kumparan
17 Mar 2019 21:59 WIB

Sandi Dapat Aduan dari Siswa: Kurikulum Terlalu Berat

Cawapres no urut 02, Sandiaga Uno menyampaikan pendapatnya saat Debat Ketiga Calon Wakil Presiden (Cawapres) Pemilu 2019 di Hotel Sultan, Minggu, (17/3). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, menilai perlunya peningkatan kualitas guru untuk pendidikan yang lebih baik. Sandi menyayangkan masih banyak guru honorer yang hingga saat ini belum dinaikkan statusnya menjadi PNS.
ADVERTISEMENT
"Kami berkomitmen kesejahteraan guru, terutama guru-guru honorer yang mereka sudah belasan tahun, bahkan sudah ada yang puluhan tahun berbakti dan mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. (Namun sampai) hari ini mereka belum mendapatkan keadilan, belum mendapatkan kesejahteraan, belum mendapatkan status," kata Sandi di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3).
Sandi menegaskan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas guru menjadi komitmennya dengan Prabowo. Sehingga ia berjanji akan meningkatkan kesejahteraan guru.
"Prabowo - Sandi berkomitmen bahwa PR terbesar kita adalah meningkatkan kualitas guru kita. Kita tingkatkan kompetensinya, kita pastikan kesejahteraannya," tegasnya.
Lebih lanjut, Sandi mengungkapkan kurikulum pendidikan yang selama ini diterapkan di Indonesia terlalu berat. Dalam dialognya dengan seorang siswa asal Pamekasan, Ananda Salsabila Umar, kurikulum di Indonesia terlalu banyak memasukkan mata pelajaran yang tidak diminati oleh sebagian besar murid. Bahkan, menurut dia, mata pelajaran itu belum tentu akan dipakai di bidang pekerjaan yang akan ditekuninya nanti.
ADVERTISEMENT
"Kurikulum, Ananda Salsabila Umar di Pamekasan, mengatakan kurikulum kita terlalu berat dan banyak sekali mata pelajaran tidak diminati dan tidak akan pernah dia pakai. Di bawah Prabowo - Sandi, kita pastikan kurikulum kita fokus kepada hal esensi yang akan membangun karakter budi pekerti, tentunya juga membangun peserta didik yang memiliki akhlakul karimah," tegasnya.
Sandi juga kembali menegaskan akan menghapus sistem Ujian Nasional (UN) jika terpilih nanti bersama Prabowo. Menurutnya, UN merupakan salah satu sumber biaya tinggi bagi sistem pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, ia berjanji akan mengganti UN dengan penelusuran minat dan bakat yang menurutnya jauh lebih bermanfaat untuk diterapkan kepada peserta didik.
"Ujian Nasional tersebut sangat tidak berkeadilan. Kami akan hapuskan, kami gantikan dengan penelusuran minat dan bakat. Minat dan bakat sangatlah aplikatif kepada para peserta didik. Mereka akan mampu untuk diarahkan ke mana mereka, apakah ekonomi kreatif atau pun bidang lain sesuai dengan kemampuannya," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan