Pencarian populer
News

Tari Ratoh Jaroe Aceh: Diciptakan di Perantauan, Memukau Asian Games

Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Seni tari Aceh Ratoh Jaroe memberi warna berbeda dalam upacara pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu (18/9). Tari kolosal yang dilakukan oleh 1.600 penari ini mengiringi jalannya upacara pembukaan.

Tarian Ratoh Jaroe tergolong tarian baru. Bermula di tahun 1999 ketika pemuda Aceh bernama Yusri (41), yang akrab disapa Dek Gam, memilih untuk hijrah ke Jakarta dengan tujuan ingin mengadu nasib di Ibu Kota.

Sebagai seorang seniman, ia pun tidak lupa membawa bekal sebuah rapai alat musik tradisional Aceh. Berharap dari alat tersebut ia bisa berkarya dan memperbaiki ekonomi untuk masa depannya.

Hari demi hari dilalui Dek Gam merasakan kerasnya kehidupan di Jakarta. Bahkan, Dek Gam pernah menjadi seorang tukang cuci mobil untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Namun semua perjuangan yang dilalui membuahkan hasil. Lewat bakat yang dimilki Dek Gam dipercayai untuk mengajarkan tarian di anjungan Pemerintah Aceh. Pada tahun 2000 kemudian ia didapuk sebagai seorang koreografer untuk mengikuti parade tari tingkat nasional yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Dalam event itu Dek Gam berhasil meraih gelar koreografer terbaik.

Berangkat dari prestasi itu, kemudian Dek Gam mendapat tawaran untuk mengajari seni tari di sekolah SMA 70 Bulungan, Jakarta. Usai mendapatkan kepercayaan sebagai pelatih tari, kemudian ia mengembangkan sebuah kesenian bernama Ratoh Jaroe.

“Ratoh Jaroe berkembang pada tahun 2001. Saya hijrah ke Jakarta tahun 1999 dan memulai mempelajari tarian Ratoh Jaroe tahun 2000 di salah satu SMA di Jakarta. Tarian itu sendiri awalnya saya ciptakan untuk mengangkat tentang kebersamaan,” ujar Dek Gam, saat dihubungi kumparan Senin (20/8) via telepon.

Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Dek Gam menceritakan, seiring berjalannya waktu tarian Ratoh Jaroe berkembang menjadi sebuah tari yang masuk dalam mata pelajaran ekstrakulikuler favorit di setiap sekolah di Jakarta. Selanjutnya, sejak tahun 2002 hingga 2003 festival mulai digelar setahun sekali di Jakarta. Kemudian memasuki 2005 hingga 2006 festival atau parade kesenian semakin banyak.

“Nah tarian Ratoh Jaro ini sendiri menjadi sebuah tarian urban atau tarian pendatang baru di Jakarta. Awal mula munculnya tarian Ratoh Jaroe hingga populer itu ya di Jakarta. Tarian ini tidak muncul di Aceh karena awalnya memang tidak ada di sana,” ujarnya.

Meski demikian, kata Dek Gam, gerakan yang ada di dalam tubuh tarian Ratoh Jaroe berangkat dari unsur kebersamaan, kekompakan, dan mengangkat dari tarian-tarian yang ada di Aceh. Seperti tarian Ratep Meuseukat, Likok Pulo, Rapai Geleng, dan kesenian tari lainnya di Aceh.

Tari Saman di Opening Ceremony Asian Games 2018 (Foto: REUTERS/Issei Kato)

Jumlah pemain di dalam Ratoh Jaroe sendiri bersifat genap paling sedikit berjumlah 10 orang. Dalam penampilannya Ratoh Jaroe diiringi oleh tabuhan musik rapai, salah satu alat musik tradisional Aceh, dan dikendalikan oleh seorang syeh (vokalis) yang membawakan syair-syair berupa pesan dalam bahasa Aceh. Mereka tidak masuk dalam barisan, biasanya berada di sisi kanan atau kiri penari.

Penamaan Ratoh Jaroe berasal dari kata Ratoh (berzikir) dan Jaroe (tangan) yang artinya berzikir atau bernyayi sambil memainkan tangan. Ratoh Jaroe berkembang di Jakarta yang dimainkan oleh anak-anak perempuan.

“Tarian Ratoh Jaroe ini setiap tahunnya diperlombakan di anjungan pemerintah Aceh di TMII yang memperebutkan piala gubernur. Tahun ini kita juga akan menggelarnya, sudah 15 tahun berjalan. Karena Ratoh Jaroe berkembangnya di Jakarta khusus buat pelajar DKI,” imbuh Dek Gam.

Peserta tarian Saman massal yang diikuti 12.262 penari di stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Gayo Lues, 13 Agustus 2017. Berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

“Berkat teman-teman seniman asal Aceh yang berjumlah sekitar 25 orang, kini mereka telah mengajari para siswa di beberapa sekolah di Jakarta mulai SMP hingga kuliah,”tambahnya.

Kini, Dek Gam dikenal sebagai “The King of Ratoeh Jaroe” berbagai prestasi telah ia torehkan. Nasibnya pun kini sudah jauh berbeda, tahun 2010 ia resmi menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kantor Penghubung Aceh yang sebelumnya sempat menjadi tenaga honorer di sana.

Sementara itu, Imam Juhaini, salah seorang seniman di Banda Aceh memberikan apresiasi kepada para seniman Aceh yang ada di Jakarta. Bahkan ia tidak menapik bahwa tarian Ratoh Jaroe dipopulerkan oleh mereka di kalangan pelajar di Jakarta.

Tari Saman di Opening Ceremony Asian Games 2018 (Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha)

“Ratoeh Jaroe itu sendiri adalah tari yang dikembangkan di pusat kota. Sebuah kreativitas seniman-seniman Aceh di Jakarta. Yang sifatnya mereka ingin memperkenalkan Aceh lewat bentuk-bentuk tari yang ada di Aceh. Ini merupakan tari kreasi tradisi sebenarnya. Artinya sebuah tari tradisi yang dikemas dengan konten kekinian kemudian dia mentradisi dan berkembang akan tetapi dia tidak bisa dikatakan dengan tarian tradisi,” ujar Imam.

Dijelaskan Imam, Ratoh Jaroe lebih berbicara kepada estetika, kekompakan, kerapian atau kreasi. Jika merujuk pada kesenian tari yang ada di Aceh. Ratoh Jaroe ini diambil dari gerakan tari Ratoh Duk, Likok Pulo, Ratoh Dong, Ratep Meuseukat, dan lainnya tarian yang bersifat dimainkan secara duduk.

“Secara kreativitas kita sangat memberikan apresiasi besar terhadap seniman-seniman Aceh di sana. Akan tetapi ada hal-hal yang mereka tidak boleh lupakan di mana di Aceh itu kaya sekali akan keseniannya,” pungkas Imam.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: