Pencarian populer

Seberapa Tahu Millennials tentang Pramoedya?

Ilustrasi Pramoedya Ananta Toer (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Pramoedya Ananta Toer, yang lahir hari ini 92 tahun lalu, adalah sosok penulis Indonesia dengan karya melegenda. Pram, bagi banyak orang, adalah penulis sastra nomor wahid di negeri ini.

Simak:

Tapi apakah sosok Pram juga digandrungi generasi millennials? Atau jangan-jangan justru banyak yang tak tahu siapa sastrawan asal Blora ini.

kumparan mencoba untuk mewawancarai beberapa orang dari generasi millenials tentang sosok Pram di mata mereka.

1. Ijonk Muhammad Adi Nugroho

Bagi lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia ini, sosok Pram cukup berpengaruh terhadap hidupnya. Bacaan favorit Ijonk ialah Tetralogi Buru. Keempat seri novel ini mampu menggugah hatinya untuk mencintai Indonesia.

"Pram adalah Tetralogi Buru. Meski banyak karya lain beliau, bagi saya sosoknya seakan sudah terangkum di dalam novel fenomenal tersebut. Nasionalisme, cinta, antikemapanan, melawan penjajahan, tumbuh di dalam diri saya berkat karya beliau," kata dia.

Melawan kemapanan adalah kata kuncinya. Meski tak pernah bertemu Pram hingga ajal menjemput sang legenda, bagi Ijonk Pram tak tergantikan di dunia sastra Indonesia.

"Tulisan berapi-apinya mampu membuat seseorang yang hidup di tengah kemapanan untuk melawan kenyamanan semu. Setidak-tidaknya untuk saya, begitulah Pram --sosok yang hanya saya kenal lewat karya, namun sudah memaksa saya mencintai Indonesia lebih dalam lagi," ujar Ijonk.

2. Callistasia Anggun Wijaya

Bagi Callista, sapaan akrab Callistasia, Pramoedya adalah "nabi" dalam dunia sastra. Pernyataan ekstrem ini ia lontarkan tentu dengan sebab musabab.

Perempuan yang bekerja sebagai wartawan di salah satu media ternama di Indonesia itu mengatakan, karya-karya Pram begitu melekat di hatinya.

Menurutnya, amat banyak makna kehidupan yang diajarkan Pram kepada masyarakat Indonesia.

"Pram itu nabi. Menurut gue, enggak ada penulis-penulis lain di Indonesia yang karyanya secemerlang dia. Bahasa dalam karyanya mengalir dan tidak pernah usang," kata Callista.

Di ulang tahun Pram yang ke-92 ini, Callista berucap dengan penuh kasih untuk sang maestro sastra.

"I love you, Pak."

3. Zainal C Airlangga

Pram adalah simbol perlawanan pada masanya. Bagi Zainal, Pram bukan hanya penulis namun juga pejuang keadilan lewat rangkaian kata-kata.

"Pram adalah sastrawan besar sekaligus pemikir idealis. Hidupnya selalu diwarnai "penyingkiran" oleh penguasa lintas orde, namun sikap kritis dan karyanya tidak ikut terkikis," kata lulusan magister politik Universitas Indonesia itu.

Dalam proses pembuatan karya, menurut Zainal, Pram selalu menempatkan hati sebagai landasannya. Oleh karena itu tulisan-tulisan Pram terus terngiang di benaknya hingga kini.

"Karya-karyanya dicipta di masa-masa sulit, saat raganya terpenjara juga terbuang," imbuh Zainal.

Pram: Arok Dedes (Foto: pojokbukubuku.blogspot.co.id)

4. Rosseno Aji

Aji adalah salah satu penikmat setia karya Pram. Tetralogi Buru sudah dihabiskannya saat masa SMA. Ia hafal betul tiap lekuk gaya bahasa Pram.

Dua hal yang paling diingatnya dari buku-buku Pram ialah: nasionalisme dan Indonesia.

Namun bagi Aji, yang menarik dari sosok Pram adalah soal pengalamannya saat menulis.

"Rutinitas dia sehari-hari, selepas dari Pulau Buru itu, bangun jam 2 pagi. Setelah itu, nulis sampai jam 8. Istirahat, kemudian dia bakar sampah. Ada ikatan emosional antara dia dan ritual membakar sampah, katanya. Kemudian dia makan pagi. Setelah makan, dia santap bawang putih mentah," kata lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia itu.

Selain itu, Pram adalah sosok yang romantis. Meski tak banyak berkata seperti pujangga, Pram kerap melakukan hal yang spesial dan tak terduga untuk istrinya.

"Selepas bakar sampah dan makan bawang putih, dia lanjut menulis. Ketika sudah pulang dari Pulau Buru, dia lebih sering menulis di dapur. Katanya, supaya bisa dekat terus sama istrinya yang lagi masak," ujar Aji.

5. Nesya Rulita

Pram ialah sosok asing bagi Nesya. Jangankan mengingat hari ini sebagai hari lahirnya, tahu siapa Pram saja tidak.

"Saya enggak tahu siapa Pram. Enggak pernah baca buku-bukunya juga," kata Nesya.

Pekerja kantoran di Jakarta itu selama ini lebih kenal karya-karya sastrawan asing seperti William Shakespeare. Meski demikian, Nesya bukannya tak mau membaca karya Pram.

"Bisa aja sih baca, misal kalau ada yang minjemin," kata Nesya, tersenyum.

Lalu, bagaimana tanggapanmu soal Pram?

Pram: Tetralogi Pulau Buru (Foto: abighifari.files.wordpress.com)

Simak pula

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: