kumparan
23 Agu 2019 9:47 WIB

Tak Teken Surat Sakit, Difabel Dipaksa Turun dari Wings Air

Pesawat Wings Air mengalami kerusakan mesin. Foto: Antara/Fiqman Sunandar
Kejadian tak menyenangkan diterima seorang difabel atau penyandang disabilitas bernama Shinta Utami saat akan melakukan penerbangan dari Labuan Bajo ke Denpasar, Kamis (22/8).
ADVERTISEMENT
Rencananya, Shinta bersama ketiga temannya terbang dengan menggunakan Wings Air nomor penerbangan IW 1899. Namun saat proses check-in, Shinta mengaku mendapat pelayanan yang tak menyenangkan dari petugas.
Shinta diminta petugas mengisi dan menandatangani surat pernyataan sakit yang menyatakan maskapai tak bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu dengan penumpang yang bertandatangan. Dalam surat itu juga tak disebutkan untuk difabel atau penyandang disabilitas.
Ilustrasi penyandang disabilitas. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Selain itu, Shinta mengaku mendapat diskriminasi dari petugas karena menyebutnya sakit, padahal ia adalah penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan.
"Di konter setelah dimintai identitas petugas menyodorkan surat pernyataan untuk ditandatangani, saya bilang saya tidak mau menandatangani karena saya penyandang disabilitas bukan sakit. Petugas mengatakan kalau tidak sakit silakan jalan," cerita Shinta saat dikonfirmasi kumparan, Jumat (23/8).
ADVERTISEMENT
"Penyandang disabilitas harusnya sudah tidak boleh tanda tangan surat itu lagi. Karena ada klausa yang menyatakan jika terjadi apa-apa maka maskapai tidak bertanggung jawab," ungkap Shinta.
Surat pernyataan dari Wings Air terhadap seorang penyandang disabilitas di Labuan Bajo. Foto: Dok. Shinta Utami
Petugas pun akhirnya mempersilakan Shinta dan rombongan menuju ruang tunggu tanpa kejelasan. Shinta mengaku kembali dipaksa petugas untuk menandatangani surat pernyataan saat akan boarding.
"Salah satu petugas bahkan mengatakan kalau saya tidak terlihat seperti penyandang disabilitas karena tidak ada kekurangan apapun pada anggota badan saya. Di situ saya merasa tersinggung dan salah satu petugas menengahi dan mengajak saya naik ke atas pesawat karena pesawat sudah akan berangkat," terangnya.
Bandara Komodo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
Meski berhasil naik ke dalam pesawat, Shinta kembali diminta menandatangani surat pernyataan oleh pramugari. Shinta pun akhirnya dipaksa turun dan gagal terbang karena tetap tak mau menandatangani surat pernyataan.
ADVERTISEMENT
"Karena saya tetap tidak mau menandatangani saya akhirnya dipaksa dan didorong keluar dari pesawat. Salah satu teman saya juga di dorong-dorong oleh petugas. Akhirnya ketika melihat saya di dorong keluar pesawat ketiga teman saya ikut keluar pesawat," ungkapnya.
Setelah kembali ke bandara, Shinta dan rombongan tak mendapat informasi dan tanggung jawab dari petugas, termasuk biaya refund.
"Saya bertanya pada airlines lainnya, NAM Air dan Garuda, dan mereka tidak punya kebijakan ini. Saya dan ketiga teman saya terlantar di Bandara Labuan Bajo dan akhirnya harus membeli tiket baru," katanya.
Wings Air ATR72-600 di Bandara Bua, Palopo Foto: Helinsa Rasputri/kumparan
Akibat kejadian ini, Shinta dan rombongan harus membeli tiket pesawat NAM Air untuk penerbangan selanjutnya di hari yang sama. Shinta mengaku tak terima telah diperlakukan secara diskriminasit oleh petugas.
ADVERTISEMENT
"Menandatangani surat pernyataan itu diskriminasi karena penyandang disabilitas bukan sakit tapi disabilitas," pungkas Shinta.
Saat menggunakan pesawat NAM Air, Shinta mengaku juga diminta mengisi surat pernyataan, namun bersedia menandatanganinya. Menurutnya, dalam surat pernyataan yang diberikan pihak NAM Air tak disebutkan pernyataan maskapai tak akan bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu dengan penumpang penyandang disabilitas.
Surat pernyataan dari Nam Air terhadap penyandang disabilitas. Foto: Dok. Shinta Utami
Terkait kejadian ini, kumparan telah mencoba menghubungi pihak Wings Air dan Lion Air Group, namun belum mendapat respons.
Shinta kerap melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dengan kursi roda. Bahkan ia pernah melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dengan kursi roda yang telah dimodifikasi khusus menjadi 3 roda, pada April 2017 silam.
Shinta Utami menempuh Yogya-Jakarta Foto: Idhad Zakaria/ANTARA
Ia menempuh perjalanan selama 17 hari menuju Jakarta untuk bertemu Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok yang saat itu menjabat Gubernur DKI. Ia bertemu Ahok karena dianggap sebagai sosok yang selalu memberikan perhatian lebih terhadap penyandang disabilitas.
ADVERTISEMENT
Shinta mulai menggunakan kursi roda sejak Oktober 2016 lalu karena kecelakaan di kawasan Lenteng Agung. Kala itu, dia naik motor Honda Scoopy yang dimodifikasi menjadi 4 roda.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·