Pencarian populer
Sudirman Said: Jawa Tengah Bukan Lagi Kandang Banteng
Sudirman Said di Kantor DPP Partai Gerindra (Foto: Dok. Tim Media Sudirman Said)
Juni lalu, Sudirman Said harus menelan pahitnya kegagalan menjadi orang nomor satu di Jawa Tengah dalam Pilgub 2018. Ia dan pasangannya, Ida Fauziyah, hanya meraup 41,22 persen suara ketika berhadapan dengan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang menggondol 58,7 persen suara.
Saat kampanye Pilgub Jateng, Sudirman harus melalui hari-hari yang penuh dengan prediksi perolehan suara kecil ketika kampanye. Beberapa lembaga survei menunjukkan popularitasnya hanya berkisar antara 13 hingga 22 persen saja. Tapi ia tampil secara mengejutkan dengan meraih lebih dari 40 persen suara.
Angka ini memberinya pelajaran, warna merah di Jawa Tengah sudah sedikit memudar. Bekal inilah yang ia bawa mengawal pasangan capres cawapres jagoannya, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
“Situasinya berubah, yang diklaim sebagai kantong-kantong suara partai tertentu ternyata itu tidak terbukti, preferensi masyarakat telah berubah,” kata Sudirman kepada kumparan, Rabu (12/12), di kediamannya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Namun pada ajang Pilpres 2019, Sudirman dan Ida tak lagi sejalan. Ketua DPP PKB itu sudah duduk di kubu seberang, bersama Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sedangkan Sudirman kini menjabat Direktur Materi Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sekaligus caleg partai Gerindra.
Sudirman yakin Prabowo-Sandi bisa mendapat porsi suara lebih besar dari angka perolehannya di Pilgub Jateng lalu. “Meskipun ada Mbak Ida yang merupakan kader PKB, tapi tetap saja yang di depan (cagub) yang dihitung,” kata Sudirman percaya diri.
Sudirman Said mengungkapkan betapa pentingnya suara di Jawa Tengah. Ia datang membawa kiatnya kepada Prabowo-Sandi, lalu seperti apa ia menggeruduk kandang banteng?
Konsolidasi Relawan Prabowo-Sandi di Jawa Tengah. (Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan)
Ada urgensi apa membangun markas di Jawa Tengah?
Sederhana saja, ini merupakan wujud kerendahan hati dari pasangan Prabowo-Sandi karena kami menyadari bahwa keterpilihan di Jawa Tengah itu masih ketinggalan agak jauh dari pasangan nomor satu.
Jadi kami mencari cara bagaimana mengejar itu di Jawa Tengah. Kandidat kami harus lebih sering bertemu masyarakat supaya mereka makin kenal, melihat masalah-masalah masyarakat, mendengar keluhan mereka, dan mencoba mencari solusinya dengan program-program ke depan.
Jadi pertama kami menyadari adanya selisih angka keterpilihan yang lebar dan kedua kami ingin lebih dekat dan mendengar lebih banyak dari masyarakat di Jawa Tengah.
Jateng akan kami jadikan titik berangkat, jadi secara praktis pasti lebih efisien, lebih efektif bergerak. Ibarat satu kaca pembesar, maka kami zoom, kami dalami Jawa Tengah secara khusus. Dan di sana tentu akan menerima informasi mengenai situasi Jawa Tengah secara keseluruhan dengan lebih cepat dan akurat, sehingga bisa direspons dengan tindakan-tindakan kegiatan kampanye.
Bisa diceritakan bagaimana prosesnya hingga ide ini tercetus?
Setiap pekan Sandiaga Uno mengadakan bikin rapat, Prabowo Subianto mengadakan rapat, BPN juga mengadakan rapat. Bisa dipastikan input mengenai keadaan lapangan masuk dari banyak sisi.
Awal Desember atau akhir November itu kami mengadakan pertemuan, saya diminta mengundang simpul relawan Magelang dan Semarang untuk mengumpulkan elemen partai dan simpul-simpul dari eks karesidenan. Dalam pertemuan itu hadir pula Sandi, saya, Ketua Gerindra Jawa Tengah Abdul Wachid, ada juga beberapa partai lain yang diutus, dari PAN, dari Demokrat, dan dari PKS.
Progres dari masing-masing daerah dipaparkan, kemudian terlontar keputusan, “Kalau begitu bagus jika kami lebih penetrasi ke Jawa Tengah.”
Itu idenya Sandi sendiri. “Wah kalau begitu mari kita pikirkan pindah ke Jawa Tengah, sebagai titik berangkat, atau titik menggerakan seluruh strategi nasional.” Sementara itu, tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain dari banyak pihak hingga akhirnya menyimpulkan dan membuat keputusan.
Jadi masukan datang dari mana saja dan pada akhirnya memang kandidat keduanya baik Prabowo dan Sandi mengamini.
Jawa (Tengah) adalah Kunci (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Apakah salah satu pertimbangannya adalah hasil Pilgub Jawa Tengah ketika Bapak dan Ida fauziah mendapatkan 40 persen suara?
Ada dua alasan, pertama referensi dari pilpres 2014 di mana Prabowo mendapatkan 35 sampai 36 persen sedangkan Jokowi 66 persen. Itu selisih besar sekali dan kalau didalami sampai ke desa-desa, sedikit sekali yang dimenangkan Pak Prabowo.
Bergeser ke Pilgub 2018, situasinya berubah, yang diklaim sebagai kantong-kantong suara partai tertentu ternyata itu tidak terbukti atau preferensi masyarakat telah berubah. Tentu saja saya tidak bisa mengklaim bahwa 41 persen suara itu milik saya sepenuhnya, karena saya bersama dengan Ida Fauziah dari PKB, dari NU, tentu ada unsur itu.
Tapi kalau melihat persiapan yang boleh dibilang agak mepet, malah Ida itu hari-hari terakhir pendaftaran baru sign-up maju sebagai calon. Logistik dari kami yang bisa dibilang nggak cukup. Kemudian ada tekanan dari banyak pihak, ada ketidak-fair-an seperti kecurangan di berbagai TPS, saksi-saksi tidak hadir, dan sabotase. Tapi faktanya masyarakat Jateng masih bersikap memberikan 41 persen dukungan untuk orang baru, saya, yang bisa bilang pendatang baru di politik.
Itu satu, jadi pelajaran pertama adalah masyarakat Jawa Tengah menginginkan perubahan.
Sudirman Said bersama Perempuan Mukti. (Foto: Dok. Tim Media Sudirman Said)
Kedua, di tempat-tempat yang sering kami datangi memang cenderung suaranya bagus. Saya pernah datang ke sebuah desa di Kedung Ombo, dekat waduk yang belum pernah didatangi oleh kandidat manapun. Saya berkunjung mungkin hanya sekitar satu jam, saya pidato dan keliling ke beberapa tempat sambil say hello ke masyarakat.
Saya menang di kecamatan itu. Padahal persentuhannya cuma begitu saja. Pelajarannya adalah semakin sering didatangi, semakin wajah kita sering muncul, semakin berinteraksi, maka akan ada kesan di masyarakat.
Kemudian kami menyimpulkan sebaiknya perhatian itu diberikan kepada Jawa Tengah, dengan tidak mengurangi perhatian ke tempat lain. Tempat lain bisa sesekali dikunjungi untuk kemudian balik ke Jawa Tengah lagi. Jadi intinya adalah ingin mengalokasikan lebih banyak waktu ke Jawa Tengah.
Bagaimana dengan modal awal suara di Jateng, apakah cukup?
Saya kira itu modal awal yang sangat besar, 2014 suara Prabowo di Jateng 35-36 persen. Saya yakin 35 persennya itu loyal, nggak mungkin ke mana-mana. Apalagi kalau pada 2014 itu dua-duanya masih memiliki harapan yang sama. Sekarang satunya sudah jadi petahana, orang bisa menilai. Jadi mungkin yang kecewa dengan petahana bergeser ke sini.
Perkara perolehan suara yang 40 persen (di Pilgub Jateng) dan bisa jadi ada korelasi ada 35 dengan 40 yang saya peroleh. Jadi bisa jadi itu sinyal, meskipun ada Ida yang PKB tapi tetap saja yang di depan (cagub) yang dihitung.
Jadi bisa jadi 35 persen menuju 41 persen merupakan sinyal yang kian membesar kepada Prabowo. Sekarang ditambah lagi dengan Sandi, itu yang membuat saya optimis hasil pilpres ini lebih baik daripada perolehan saya ketika pilgub.
Perubahan Elektabilitas Pasca-Pilkada (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Bagaimana tanggapan anda tentang lanskap pemilih di Jawa Tengah yang terkenal sebagai rumah Nahdliyin dan kandangnya banteng (PDIP)?
Hebatnya NU ini kan besar, karena besar maka majemuk. Artinya kita tidak bisa mengklaim kelompok masyarakat terbesar itu tunggal.
Yang menarik saat saya keliling ke kiai itu, mereka punya sikap mandiri karena betul-betul tidak terikat ataupun tergantung pada struktur NU, biasa disebut sebagai NU kultural. Mereka adalah para kiai, tokoh masyarakat yang tinggal di pelosok, membangun pesantrennya sendiri dengan modalnya sendiri. Mereka ini punya kebebasan.
Kami melihat kesempatan untuk mengajak mereka pada jalur perubahan, pada pembaruan, pada kehidupan lebih baik. Melepaskan ini dari ikatan-ikatan primordial, itu besar sekali.
Semua orang yang menyaksikan interaksi Prabowo dan Maimun Zubair itu ada semacam kerinduan emosional. Mbah Maimun menghendaki pemimpin yang tegas, yang disebutnya akan mengembalikan kejayaan Indonesia. Ini kan sinyal yang harus kami tangkap. Diikuti Gus Wafi, putra Mbah Maimun, yang sekarang aktif mengampanyekan Prabowo-Sandi.
Jadi dinamikanya sangat menarik dan saya tidak ingin nggege mongso, klaim, atau punya optimisme berlebihan. Tapi yang jelas ini medan terbuka, dan medan terbuka itu siapapun warna apapun tidak bisa mengklaim sebagai wilayahnya.
Lipsus “Markas Prabowo di Tanah Jokowi” (Foto: kumparan)
Bagaimana memetakan daerahnya dan bagaimana nantinya markas tersebut dirancang untuk bekerja?
Kami akan menggunakan istilah eks-karesidenan saja yang lebih familiar. Mulai dari Kabupaten Semarang, Salatiga, Kendal, Kota Semarang, karesidenan Pati, dan Pantura maka santri mendominasi di situ. Disini kami boleh optimis karena orangnya berpendidikan, orang yang punya kesadaran beragama, dan mungkin lebih responsif ke perubahan.
Di karesidenan Pekalongan wilayah di barat itu ada wilayah-wilayah yang sangat tebal DPT-nya seperti Brebes, Kabupaten Tegal, kemudian geser ke Pemalang, dan Batang tempat kami dulu menang. Terus bergeser ke selatan, Banyumas, dan Kebumen. Prabowo lahir di Kebumen, nenek moyangnya orang Kebumen, masih punya root yang cukup kuat di sana.
Strategi Prabowo-Sandi Merebut Jawa Tengah (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Kemudian Purbalingga, daerah-daerah yang kepala daerahnya ditangkap karena korupsi dan warga akan merubah dukungannya. Maksudnya mereka akan punya pandangan negatif terhadap partai yang dulu mengusungnya. Jadi Purbalingga, Banyumas, Kebumen, di sana mungkin NU-nya kuat dan tempat lahirnya Ganjar Pranowo, tapi di daerah itu saya menang Pilgub Jateng.
Cilacap ada beberapa orang yang sangat kuat di sana. Jadi kami cukup merata dan yakin bahwa kejutan-kejutan yang kemarin kami dapat akan terjaga.
Mulai September saya jalan ke seluruh Jawa Tengah, setiap karesidenan mesinnya masih hidup. Bahkan lebih rapi, lebih militan dari kemarin waktu pilgub.
Tentu di posko ada sekretariat yang bekerja dengan jadwal yang tersusun. Jadi mari kita lihat seperti apa. Inikan namanya rencana, siapa yang rencananya tepat, bisa membaca keadaan dengan baik, itu yang nanti akan menang.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: