Pencarian populer
Sosok Haris Simamora, Pembunuh Keluarga Daperum, di Mata Kriminolog
17 November 2018 19:30 WIB
0
0
Haris Simamora dibawa ke tempat ia membuang linggis. (Foto: Reki Febrian/kumparan)
Kecaman, hujatan, hingga sumpah serapah banyak ditujukan kepada Haris Simamora. Semua itu datang karena kekejian Haris yang tega menghabisi suami istri Daperum Nainggolan dan dua anak mereka yang masih kecil.
Padahal selama ini, Haris yang pengangguran, hidup bersama keluarga Daperum di Pondok Gede, Bekasi. Haris banyak dibantu dan juga akrab dengan anak-anak keluarga Daperum. Entah apa yang melandasi tindakan Haris itu hingga dengan kejinya membunuh empat orang yang sehari-hari hidup dengannya.
Dari kacamata Kandidat Doktor Kriminologi dari Australian National University, Leopold Sudaryono, pembunuhan sadis dengan menggunakan linggis yang tidak mematikan seketika, kekerasan ekstrim yang berulang, terhadap orang yang dikenal bahkan terhadap anak kecil, menurut dia mengindikasikan tingkat gangguan kesehatan jiwa.
"Ini bisa saja karena kondisi sakit mental yang menahun atau akumulasi kebencian yang sudah demikian besar dan merusak kesehatan jiwa pelaku," beber Leopold, Sabtu (17/11).
Haris Simamora dibawa ke tempat ia membuang linggis. (Foto: Reki Febrian/kumparan)
Dan urusan mental yang terganggu itu tentu tak menghentikan pemidanaan untuk Haris.
"Ada pengakuan, ada bukti mobil yang dibawa dan bercak darah sudah cukup," ujarnya.
Leopold melanjutkan, kasus pembunuhan keluarga Nainggolan ini adalah kasus sadis. Leopold mewanti-wanti adanya celah pelaku memakai ahli kejiwaan untuk penghapusan pidana dengan pasal 44 KUHP karena masalah kejiwaan.
"Dengan dasar karena kurang sempurna akal/jiwanya atau terganggu karena sakit. Itu biasanya dilakukan oleh tersangka yang punya sumber daya untuk menghadirkan saksi ahli kejiwaan," ujarnya.
Haris Simamora, pelaku pembunuhan 1 keluarga di Pondok Gede, dihadirkan saat jumpa pers di Polda Metro Jaya. (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Tapi dengan melihat pelaku dan kemampuan sumber daya yang dimiliki, Leopold optimistis Haris tak akan memakai jalan itu.
Kemudian, soal lainnya, selama di penjara atau di tahanan, Haris mesti diberi seorang psikiater.
"Ada assessment oleh psikolog atau kalau perlu psikiater untuk memastikan risiko (nantinya) terhukum tidak mengulangi kejahatannya," tutup dia.
Haris sendiri terancam pidana mati atas perbuatannya. Polisi menjeratnya dengan pembunuhan berencana pasal 340 KUHP. Haris selama ini dendam dan sakit hati terkait tidak dipercaya lagi mengurus kos-kosan, dan juga kerap dimarahi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: