kumparan
15 Nov 2018 8:08 WIB

Strategi Political Marketing Sandi: Nari India hingga Main Ayam-ayaman

Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno beli ayam-ayaman di Purwakarta. (Foto: Dok. Media Sandi)
Cawapres Sandiaga Uno kerap mengunggaah video unik di akun instagramnya. Tak jarang, Sandi menggabungkan kegiatan kampanyenya dengan potongan video yang sedang viral saat ini.
ADVERTISEMENT
Misalnya saja, video Sandi menggabungkan kampanye bersama emak-emak dengan lagu dan tari India, membeli mainan ayam-ayaman lalu memberi nama Owi dan Owo, dan bubur yang dibalik tak tumpah lalu dipadukan dengan video juri American Got Talent.
Sandiaga Uno senam di pabrik gula. (Foto: Dok. Tim Pemenangan Sandiaga Uno)
Pakar komunikasi politik, Gun Gun Heryanto mengatakan, apa yang dilakukan Sandi merupakan bagian dari political marketing. Langkah ini dilakukan tentu untuk meraih seluruh lapisan masyarakat khususnya kaum milenial yang banyak menggunakan media sosial, seperti instagram.
"Sebenarnya apa yang dilakukan dia itu standar text book political marketing. Sama juga yang dilakukan Jokowi itu ngerti banget political marketing," kata Gun Gun saat dihubungi kumparan, Kamis (15/11).
"Itu biasa dalam political marketing. Apalagi instagram ini kan media baru yang menjangkaunya adalah lebih banyak milenial, milenial sekarang besar. Jadi sedapat mungkin mempengaruhi netizen pengguna instagram. Memang usianya milenial tapi karakteristik sosiologisnya seperti apa macam-macam juga," jelas Gun Gun.
Pengamat Politik Gun Gun (Foto: Adhim Mugni Mubaroq/kumparan)
Bila ditelisik lebih dalam, penggunaan musik dan tari India yang ditampilkan, Sandi ingin menggaet masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dan itu tidak main-main karena potensi suaranya juga cukup besar.
ADVERTISEMENT
"Jadi saya lihat seperti India itu tentu konteksnya untuk masyarakat menengah ke bawah. Itu ceruknya besar dalam konteks pemilih dan ibu-ibunya juga dapat," imbuh dia.
Saat kampanye seperti ini, sangat tidak mungkin menggunakan strategi atau pesan tunggal. Pesan-pesan yang disampaikan pasti dikombinasikan dengan target pemilih yang sedang dituju, seperti milenial atau emak-emak.
"Influencing must behavior in competitive situation. Itu pakem. Mempengaruhi perilku massa dalam situasi yang kompetitif bukan perilaku individu tapi perilaku massa. Kenapa terminologinya perilaku massa. karena heterogenitas dan masif," tutur dia.
Kampanye semacam ini tidak semata berdasarkan rasionalitas, tapi bisa berdasarkkan hobi. Gun Gun menjelaskan, pendekatan ini juga berkaitan dengan psikologis dan sosisologis.
"Sosiologis itu kan bisa SES, Socio Economic Status, bisa juga mobilisasi kedekatan premordial dan hobi. Kalau psikologis lebih pada pelibatan, political engagement misalnya komunitas merasa dilibatkan dan mereka suaranya dilibatkan," tambah dia.
ADVERTISEMENT
Gun Gun mengatakan, hal ini juga dilakukan oleh Jokowi. Aksi Jokowi mengendarai sepeda motor di sejumlah daerah sekaligus mengunjungi pasar juga merupakan langkah yang dilakukan dalam koridor political marketing.
"Kalau kita mau jujur, kampanye hari ini bergantung pada Jokowi dan Sandi. Di kubu Jokowi kiai Ma'ruf dia mungkin tidak terlalu menjadi magnet elektoral. Di kubu Prabowo-Sandi, Prabowo tidak jadi magnet elektoral. Jadi impresinya harus dibangun kedua sosok ini," ucap dia.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·