Pencarian populer

Simpang Siur Harta Karun Sriwijaya di Sungai Musi

Harta Karun Sungai Musi (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Logam mulia dan barang-barang antik banyak ditemukan di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Penemuan ini sudah ramai dibicarakan sejak lama, dan dipercaya merupakan sisa peninggalan harta karun Kerajaan Sriwijaya.

Barang-barang yang ditemukan berupa perhiasan, pajangan, ataupun emas. Temuan itu ada yang disimpan, ada juga yang dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Melihat fenomena ini, kumparan ikut mendatangi lokasi penemuan harta karun itu untuk menelusuri apakah memang betul, harta karun tersebut berasal dari Kerajaan Sriwijaya?

kumparan berbincang dengan Kepala Balai Arkeolog Palembang, Budi Wiyana yang melakukan penelitian di Sungai Musi. Menurut Budi harta karun peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi belum bisa dipastikan keasliannya.

Di sana memang banyak ditemukan perhiasan dan manik-manik, tapi ia tak yakin kalau itu berasal dari kerajaan Sriwijaya. Menurutnya itu bisa saja barang dari abad yang berbeda dan memiliki kemiripan dengan benda Sriwijaya.

“Saya pribadi masih meragukan, tapi saya pribadi juga bisa gini, kalau misalnya manik-manik itu kan (barang) umum ya, peninggalan suatu tempat dengan tempat lain, mungkin ada kemiripan,” jelasnya.

Tetapi untuk temuan harta berupa emas, bisa saja memang betul dari Sungai Musi. Tapi belum tentu dari Sriwijaya bila dilihat dari sisi model cincin, dan perhiasan yang ditemukan.

Harta Karun Sungai Musi (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Bahkan budi menganggap barang-barang yang ditemukan di Sungai Musi terlihat lebih baru, atau kurang kuno dibanding suatu tempat yang ia sudah teliti sejak 2000 lalu, yakni Pantai Timur, Lampung Selatan. Sehingga kecil sekali kemungkinan apa yang ditemukan dan dijual dari Sungai Musi adalah peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

“Dari cara pengerjaan, terus perhiasannya yang masih sederhana, itu kecil kemungkinan kalau itu ditemukan di Sungai Musi,” tuturnya.

Sungai Musi telah menimbun berbagai peradaban. Pada masa Sriwijaya yang ada di abad 7 hingga 13, teknolgi saat itu sudah lebih maju dari pada di kawasan Pantai Timur yang masih sederhana, sehingga harusnya benda-benda yang disebut sebagai harta karun Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Musi lebih maju teknologinya.

“Abad Sriwijaya, abad 7 sampai 13, mengenal teknologi itu sudah lebih maju daripada tempat di Pantai Timur yang masih sederhana. Saya meragukannya di situ,” kata Budi.

Koin kuno dijual di pasar cinde, Kota Palembang. (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Penyebutan harta karun peninggalan Kerajaan Sriwijaya, lanjut Budi, bisa saja sengaja diberikan untuk menarik perhatian pembeli maupun kolektor sehingga barang itu menjadi memiliki harga.

Disinggung soal jenis-jenis barang asli Kerajaan Sriwijaya, Budi belum bisa memastikan barang atau ciri khas apa yang sudah menjadi otentik Kerajaan Sriwijaya.

“Kita sampai sekarang belum ada data yang menunjukkan itu, karena memang keterbatasan data arkeologis sebetulnya. Kalau simbol-simbol sebetulnya yang kita lihat, itu paling hanya di prasasti,” jelas Budi.

Barang-barang kuno dijual di pasar cinde, Kota Palembang. (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Selain itu, Kerajaan Sriwijaya termasuk peninggalan sejarah yang sulit diidentifikasi, karena jarak abad yang sangat lama. Tidak ada tanda-tanda ciri khas dari Kerajaan Sriwijaya.

Sriwijaya runtuh pada abad 13, lalu berlanjut dengan zaman kesultanan pada abad 16. Jelas sangat jauh jarak antara peradaban Sriwijaya dengan peradaban masa kini.

Infografik barang temuan di Sungai Musi. (Foto: Basit Subastian/kumparan)

Berbeda dengan masa kesultanan, arkeolog bisa meyakinkan keaslian peninggal kesultanan sebab mereka meninggalkan ciri khas. Namun untuk Kerajaan Sriwijaya, mereka tidak bisa klaim barang asli Sriwijaya karena mereka belum menemukan data simbol khas kerajaan Sriwijaya.

“Kita juga bisa lihat dari jenis barangnya, kalau misal koin, itu kan jelas, Sriwijaya tidak pernah mengeluarkan koin Sriwijaya. Terus itu jelas masa-masa kesultanan, karena tertulis tahunnya, kan kalau dari tahun kan, bisa dirunut yang memerintah siapa,” ucap Budi.

Awak kapal sedang menyaring benda yang di dapat dari pipa penyaring. (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Berbeda dengan Yudi, seorang kolektor yang menemukan benda peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Peninggalan itu berbentuk seperti sepatu, tapi sebenarnya benda itu adalah kompor untuk memasak.

Benda itu memang belum resmi diperiksa oleh Balai Arkeologi Palembang, namun menurut arkeolog, benda besar seperti sepatu itu peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

“Kalau lewat uji balar belum, tapi kalau menurut arkeolog, kalau sudah bentuk sepatu hasil temuan itu (dari) Sriwijaya,” kata Yudi.

Kompor pada zaman Sriwijaya. (Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan)

Tidak menutup kemungkinan di kedalaman Sungai Musi sudah tercampur dengan benda-benda dari peradaban lain. Namun masih banyak yang percaya, apapun yang ditemukan di Sungai Musi adalah harta karun Sriwijaya.

---------------------------------------------------------

Simak selengkapnya konten spesial dalam topik Harta Karun Sungai Musi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: