Pencarian populer
16 Juli 2018 7:38 WIB
0
0
Sepak Terjang Guru Bajang
Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi (TGB). (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Wajahnya tenang dengan segaris senyum menghias. Berulang kali ditanya oleh berbagai awak media, dengan kalimat tertata ia memberi jawaban serupa. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi tak pernah menampik peluangnya mendampingi Joko Widodo di kontestasi Pemilu Presiden 2019.
“Wallahualam, itu terserah sepenuhnya kepada Bapak Presiden,” ucapnya dalam salah satu acara televisi. Di lain waktu, kepada awak media yang mengadangnya ia menambahkan, “Suatu kehormatan luar biasa (jika diminta menjadi cawapres) bagi siapapun.”
Bahkan ketika ditanya kemungkinan dirinya hanya menduduki posisi menteri, air mukanya tak berubah. “Saya orang yang senang hati mengabdi di ranah kultural, struktural, di manapun,” jawabnya diplomatis.
Sosok yang akrab disapa dengan sebutan Tuan Guru Bajang alias TGB ini menjadi buah bibir segera setelah ia dengan terang benderang mendukung dua periode Joko Widodo. Ia juga dikabarkan masuk bursa bakal calon wakil presiden Joko Widodo meski berstatus anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat--yang masih belum menentukan arah dukungannya.
Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, tak menampik kabar tersebut. Ia mengatakan, dari lima nama bakal calon wakil presiden yang sudah mengerucut, TGB termasuk salah satu nama yang dikantongi Jokowi.
Pernyataan dukungan TGB terhadap Jokowi tidak bisa tidak menjadi polemik mengingat histori karier politiknya. Selain berseragam biru dengan lambang bintang tiga arah, ia pernah menjadi motor utama pemenangan Prabowo-Hatta pada gelaran pilpres sebelumnya.
Tahun 2014 itu, ia berhasil mengumpulkan 72,45 persen suara rakyat NTB untuk Prabowo. Membuat provinsi itu berada di peringkat dua dari sepuluh daerah kekalahan Jokowi pada Pemilu Presiden 2014.
TGB tak surut meski beberapa pihak merespons negatif dukungan yang terang-terangan ia nyatakan untuk Jokowi. Bagi TGB, sikap politiknya itu bersifat pribadi dan sudah final.

Jangan gunakan ayat-ayat perang dalam kontestasi politik di Indonesia. Pemilu bukan semacam battle field--hidup atau mati, mukmin atau kafir. Masa satu bangsa mau saling menihilkan.

- TGB Zainul Majdi

Ia menjamin pilihan politiknya kepada Jokowi tak bakal tergoyahkan, sekali pun misal partainya mencalonkan Agus Harimurti Yudhoyono di Pilpres 2019 mendatang. TGB menyatakan siap menerima risiko apapun jika keputusannya ini nanti bertentangan dengan kebijakan partai.
“Saya tetap dalam posisi saya, dalam komitmen saya. Karena ini keputusan yang saya ambil dengan pencermatan yang cukup lama, selama hampir 4 tahun.”
Guru Bajang Menyeberang (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Gubernur Dua Periode
Sebelum menjejakkan langkah ke pentas politik nasional, TGB sudah makan asam garam di kancah politik daerah. Karier politik pria kelahiran Pancor, 46 tahun silam, itu dimulai ketika terpilih menjadi anggota DPR RI di Pemilu Legislatif 2004 mewakili Partai Bulan Bintang.
Sisa setahun masa baktinya di DPR, ia memutuskan turun gelanggang untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur NTB. TGB berhasil memenangi pemilihan gubernur dan naik ke tampuk kekuasaan pada 2008 meski hanya diusung PKS dan PBB.
Selanjutnya karena PBB tidak lolos parliamentary treshold pada Pemilu 2009, TGB pun beralih partai. Baginya, “Daerah itu kan perlu sinergi dengan pemerintah pusat, termasuk dengan lembaga legislatif pusat.” Maka ketiadaan kursi partai di parlemen bisa jadi masalah.
Pada 2011, TGB menerima pinangan Anas Urbaningrum untuk menjadi Ketua DPD Partai Demokrat di NTB. “Saya merekrut dia untuk menjadi Ketua DPD,” ujar Anas di sela sidang lanjutan Peninjauan Kembali kasusnya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (12/7).
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, menunggang kuda. (Foto: Instagram @tuangurubajang)
Pada pilgub berikutnya di tahun 2013, cucu dari K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid--pendiri Nahdlatul Wathan dan pahlawan nasional--itu berhasil mengalahkan tiga pasang calon gubernur-wakil gubernur lain. Diusung koalisi gemuk Demokrat, Golkar, PDIP, PPP, PAN, Gerindra, dan PKB, ia meraih 44,37 persen suara dan melanjutkan kepemimpinannya di periode kedua.
Selama sepuluh tahun kepemimpinan TGB di NTB, pengamat politik Universitas Islam Negeri Mataram, Kadri, menilai TGB punya rekam jejak mentereng. “TGB bisa menyinkronkan program dan dia selalu punya program unggulan pada setiap periode,” ujarnya via sambungan telepon kepada kumparan, Rabu (11/7).
Salah satunya, TGB berhasil mengangkat kesejahteraan rakyat NTB yang lekat dengan kemiskinan. Prestasi lainnya adalah peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di provinsi tersebut.

TGB ini seorang figur ulama tanpa cela. Ia tidak pernah sekali pun menjelekkan orang, menyalahkan orang.

- Suruji, Bendahara Nahdlatul Wathan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, selama dua periode kepemimpinan TGB persentase kemiskinan di provinsi tersebut mengalami penurunan. Pada Maret 2008, sebelum masa kepemimpinan TGB dimulai, persentase kemiskinan di NTB mencapai 19,73 persen, melebihi rata-rata nasional 18,93 persen.
Warga melintas di Mandalika, Lombok, NTB. (Foto: Ahmad Subaidi/Antara)
Di akhir masa kepemimpinan TGB, angka kemiskinan turun 4,68 persen menjadi 15,05 persen per September 2017. Meskipun demikian, NTB masih menjadi provinsi termiskin nomor delapan di Indonesia.
Penurunan angka kemiskinan itu berbanding lurus dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi NTB. Berdasarkan data BPS tahun 2017, perekonomian di provinsi yang kian masyhur karena geliat sektor pariwisatanya itu tumbuh 7,1 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,6 persen.
Sayang, penurunan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi tak sebanding dengan angka ketimpangan--untuk mengukur ketimpangan pembangunan dan kesenjangan ekonomi. Data BPS menunjukkan angka ketimpangan di NTB naik dari 0,342 pada 2008, menjadi 0,378 pada semester kedua tahun 2017.
Sementara skor Indeks Pembangunan Manusia di NTB meningkat dalam sepuluh tahun kepemimpinan TGB. Pada 2008, NTB mencatat nilai IPM terendah di antara provinsi lain, yakni 61,5. Skor IPM NTB kemudian meningkat menjadi 66,58. Provinsi ini maju menduduki peringkat 29 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.
NTB memang masih berada di ranking papan bawah nasional. Namun bagi Kadri, hal tersebut tidaklah substantif. Menurutnya, “Yang substantif kan tren dan progres penurunannya.”
Lebih lanjut, anggota Tim Penyelaras Kebijakan Provinsi NTB itu berdalih, mengubah keadaan yang sedemikian buruk tidak seperti membalik telapak tangan. Bagi Kadri, “mengubah kondisi (masalah sosial) ini dalam dua periode kepemimpinan bukanlah hal yang mudah.”
Pengakuan atas prestasi TGB juga terekam dalam berbagai macam penghargaan yang ia peroleh selama berkuasa. Paling anyar, TGB meraih penghargaan leadership award dari Kementerian Dalam Negeri sebagai salah satu gubernur terbaik di Indonesia.
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, berjabat tangan dengan Presiden Jokowi. (Foto: Instagram @tuangurubajang)
Selain itu, pada masa kepemimpinan TGB, Provinsi NTB berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK selama tujuh tahun berturut-turut. Opini WTP menunjukkan, NTB di bawah TGB berhasil menerapkan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan baik.
Dari sekian banyak penghargaan yang diperoleh, ada satu yang paling berkesan bagi TGB, yakni penghargaan dari Bappenas kepada NTB pada 2013 sebagai provinsi terbaik pertama dalam Pencapaian Sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).
“Itu adalah komitmen global, dan NTB berhasil menjadi yang terbaik. Tidak hanya di Indonesia, tetapi salah satu yang terbaik di dunia,” ujarnya bangga.
Koordinator Nasional Barisan Relawan TGB, Khairul, mencatat TGB telah meraih 417 penghargaan selama tiga tahun terakhir. Hal itulah yang membikinnya yakin untuk mendorong TGB berkiprah di kancah politik nasional. “Kami yakin bahwa TGB akan dapat tiket jadi pemimpin nasional.”
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi (berjas hitam di depan). (Foto: ntbprov.go.id)
Namun, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Kepemimpinan TGB pun tak lepas dari beberapa kekurangan.
Dalam berbagai kesempatan, figur yang menyelesaikan studi sarjana hingga doktor di Universitas Al-Azhar tersebut selalu menekankan bahwa dirinya mengusung Islam bercorak wasatiyyah alias Islam Moderat. Ironisnya, Mataram--ibu kota NTB--malah menempati peringkat 10 sebagai kota paling tidak toleran dengan skor 3,78 berdasarkan Indeks Kota Toleran yang dirilis Setara Institute pada 2017.
Persoalan intoleransi di NTB memuncak pada Mei 2018. Kala itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah di daerah tersebut, terjadi aksi persekusi terhadap jamaah Ahmadiyah di Desa Greneng, Lombok Timur.
Dalam kejadian di Pulau Seribu Masjid tersebut, tercatat delapan rumah rusak, empat sepeda motor hancur, dan sekitar 24 orang mesti dievakuasi ke Polres Lombok Timur. Menanggapi serangan tersebut, TGB menyerukan kepada warga Ahmadiyah di NTB untuk membaur bersama masyarakat lain.
Antara Dakwah dan Safari Politik
Pada April 2018, puluhan masyarakat yang tergabung dalam Kongres Masyarakat Peduli NTB berdemonstrasi di depan kantor DPRD NTB. Aspirasi yang mereka suarakan tidak lazim: memprotes Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang Zainul Majdi, yang terlampau sering meninggalkan daerah.
TGB memang gemar bersafari ke daerah-daerah untuk berdakwah atau sekedar menghadiri undangan. Kegiatan TGB bersafari, sekaligus dakwah ke berbagai daerah bisa dilihat lewat unggahan foto di akun Instagram miliknya.
Bendahara Nahdlatul Wathan, Suruji, tidak memungkiri ihwal kegemaran TGB berdakwah di berbagai daerah. Bahkan, TGB pernah bercerita kepada dirinya bahwa, “kebahagiaan paling tinggi dalam hidup saya itu ketika berada di depan jemaah.”
Menurut Suruji, TGB memang jauh lebih bahagia menjadi tuan guru, “berceramah menyampaikan dakwah, daripada menjadi yang lain.”
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi. (Foto: ntbprov.go.id)
Belakangan, TGB tampak kian gencar ke sana kemari. Kali ini bukan di hadapan jemaah, melainkan elite-elite politik nasional. Dalam kurun waktu 4-10 Juli, berturut-turut, TGB telah menemui: Ketua Umum NasDem Surya Paloh; Ketua Umum Golkar Airlangga Hartato; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshidiqie; Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan; dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.
Ia menepis kabar yang mengatakan bahwa tujuan dari safari politiknya itu adalah meminta restu untuk maju sebagai cawapres Jokowi. TGB berdalih, kunjungan itu dilakukan untuk berterima kasih atas dukungan tokoh-tokoh tersebut selama sepuluh tahun masa kepemimpinanya di NTB sekaligus mengenalkan gubernur terpilih NTB, Zulkifliemansyah.
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi (kedua dari kiri), bersama Ketua PBNU Said Aqil Siroj (tengah). (Foto: Istimewa)
“Yang lain-lain, saya minta doa kepada tokoh-tokoh yang ada, ya agar kita bisa terus berkontribusi untuk bangsa,” kata TGB.
Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati meragukan ucapan tersebut. Ia menilai TGB memang punya ambisi untuk melenggang ke pentas politik nasional. Sikap politik TGB mendukung Jokowi, menurutnya, mengindikasikan hal tersebut.
Menurut Wasisto, karier TGB di daerah sudah mentok setelah sepuluh tahun memimpin NTB. Peluangnya maju melalui jalur partai pun tampak sulit mengingat Demokrat memiliki si anak emas, Agus Yudhoyono.
“AHY telah disiapkan untuk jadi suksesornya SBY. Dan kita tahu klan Yudhoyono jadi simbol di masyarakat, yang seolah menutupi peluang figur lain untuk muncul,” ujar Wasisto.
Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, berjabat tangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: ntbprov.go.id)
Selain kecilnya kesempatan dari Demokrat, latar belakang partai itu juga mempersempit peluangnya menjadi cawapres Jokowi.
“Bagaimana pun mengenai posisi wakil presiden itu pasti harus mendapatkan persetujuan Bu Megawati dari PDIP. Kita tahu hubungannya banteng dengan mercy ini kan kurang begitu bagus,” ujar Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, kepada kumparan.
Persoalan lain adalah tingkat keterpilihan dan keterkenalan TGB. Berdasarkan survei KedaiKOPI pada Maret 2018, elektabilitas TGB sebesar 6,2 persen berada di bawah nama Gatot Nurmantyo, AHY, dan Anies Baswedan. Sementara popularitasnya baru 20,7 persen jauh di bawah nama-nama cawapres potensial lainnya yang jauh lebih terkenal.
Sementara Survei SMRC soal Calon Wakil Presiden: Pandangan Elite, Opinion Leader, dan Massa Pemilih Nasional, memperlihatkan TGB masuk dalam lima besar cawapres yang disukai pemilih. Ia mengalahkan nama-nama seperti Anies Baswedan dan Agus Yudhoyono.

TGB cukup punya nama dan pengaruh sebagai opinion maker di tingkat lokal dan nasional. Nahdlatul Wathan yang ia pimpin seperti NU di Jawa Timur. Kalau Gus Dur skala nasional, TGB skala lokal.

- M. Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer

Survei LSI Denny JA menunjukkan, TGB masuk tiga besar cawapres dari kalangan tokoh agama yang potensial untuk Jokowi.
Dengan elektabilitas dan popularitas yang masih rendah, PR besar menanti TGB jika ia mengincar posisi di samping Jokowi, kecuali jika kursi menteri yang ia cari.
Di posisi mana pun itu, Tuan Guru Bajang menegaskan, “Saya dengan senang hati mengabdi.”
------------------------
Ikuti aksi Guru Bajang Menyeberang di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: