kumparan
30 Okt 2018 14:20 WIB

Saksi Mata: Air Laut Naik 5 Meter Saat Lion Air Hantam Permukaan Laut

Proses evakuasi pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang. (Foto: Istimewa)
Kapten Tugboat AS Jaya 11, Rahmat Slamet, menjadi salah satu saksi mata yang pertama kali melihat pesawat Lion Air JT-610 terjatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) kemarin.
ADVERTISEMENT
Rahmat Slamet bersama 13 kru awak kapal pengangkut CPO, saat itu berada sekitar 1,3 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat saat hendak menuju pelabuhan Marunda, Jakarta Utara. Saat kejadian ia mengaku sempat mendengar suara ledakan disusul gelombang air yang cukup tinggi.
“Begitu kelihatan ekor (pesawat) tak lama berselang air naik cukup tinggilah habis itu terdengar suara ledakan,” ujar Rahmat kepada kumparan di Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara, Selasa (30/10).
Rahmat Nakhoda AS Jaya 11. (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)
Secara kasat mata dari kejauhan ketinggian air diakibatkan benturan pesawat dengan permukaan laut tersebut sekitar 5 meter lebih dan berlangsung tak cukup lama.
“Ketinggian airnya sekitar 5 meter lebih dan tak berlangsung lama,” ujarnya.
Data Flight Radar 24 mencatat kecepatan pesawat Lion Air saat menukin sekitar 345 knots atau sekitar 638,94 kilometer, dari ketinggaian 3.650 kaki.
ADVERTISEMENT
Video
Rahmat menambahkan setelah meledak di dalam air, tak berselang lama ekor pesawat tersebut sudah tak terlihat lagi tersisa serpihan berupa puing-puing dan barang-barang seperti tas yang terapung di permukaan laut.
“Yang saya lihat itu ada serpihan batang kursi, terus pelampung, terus ada tas-tas lainya,” ujarnya.
Tak hanya itu ia juga menemukan potongan tubuh berupa kaki yang diduga penumpang pesawat naas tersebut.
“Saya dapatkan satu kaki. Saya dan teman saya ambil dan setelah itu kami serahkan ke Tim Basarnas semua yang kita dapat kita serahkan semua,” pungkasnya.
LCU Banda Aceh Serahkan Puing Pesawat ke Tanjung Priok (Foto: Mirsan Simamora/kumparan)
Pesawat Lion Air itu mengangkut 181 penumpang dan 8 kru. Basarnas sudah menerima 24 kantung jenazah yang berisi potongan tubuh dari lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini proses identifikasi masih terus dilakukan terhadap potongan tubuh jenazah, untuk dicocokkan dengan data keluarga korban.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan