kumparan
19 Mar 2019 17:21 WIB

Survei: Jokowi Terancam Jika Wong Cilik dan Milenial Banyak Golput

Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman (kanan) saat presentasi hasil survei , di kantor LSI Denny JA, Jakarta Timur, Selasa (19/3). Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan
Angka golput dalam Pilpres 2019 diperkirakan masih tinggi. Kondisi ini akan merugikan paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf maupun paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi, tergantung pada segmen pemilih apa yang banyak golput.
ADVERTISEMENT
Mengacu pada hasil survei yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf saat ini sebesar 58,7%, sedangkan Prabowo-Sandi 30,9%. Sementara yang belum menentukan pilihan sebanyak 9,9% dan suara yang tidak sah 0,5% dari 1.200 responden.
Namun, selisih yang mencapai 27,8% tersebut masih berada di bawah angka golput pada Pipres 2014 sebesar 30,42%.
“Walau dalam survei Jokowi-Ma’ruf menang telak, tapi jika terjadi golput yang masif di kalangan pendukungnya, sementara pendukung Prabowo militan ke TPS (tempat pemungutan suara), hasil akhir bisa berubah,” kata peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman saat presentasi hasil survei “Siapa Dirugikan Golput: Jokowi atau Prabowo”, di kantor LSI Denny JA, Jakarta Timur, Selasa (19/3).
Ilustrasi TPS Foto: Aprilio Akbar/Antara
Ikrama membagi surveinya dalam enam segmen, yaitu pemilih minoritas, pemilih wong cilik, pemilih milenial, pemilih emak-emak, pemilih terpelajar dan pemilih muslim. Jokowi-Ma’ruf akan dirugikan jika golput banyak dari segmen minoritas, milenial, wong cilik, emak-emak dan muslim moderat.
ADVERTISEMENT
“Prabowo-Sandi dirugikan jika golput banyak terjadi di segmen kalangan terpelajar dan muslim dari FPI, HTI, jaringan PKS, dan sebagainya,” kata Ikrama.
Dalam data survei tersebut diketahui di segmen pemilih minoritas sebanyak 80,3% memilih Jokowi, sedangkan Prabowo-Sandi sebesar 11,6%. Maka itu jika golput di segmen ini tinggi maka suara untuk paslon nomor urut 01 tersebut akan berkurang.
“Alasan utama golput pada segmen ini adalah tidak sedang berada di tempat,” kata Ikrama.
Menurutnya pemilih di segmen tersebut bisa saja sudah merencanakan liburan karena hari pencoblosan bertepatan dengan libur panjang. Selain itu juga memilih untuk ke luar negeri karena merasa situasi tidak aman.
Lalu di segmen wong cilik, dalam survei terakhir LSI Denny JA, Jokowi-Ma’ruf kembali unggul 63,7%, sedangkan Prabowo-Sandi sebesar 27,4%. Namun, keunggulan tersebut bisa berubah jika banyak pemilih dari segmen ini golput.
Cawapres 02 Ma'ruf Amin dan Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kebangsaan di SICC Sentul, Bogor, Minggu (24/2/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Ada tiga faktor yang bisa membuat pemilih wong cilik tidak datang ke TPS. “Pertama, karena mereka tidak terinformasi mengenai waktu pencoblosan. Kedua, lebih mementingkan pekerjaan karena tidak mau rugi kehilangan upah harian. Ketiga, mereka tidak datang ke TPS karena alasan administrasi,” kata Ikrama.
ADVERTISEMENT
Sementara di segmen milenial selisih antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi hanya 22%. Kebanyakan di segmen ini pemilih golput karena tidak mendapat informasi waktu pemilihan dan sikap apatis mereka.
Kerugian pasangan Jokowi-Ma’ruf juga akan lebih besar jika pemilih dari segmen emak-emak memilih golput. Pasalnya selisih antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi mencapai 31%. Padahal 50% pemilih di pilpres nanti ialah pemilih perempuan.
Bagi pasangan Prabowo-Sandi kerugian dari golput akan terasa jika kalangan terpelajar tidak memilih. Di segmen ini pemilih paslon nomor urut 02 tersebut lebih banyak dibanding Jokowi-Ma’ruf. Selisih keduanya sebesar 9,3%.
Pasangan Calon nomor urut 02 Prabowo-Sandi tiba di Bidakara. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
“Jika mereka yang tak datang ke TPS banyak terjadi di kantong pemilih terpelajar, maka pasangan Prabowo-Sandi akan sangat dirugikan. Karena kantong ini secara konsisten diungguli oleh pasangan Prabowo-Sandi,” kata Ikrama.
ADVERTISEMENT
Sementara di kalangan pemilih muslim pemilih Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga hanya selisih 15%. Namun, kemungkinan golput lebih besar di pendukung Jokowi. Pasalnya pemilih muslim dari Prabowo yang banyak berasosiasi dengan FPI, HTI, PA 212 dan jaringan kultural PKS sangat militan.
“Mereka ingin datang ke TPS karena merasa suaranya penting untuk menggagalkan Jokowi-Ma’ruf menjabat kembali,” kata Ikrama.
Survei sendiri dilakukan pada 18-25 Februari 2019. Survei menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei tersebut sekitar 2,9%.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan