kumparan
9 Nov 2017 11:54 WIB

Tentang Malahayati, Laksamana Laut Wanita Pertama yang Tangguh Itu

Lukisan Malahayati (Foto: kowani.or.id)
Mungkin di antara kamu belum terlalu mengenal namanya. Dia memang tak seterkenal Kartini, Cut Nyak Dien atau Christina Marta Tiahahu. Namun jasanya untuk Indonesia, sama sekali tak boleh diremehkan. Dialah Laksamana Keumalahayati atau Malahayati.
ADVERTISEMENT
Malahayati baru saja diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo hari ini. Mari kita simak perjuangan pahlawan dari Aceh ini.
Dikutip dari website resmi Universitas Malahayati, Malahayati adalah laksanama laut perempuan muslimah pertama di dunia. Catatan perjuangannya membuat namanya layak lebih banyak dibicarakan di buku-buku sejarah di Indonesia.
Nama asli Malahayati adalah Keumalahayati. Ia merupakan putri dari Laksamana Mahmud Syah bin Laksamana Muhammad Said Syah. Kakeknya merupakan putra Sultan Salahuddin Syah yang memimpin Aceh pada 1530-1539. Keluarganya memang keluarga pelaut.
Tak cuma mendapat bekal pengetahuan kemaritiman dari sang ayah, Malahayati juga menghabiskan masa mudanya dengan menempuh pendidikan akademi militer dan memperdalam ilmu kelautan di Baital Makdis, pusat pendidikan tentara Aceh.
ADVERTISEMENT
Di tempat itu juga, Malahayati bertemu tambatan hatinya. Dia menikah dengan seorang perwira muda yang siap berperang dan menggadaikan nyawa untuk menumpas penjajah.
Namun Malahayati pasti menyadari apa risiko yang harus diambilnya ketika menikahi seorang tentara atau pejuang. Ia harus siap kehilangan sang belahan jiwa kapan pun.
Benar saja, belum terlalu lama menikah, Malahayati harus kehilangan suaminya. Sang suami menjadi salah satu prajurit dari seribu orang Aceh yang gugur dalam suatu perang melawan Portugis di Teluk Haru, meski saat itu armada Aceh sukses menghancurkan Portugis
Laksamana Malahayati. (Foto: Wikimedia Commons.)
Namun jiwa perjuangan Malahayati tak luntur meski kehilangan sang suami. Tak lama setelah suaminya pergi menghadap keabadian, Malahayati membentuk armada yang terdiri dari para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Armada ini dikenal dengan nama Inong Balee yang memang berarti armada perempuan janda.
ADVERTISEMENT
Namun seiring berjalannya waktu, armada ini tak hanya diisi oleh janda prajurit. Gadis-gadis pun akhirnya ikut ambil bagian.
Armada yang pangkalannya berada di Teluk Lamreh Krueng Raya ini memiliki 100 kapal perang dengan kapasitas 400-500 orang. Tiap kapal perang dilengkapi dengan meriam. Bahkan kapal paling besar dilengkapi lima meriam.
Kata siapa perempuan tak bisa berperang? Armada Inong Balee menjadi bukti sahih bahwa perempuan juga memilki kekuatan super.
Cornalis de Houtman dan para prajuritnya sempat merasakan bagaimana keganasan Malahayati dan prajurit Inong Balee pada tahun 1599.
Laksamana Keumalahayati (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
Awalnya kedatangan Cornelis de Houtman disambut baik oleh warga dan pejabat di lingkungan kerajaan. Mereka pun menjanjikan kerja sama menarik.
Kerja sama ini dimanfaatkan Aceh untuk menyewa kapal-kapal Belanda yang akan digunakan untuk mengangkut pasukan ke Johor. Perjanjian sewa kapal itu ditandatangani tanggal 30 Juli 1599 dan direncanakan berangkat pada tanggal 11 September 1599.
ADVERTISEMENT
Namun sayang, menjelang keberangkatan pasukan Aceh ke Johor, pihak Belanda mengingkari perjanjian tersebut dan kapten kapal yang bernama J. Van. Hamskerek pun melarang pasukan Aceh naik ke atas kapal. Aceh tidak terima dengan perlakuan itu.
Sebagian pasukan Aceh yang telah berada di atas kapal langsung marah dan mengamuk ketika Belanda menembaki beberapa pembesar Aceh yang masih berada di atas sampan termasuk kerabat sultan dan korban dan kedua belah pihak pun tidak bisa dihindari.
Sejumlah orang Belanda terbunuh, termasuk Cornelis de Houtman. Penjelajah ternama itu tewas disabet rencong Malahayati.
Saat itu setelah pertempuran melawan armada Belanda, hubungan Aceh dan Belanda sempat tegang. Prins Maurits, yang memimpin Belanda saat itu berusaha memperbaiki hubungan. Maka dikirim utusan ke Aceh, dan Malahayati ditugaskan oleh Sultan untuk melakukan perundingan-perundingan awal dengan utusan Belanda, hingga tercapai sejumlah persetujuan.
ADVERTISEMENT
Menurut beberapa sumber sejarah, Malahayati disebut gugur saat memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Dia kemudian dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.
Begitulah kisah Malahayati, ahli perang namun juga seorang diplomat ulung.
Nama Malahayati diabadikan menjadi nama sejumlah tempat dan institusi, termasuk Universitas Malahayati. Bahkan TNI berniat membuat film tentang laksamana perempuan nan berani ini.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·