‘Sejuta’ Perkara Citarum
23 Maret 2018 9:38 WIB
0
0
Luka-luka ruam dan bekas garukan memenuhi kedua tangan Ganjar, dari lengan hingga telapak tangan, juga ujung-ujung jarinya.
“Ini sakit gatel udah dua bulan,” kata Ganjar sembari menyunggingkan senyuman malu-malu. Bocah 14 tahun warga Desa Ciwalengke Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung, itu terkena penyakit kulit karena mandi dengan air tercemar.
Ganjar bukan satu-satunya. Menurut Ketua LSM Elemen Lingkungan (Elingan) Kabupaten Bandung, Deni Riswandani, ada puluhan warga lain yang menderita penyakit serupa, bahkan lebih parah.
Berdasarkan data Puskesmas Majalaya yang didapat Elingan, aduan penyakit kulit menempati peringkat kedua, sesudah penyakit pernapasan.
Data itu tak mengagetkan, karena kebanyakan warga Majalaya menggunakan air penuh limbah untuk kebutuhan sehari-hari. Penduduk Desa Ciwalengke misalnya, memasang pipa di sungai untuk mengalirkan air Sungai Citarum--yang penuh limbah pabrik dan domestik--ke tempat pemandian umum.
Warga pinggiran sungai CitarumWarga pinggiran sungai Citarum (Foto:Reuters/Darren Whiteside)
Tempat pemandian umum ini digunakan warga untuk mandi, buang air, mencuci baju, piring, sayuran, dan segala macam kegiatan bersih-bersih yang membutuhkan air. Jadi, sudah barang tentu air yang digunakan untuk membasuh piring dan baju warga setempat, bukan air bersih, tapi air yang juga sama yang digunakan untuk kakus.
Maka, bukannya kotoran terangkat dari piring dan baju, justru kuman makin menumpuk dan meningkatkan potensi serangan penyakit. Dan lingkaran borok itu belum seberapa. Sebab, air bekas digunakan di tempat pemandian umum itu--beserta kotoran-kotorannya--akan masuk lagi ke sungai kecil yang membelah permukiman padat penduduk Ciwalengke.
Dan air sungai itu lagi-lagi ditampung di pemandian umum yang terletak sekitar 300 meter saja dari pemandian umum pertama. Lingkaran setan kotoran di air macam ini jelas membuat penyakit terus bercokol di Desa Ciwalengke.
“Mau gimana lagi, kami enggak punya sumur sendiri,” tutur Ganjar. Ia sendiri sudah bolak-balik ke puskesmas karena gatal yang tak tertahankan. Itu pun ia terpaksa tetap mandi di air penuh limbah itu.
Suasana di Citarum.Mencuci baju di tempat pemandian umum (Foto:Prima Gerhard/kumparan)
Di belakang Desa Ciwalengke, terdapat petakan-petakan sawah yang masih bertahan. Tak jauh berbeda dengan manusia, padi di sawah itu tumbuh dengan mengisap air dari Sungai Citarum yang tercemar.
Hasilnya, padi tak tumbuh dengan baik dan sering gagal panen. Jika normalnya setiap hektare sawah menghasilkan 9 ton gabah, sekarang hanya 4 ton gabah.
“Gabah-gabahnya banyak kopong,” kata Deni, Ketua Elingan.
Jika sudah begini, limbah domestik dan limbah pabrik bukan hanya meracuni warga dan menimbulkan penyakit, tapi juga membawa jerat kemiskinan.
Padahal, pengusaha industri yang membuang limbah dengan kandungan racun berbahaya malah bisa menikmati keuntungan besar, lebih besar jika tanpa pengolahan limbah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Menurut Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, industri yang tidak menggunakan IPAL bisa menghemat biaya Rp 200 juta sampai 300 juta setiap bulannya. Itu sebabnya banyak limbah pabrik yang langsung dibuang ke sungai tanpa diolah dengan semestinya. Betul-betul keterlaluan.
Keruwetan masalah limbah Sungai Citarum yang membahayakan kehidupan 500 ribu orang menjadi perhatian banyak pihak. Ribuan riset dilakukan, ratusan proposal saran penyelesaian diajukan, puluhan program dijalankan, tapi belum terlihat perubahan signifikan.
Citarum kian hari kian kritis, sampai dinobatkan sebagai salah satu sungai paling tercemar di muka Bumi.
Perkara Citarum dari Hulu ke HilirPerkara Citarum dari Hulu ke Hilir (Foto:Basith Subastian/kumparann)
‘Pamor’ Citarum itu lantas menarik perhatian dua pemerhati lingkungan asal Prancis, Sam dan Gary Bencheghib, yang pernah tinggal 13 tahun di Bali. Lama di Indonesia membuat mereka merasa perlu melakukan aksi nyata untuk membantu.
“Kami melakukan penelitian dan menyadari bahwa Sungai Citarum ini paling tercemar di dunia. Kami lantas memutuskan untuk terbang ke sana dari Bali,” kata Sam kepada kumparan lewat sambungan Skype dari New York, Amerika Serikat, Rabu (21/3).
Setelah melihat seberapa buruk kondisi Citarum, Gary mengajukan ide untuk menyusuri Citarum dengan perahu yang terbuat dari botol plastik.
“Kami membuat perahu kayak dari 300 botol plastik. Itu tampak gila pada awalnya, tetapi berhasil,” kata Sam.
Ekspedisi #plasticbottlecitarum itu menyisakan kesan mendalam bagi mereka. Gary dan Sam begitu sedih melihat kehidupan manusia di pinggir sungai. Betapa para penduduk sangat bergantung pada air sungai yang penuh sampah.
“Saya melihat anak-anak berenang, orang-orang mencuci di sungai, menyedihkan karena airnya sangat beracun,” ujar Sam. “Melihatnya secara langsung sangat mengejutkan.”
Gary sempat terjatuh ke sungai selama ekspedisi bersih-bersih Citarum tersebut, dan ia langsung sakit. Gary sempat dirawat seminggu penuh, sedangkan Sam yang terkena percikan air Citarum mengalami gatal-gatal.
“Kulit saya gatal seharian, tapi saya tidak suka mengatakan itu, karena saya seperti (bisa) merasakan banyak orang bergantung pada air itu,” kata dia.
Yang terpenting baginya, tegas Sam, bukan pengalaman buruknya selama menyusuri Citarum, melainkan kenyataan bahwa ekspedisinya bisa ikut menggerakkan perubahan atas Citarum, dengan membuat lebih banyak orang ingin turut serta membantu mengatasi pencemaran parah di sungai itu.
Ekspedisi #plasticbottlecitarum menjadi lebih berarti bagi Sam dan Gary karena berhasil membuat pemerintah Indonesia tertantang bergerak lebih cepat dari sebelumnya untuk membersihkan Citarum.
“Ini sangat luar biasa. Awalnya kami melakukan aksi ini lebih untuk meningkatkan kesadaran dan membawa informasi ini ke seluruh dunia,” tutur Sam.
Sam dan Gary sungguh-sungguh berharap pemerintah Indonesia mampu menyelamatkan 500 ribu manusia yang terdampak langsung oleh racun sungai Citarum.
Pasang Surut Program CitarumPasang Surut Program Citarum (Foto:Lidwina Win Hadi/kumparan)
------------------------
Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab redaksi. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: