudah lazim mereka disiksa di hadapan umum, seperti halnya ditempeleng. Dendam begitu membara bila mengingat-ingat itu.

Pun setelah merdeka pemuda Surabaya tak bisa ongkang-ongkang kaki. Pasukan berkulit putih kembali datang, kali ini adalah Inggris.

“Kenapa pejuang kita menghadapi Inggris, bukan Belanda? Nah Hindia Belanda, masuk komando Sekutu AS. Dulu kita namanya South West Pacific (SWP). Mac Arthur ingin langsung membalas dendam, setelah dikalahkan Jepang di Filipina. Menjelang kekalahan Jepang, AS menyerahkan SWP ke Inggris. Inggris lalu membentuk komando bernama Southeast Asia (SEA),” urai sejarawan Universitas Indonesia, Didik Pradjoko saat berbincang dengan kumparan, Kamis (8/11).

Sejarawan UI, Didik Pradjoko (Foto: Nesia Qurrota a'yuni/kumparan)

Kedatangan Inggris ini menyulut kegaduhan rakyat Surabaya. Di pihak pemuda, mereka menganggap semua orang Eropa adalah musuh. Terlebih, setelah kedatangan Inggris dianggap sebagai upaya menyerahkan Surabaya kepada Belanda kembali.

Dan benar saja, kedatangan Inggris ini membuat pertempuran pecah. Pemuda sebagai pionir bergerilya menghadapi tentara Inggris yang diisi pasukan India--saat itu India dijajah oleh Inggris. Pertempuran terbagi dalam dua masa, yaitu 28-30 Oktober 1945 dan yang dimulai pada 10 November.

Segenap pemerintah Jawa Timur dan Surabaya di bawah komando Gubernur Soeryo bersekutu dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum teroris dan perampok. Mereka bertekad menghancurkan Sekutu, yakni Inggris dan antek-anteknya.

Tekad kuat ini adalah respons dari kecongkakan tentara Inggris yang sebelumnya berkata demikian. “to bring the whole weight of sea, land, and air forces and all the weapons of modern war against the Indonesia in Surabaya.” (Mengerahkan seluruh kekuatan laut, darat, dan udara beserta segala senjata peperangan yang modern terhadap arek-arek Surabaya).

Amunisi pemuda Surabaya pun terus bertambah setelah kepulangan para delegasi dari Kongres Pemuda di Yogyakarta. Para utusan dari Surabaya diperkenankan pulang lebih dahulu untuk berada di tengah-tengah rakyatnya yang terancam bahaya agresi. Mereka pulang dengan membawa ketegasan sikap, bertempur dengan berpegang teguh pada semboyan merdeka atau mati.

Pelajar daftar jadi tentara

Saat perang bergejolak, gugus intelektual di Surabaya tak tinggal diam. Mereka yang masih duduk di sekolah berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi tentara. Semasa pendudukan Jepang, mereka adalah siswa di sekolah menengah tinggi (SMT).

“Jadi mereka mendaftar ke pihak Badan Keamanan Rakyat Daerah (BKR)--cikal bakal TNI-- daerah kemudian mereka dijadikan BKR pelajar. Nah mereka menjadi Tentara Keamanan Rakyat Pelajar (TKRP) dan kemudian berubah nama menjadi Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP),” terang Didik.

Tercatat sekitar 500 pelajar dari siswa kelas 1-3 mendaftar menjadi tentara pelajar. Usia mereka tergolong muda, yaitu 15-18 tahun. Setiap harinya mereka tinggal di asrama untuk menerima pendidikan lanjutan.

“Ini menjadi salah satu kekuatan pelajar yang cukup solid waktu itu. Salah satu eksponen itu Mas Isman yang kemudian menjadi pahlawan nasional,” Didik menyebutkan.

Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: Dok. gahetna.nl)

Solidnya barisan tentara pelajar ini tidak bisa diragukan. Disebut dalam buku Sejarah Nasional Indonesia jilid 6, pada 9 November pukul 17.00 waktu Surabaya Komandan Pertahanan Kota, Soengkono, mengundang semua unsur kekuatan rakyat yang terdiri dari Komandan TKR, Partai Rakyat Indonesia (PRI), Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, Barisan Buruh Indonesia (BBI), Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR), dan TKR Laut untuk berkumpul di Markas Pregolan 4. Soengkono berujar, siapa pun yang ingin meninggalkan kota dipersilakan.

Ternyata, semua bertekad mempertahankan Surabaya, termasuk tentara pelajar. Mereka masing-masing membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas sebagai tanda setuju dan diteruskan dengan ikrar bersama.

Tentang Dumadio Hadi, korban pemuda pertama

Surabaya bersimbah darah kala perang bergejolak. Seluruh kekuatan rakyat menyerang pos-pos Inggris yang hampir merata di seluruh penjuru kota.

Salah satu sumber menyebut korban pertama dari pihak republik adalah seorang pelajar SMP anggota milisi pelajar bernama Dumadio Hadi. Saat itu dia bersekolah di SMP Praban dan usianya baru 15 tahun.

“Dia mengepung pasukan Inggris yang ada di Ketabang Kali, sekarang kompleks Wijayakusuma. Dia pakai helm Jepang kemudian pecah. Itu ditembak dengan peluru kemudian tembus,” ungkap Didik.

Ternyata helm Jepang yang dipakai Dumadio hanya berlapis baja yang tipis. Terlebih, Inggris saat itu disebut-sebut memakai peluru baru yang bisa menembus baja.

Perang Surabaya. (Foto: Facebook/@Beny Rusmawan)

Tewasnya Dumadio membuat teman-temannya menangis. Mereka berlarian seraya teriak demikian: “Dumadio Hadi ini mati mati. Panggil ibunya, panggil ibunya.”

Dumadio pun digotong untuk dipertemukan dengan sang ibu. Sembari berlinangan air mata, jenazah si muda itu diberikan.

Bukannya takut bernasib sama seperti Dumadio, para milisi pelajar ini justru semakin terbakar semangatnya. Mereka terus maju menghantam tentara Sekutu, meski akhirnya harus mati diterjang mesiu.

“Mungkin kalau dijadikan pelajaran, ini kan anak usia belasan tahun ya sudah punya semangat. Tentu risikonya mereka tahu tembak-tembakan itu mereka bisa mati. Anak yang masih muda ini sudah membuktikan mengorbankan dirinya untuk cita-cita yang besar,” kata Didik.

----------------------------------- Simak story menarik lainnya mengenai Pertempuran Surabaya dalam topik 10 November 1945 .

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: