kumparan
18 Des 2018 9:23 WIB

Siasat Jokowi Bentengi Jawa Tengah

Joko Widodo saat berkampanye di Malang pada 30 Maret 2014. (Foto: AFP PHOTO/AMAN ROCHMAN )
Kandang banteng mulai terusik. Rencana tim Prabowo-Sandi untuk membuat posko pertempuran di sana, dalam bahasa Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto, sama artinya membangunkan para banteng.
ADVERTISEMENT
Pria yang akrab disapa Bambang Pacul ini segera mengumpulkan seluruh pimpinan cabang tiap kota dan kabupaten di Jawa Tengah dalam rapat DPD Jawa Tengah PDIP, Senin (17/12). Sebelumnya Bambang telah dipanggil oleh Joko Widodo ke Istana Negara pada Senin minggu lalu. Kesiapan Jawa Tengah menghadapi gempuran lawan jadi soal.
Semula, target suara Jokowi-Ma’ruf di Jawa Tengah sebesar 70 persen. Demi mengamankan lumbung suara dari serbuan kubu sebelah, Jokowi meminta target suara di ‘kandang banteng’ itu naik jadi 80 persen. Bagaimana caranya?
“Saya sampaikan di rapat DPD PDIP, untuk menanggulangi adanya posko besar 02 Prabowo-Sandi—meski belum dipastikan, Solo akan membentuk posko pemenangan di tiap kelurahan,” ujar Sekretaris DPC Solo PDIP Teguh Prakosa saat dihubungi kumparan setelah rapat usai.
ADVERTISEMENT
Usulan tersebut disambut hangat oleh pimpinan cabang lainnya. Ketuk palu, usulan pun menjadi instruksi partai untuk seluruh cabang di Jawa Tengah.
Sandiaga saat menerima sumbangan dana kampanye dari Aliansi Mahasiswa Semarang. (Foto: ANTARA Foto/Harviyan Perdana Putra)
“Pokoknya nanti untuk mengantisipasi itu (posko Prabowo-Sandi) secara riil, silakan membentuk tim pemenangan di tingkat desa dan kelurahan di seluruh DPC PDIP se-Jawa Tengah. Itu saja instruksinya,” papar Teguh yang juga menjabat Ketua DPRD Kota Solo.
Pembentukan posko pemenangan hingga level desa dan kelurahan itu ditujukan agar lebih dekat dengan masyarakat dan bisa memantau pergerakan kubu lawan.
Di Solo, kampung halaman Jokowi, posko pemenangan akan disahkan setiap hari setiap malam mulai dari 10 Januari 2019. Peresmian posko pemenangan itu akan berlangsung selama 51 hari hingga jelang pencoblosan pada April nanti.
ADVERTISEMENT
Perihal teknis diserahkan kepada masing-masing daerah. Satu hal yang pasti, mereka yang tak sesuai instruksi partai akan dikenai sanksi. “Kita siap tempur,” ucap Bambang Pacul tegas.
Baginya, apa yang dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi hanyalah mencari sensasi, penuh gimmick. “Dia hanya bermain sensasi. Mendatangkan 6 mobil aja pidato. Di wilayah Surakarta, mobil PDIP ada lebih dari 60,” ujarnya.

Saya janjikan, begitu masuk tahun 2019, pasukan PDI Perjuangan semuanya on fire.

- Bambang Wuryanto, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah

Di atas kertas, Jokowi-Ma’ruf Amin memang masih unggul.
Berdasarkan survei Litbang Kompas, elektabilitas Jokowi di tanah leluhurnya itu meningkat hingga 68,2 persen pasca-Pilkada Jawa Tengah 2018. Sementara elektabilitas Prabowo hanya sebesar 13,4 persen.
Perubahan Elektabilitas Pasca-Pilkada (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Meski begitu, optimisme kubu Prabowo-Sandi lahir di sisi yang lain. Yakni tipisnya selisih suara antara Ganjar Pranowo-Taj Yasin dengan Sudirman Said-Ida Fauziyah.
ADVERTISEMENT
Beberapa hasil survei sempat memprediksi kemenangan telak untuk Ganjar yang merupakan petahana. Litbang Kompas pada Mei 2018 misalnya mencatat elektabilitas Ganjar-Yasin berada di atas angin sebesar 76,6 persen, jauh meninggalkan Sudirman-Ida dengan 15 persen suara.
Demikian halnya dengan survei Charta Politika yang sempat memprediksi kemenangan Ganjar-Yasin dengan 70,5 persen suara, sementara Sudirman-Ida hanya akan memperoleh 13,6 persen.
Sandiaga Uno (kanan) didampingi Direktur Materi Debat dan Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Sudirman Said (kiri). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Nyatanya kejutan datang di akhir perhitungan. Ganjar-Yasin menang dengan 58,8 persen dengan 10,3 juta pemilih, selisih 3 juta (17,6 persen) dari Sudirman-Ida yang memperoleh 41,22 persen suara.
Dari sinilah keyakinan kubu Prabowo-Sandi untuk menggoyang suara Jokowi di rumahnya sendiri terbit.
“Kalau Ganjar Pranowo menangnya 70 persen, bisa dibilang kalau Jawa Tengah adalah kandang banteng. Tapi kalau menangnya cuma 57 persen, menurut saya sih menang tipis. Tidak menggambarkan dominasi PDIP atau pendukung Jokowi,” kata Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono saat ditemui kumparan di rumahnya, Jakarta Selatan, Selasa (11/12).
ADVERTISEMENT
Maka modal 41 persen suara yang dimiliki Sudirman-Ida dinilai menjadi modal yang bisa dikembangkan untuk Pemilu Presiden 2019.
“Kita punya dua referensi. Pertama, di Pilpres 2014 Pak Prabowo mendapatkan 33 persen. Bergeser ke Pilgub 2018, situasinya berubah. Daerah yang diklaim sebagai kantong suara partai tertentu ternyata tidak terbukti,” ujar Sudirman Said di rumahnya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Sudirman meyakini besarnya suara yang ia peroleh merupakan pertanda bertambahnya juga dukungan untuk Prabowo. “Meskipun ada Mbak Ida Fauziyah dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), tapi tetap saja yang di depan (Sudirman selaku calon gubernur) yang dihitung orang. Saya sebagai representasi dari Prabowo,” ucapnya.
Jawa (Tengah) adalah Kunci (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Keyakinan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 2014-2016 itu dibantah oleh Ketua DPW Jawa Tengah PKB Yusuf Chudlori. Pria yang akrab disapa Gus Yusuf itu menegaskan bahwa 41 persen suara yang diperoleh Sudirman saat itu adalah berkat keberadaan Ida Fauziyah dan suara Nahdliyin yang mendukungnya.
ADVERTISEMENT
“Karena Pak Dirman itu di Jateng itu ‘orang baru’. Sementara Mbak Ida, meskipun orang baru tetapi jaringannya bisa dikatakan lebih mapan,” tuturnya via sambungan telepon kepada kumparan, Rabu (12/12).
Menurutnya hal tersebut bisa dilihat dari lokasi kemenangan pasangan Sudirman-Ida saat itu yakni Tegal, Purbalingga, Kebumen, dan Brebes. “Ya jelas Tegal, Brebes, terus di Kebumen. Kita menang itu karena basis NU di sana. Itu PKB yang mengonsolidasi. Menurut saya, tidak fair kalau suara diklaim Pak Dirman saja” ucap Gus Yusuf.
Hal serupa dilontarkan Bambang Pacul. “Ada dua pertanyaan. Apakah Sudirman sadar bahwa dia itu didukung warga Nahdliyin kemarin. Kedua, bantengnya (anggota PDIP) gak bergerak penuh. Saya istirahatkan,” tutur Bambang.
ADVERTISEMENT
Bagi Bambang, Sudirman belum mengetahui pertempuran suara sesungguhnya sebab tidak memperhitungkan suara komunitas Nahdliyin dan PKB yang kini mendukung Jokowi-Ma’ruf.
Suara PKB, salah satu partai pendukung Jokowi, saat itu memang terbelah. Berdasar data Litbang Kompas, 58,5 persen massa PKB Jawa Tengah saat itu mendukung Sudirman-Ida, sementara 41,5 persen sisanya mendukung Ganjar-Yasin.
Kini suara yang terbelah ketika pemilihan gubernur itu diharapkan bisa bulat mendukung Jokowi-Ma’ruf. Gus Yusuf meyakini bahwa seluruh santri dan mesin partai PKB Jawa Tengah solid mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.
Sudirman Said (kiri) dan Ida Fauziyah. (Foto: ANTARA FOTO/R. Rekotomo)
“Kita akan buktikan lah kalau kemarin Pak Dirman menang di Tegal itu karena PKB. Kita akan buktikan besok yang akan menang Pak Jokowi. Di Tegal, Brebes, Kebumen, dan Purbalingga itu akan menang Pak Jokowi,” tegas Gus Yusuf.
ADVERTISEMENT
Ia juga menjamin, organisasi Fatayat NU yang sebelumnya setia kepada pasangan Sudirman-Ida pada Pilgub Jateng lalu sudah terkonsolidasi. “Bagi Fatayat, Kiai Ma’ruf itu adalah abahnya,” imbuh Gus Yusuf.
Ketua Fatayat NU Jawa Tengah, Tazkiyyatul Muthmainnah yang akrab disapa Iin, mengatakan secara kelembagaan Fatayat bersikap netral. “Tapi saya yakin sampai ke akar rumput kader-kader Fatayat tahu mana yang harus didukung, yang jelas kader NU tulen,” ucapnya kepada kumparan, Sabtu (15/12).
Iin juga menegaskan bahwa pilihan Fatayat mendukung Sudirman-Ida pada Pilgub Jateng kemarin murni karena sosok Ida Fauziyah semata, bukan Sudirman Said.
Sandiaga Uno ketemu ulama. (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan)
Menurut Bambang, komunitas Nahdliyin dan komunitas Banteng akan sulit digoyahkan oleh Prabowo-Sandi. “Komunitas itu cirinya adalah di situ ada tata nilai, ada pemimpin, ada simbol. Saya tidak khawatir, sebab warga merah (PDIP) sama hijau (PKB dan Nahdliyin) di Jawa Tengah susah geser.”
ADVERTISEMENT
Apalagi calon wakil presiden Prabowo, Sandiaga Uno, yang paling lincah berkampanye di Jawa Tengah memiliki catatan buruk di mata Nahdliyin.
“Kalau di basis Nahdliyin, saya rasa manuvernya Pak Sandi tidak akan ngefek apalagi dengan blunder Sandi melangkahi makamnya istri KH Hasyim Asy'ari. Itu jadi catatan khusus bagi Nahdliyin,” tutur Gus Yusuf.
Gus Yusuf dan Bambang Pacul sepakat bahwa demi merawat suara yang telah ada mereka tetap harus berupaya keras.
“Tidak ada kata lain kecuali kita harus turun langsung merebut hati masyarakat Jateng. Tidak cukup hanya dengan posko. Nanti ada pembagian tugas antara Nahdliyin dengan PDIP. Masing-masing akan fokus di basis mereka,” papar Gus Yusuf.
Selain mempersiapkan ‘pasukan banteng’ PDIP, mengonsolidasikan suara Nahdliyin dan PKB di Jawa Tengah, kubu Jokowi-Ma’ruf masih memiliki tantangan dalam menyatukan sekutu mereka lainnya, yakni PPP (Partai Persatuan Pembangunan).
ADVERTISEMENT
Video
Pada Pilpres 2014, PPP sempat berada di sisi Prabowo-Hatta Rajasa, sebelum akhirnya keluar dari Koalisi Merah Putih lalu bergabung dengan Koalisi Indonesia Kerja pasca-pilpres.
Saat itu, Ketua Majelis Syariah PPP Kiai Maimun Zubair memberikan dukungan secara terang kepada Prabowo. Dukungan itu bahkan sempat disiarkan melalui iklan kampanye Prabowo-Hatta Rajasa di televisi nasional.
“Dengan kemenangan Pak Prabowo, insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi,” kata Kiai Maimun di iklan itu dulu.
Pada pertarungan Pilpres 2019 kali ini, kubu Prabowo kembali melancarkan pendekatan kepada ulama yang pernah menjabat Wakil Ketua MPR tersebut. Pada September, Prabowo bertandang ke Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, yang diasuh Kiai Maimun.
ADVERTISEMENT
“Semua orang yang menyaksikan interaksi Pak Prabowo dan Mbah Maimun itu ada semacam kerinduan emosional. Mbah Maimun menghendaki pemimpin yang tegas, yang disebutnya akan mengembalikan kejayaan Indonesia. Ini kan sinyal-sinyal yang harus kita tangkap. Insya Allah,” klaim Sudirman Said.
Prabowo Subianto (kanan) saat sowan ke KH Maimoen Zubair, Rembang. (Foto: Dok. Tim Media Prabowo)
Namun, Ketua Umum PPP Romahurmuziy membantah perihal dukungan Kiai Maimun kepada Prabowo. “Kiai Maimun sudah dawuh (perintah) langsung kepada Ketua Umum PPP dan sudah sangat terang tidak ada ambiguitas. Beliau menyampaikan, ‘Sampaikan ke mana pun bahwa saya mendukung Pak Jokowi’,” kata Romy kepada kumparan, Sabtu (15/12).
Meski Kiai Maimun sudah memberikan pernyataan mendukung Jokowi, namun ia paham PPP belum benar-benar dalam kondisi solid. Terlebih kondisi PPP yang saat ini terpecah karena adanya keputusan Muktamar Jakarta dari kubu Humphrey Jemat yang menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi pada tengah November lalu.
ADVERTISEMENT
“Sekarang kan tidak ada satu pun partai politik yang 100 persen solid,” kilah Romy.
Tapi Romy berjanji akan membulatkan suara PPP. “Kita akan turun ke basis-basis PPP untuk mewartakan keputusan partai, sekaligus alasan partai mendukung Pak Jokowi, berbeda dengan kondisi 2014 lalu,” ucapnya.
Lipsus “Markas Prabowo di Tanah Jokowi” (Foto: kumparan)
Memupuk optimisme dan kekuatan mental, kubu Jokowi-Ma’ruf meyakini bahwa pendirian markas Prabowo di Jawa Tengah tidak akan berpengaruh signifikan.
Direktur Program Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Aria Bima, berkata bahwa ia tak melihat adanya korelasi antara lokasi posko tim sukses dengan tingkat elektabilitas.

Ini cuma bagian dari perang psikologi secara politik.

- Arie Sudjito, Pengamat Politik UGM

“Mau kantornya Prabowo-Sandi di Jakarta, di Jawa Tengah, atau di bulan sekalian, enggak ada persoalan yang terlalu mengkhawatirkan,” ujar Aria ketika ditemui kumparan di Rumah Cemara, Jakarta Pusat, Kamis (13/12).
ADVERTISEMENT
Bahkan, bagi politikus PDIP ini, masyarakat Jawa Tengah bisa menjadi guru yang baik terutama untuk Sandiaga Uno dalam berpolitik.
Strategi Prabowo-Sandi Merebut Jawa Tengah (Foto: Basith Subastian/kumparan)
“Saya malah melihat bagaimana Sandi belajar dari Jawa Tengah tentang cara kampanye yang lebih bermartabat. Karena di sana masyarakatnya, tokoh-tokohnya baik tokoh agama maupun tokoh masyarakat cukup matang menyangkut masalah kontestasi,” tuturnya.
Tapi, tentu saja mengamankan suara Jokowi-Mar’ruf di ladang kunci tetap jadi yang utama bukan?
------------------------
Simak pertempuran kedua kubu di tengah Jawa di Liputan Khusus kumparan: Markas Prabowo di Tanah Jokowi
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan