kumparan
9 Jan 2019 15:52 WIB

The Power of Medsos, Bagaimana Twitter Selamatkan Gadis Saudi

Rahaf Mohammed al-Qunun, seorang wanita Saudi yang mengaku melarikan diri dari negara dan keluarganya. (Foto: @rahaf84427714/via REUTERS)
Dalam beberapa hari terakhir suara Rahaf Mohammed al-Qunun menggema ke seluruh dunia. Gadis Arab Saudi berusia 18 tahun itu berhasil menyelamatkan dirinya dari deportasi. Semua berawal dari sebuah postingan di Twitter.
ADVERTISEMENT
Qunun pada Sabtu lalu kabur di tengah liburan keluarganya di Kuwait untuk mencari suaka ke Australia. Saat transit di Thailand, perjalanannya dicegat lantaran dokumen yang tak lengkap.
Qunun yang mengaku takut nyawanya terancam akan dideportasi. Di saat itulah, kekuatan sosial media bekerja.
Diberitakan Reuters, pada Minggu (6/1) Qunun membuat sebuah akun Twitter bernama Rahaf Mohammed sekitar pukul 3.20 waktu Bangkok. Di transit area Bandara Suvarnabhumi, dia menuliskan kondisinya.
"Saya adalah gadis yang kabur dari Kuwait ke Thailand. Nyawa saya dalam bahaya jika saya dikembalikan ke Arab Saudi," tulis Qunun.
Selama lima jam sejak cuitan pertamanya, Qunun tidak berhenti menelurkan tweet. Dia mengatakan bahwa dia kabur dari keluarganya yang memperlakukannya dengan buruk. Dia mengaku tidak mendapatkan kebebasan dan bisa dibunuh jika dipulangkan.
ADVERTISEMENT
Tweet itu kemudian diretweet oleh banyak pengguna Twitter dari Saudi sebelum akhirnya dilihat oleh aktivis Mesir-Amerika Mona Eltahawy di Montreal, Kanada.
Naluri Eltahawy ketika itu adalah membantu dengan menerjemahkan cuitan Qunun ke bahasa Inggris. Padahal ketika itu dia tidak tahu apakah akun itu asli atau palsu.
"Sebisa mungkin saya ingin dia mendapatkan perhatian, karena saya tidak bisa memaafkan diri saya jika itu akun asli dan saya mengabaikannya," kata Eltahawy kepada Reuters.
Cuitan Qunun juga menggerakkan Sophie McNeill, jurnalis ABC Australia di Sydney, untuk segera terbang ke Bangkok. McNeill adalah orang yang menemani Qunun ketika dia membarikade diri di hotel transit bandara Bangkok karena menolak dideportasi paksa ke Kuwait.
Phil Robertson dari lembaga HAM Human Right Watch juga langsung turun menyuarakan kondisi Qunun. Dalam percakapan dengan Robertson, Qunun mengaku dalam bahaya karena ingin keluar dari Islam.
ADVERTISEMENT
"Begitu dia mengatakan itu, saya tahu dia dalam bahaya serius," kata Robertson.
Keluar dari Islam atau murtad dianggap kejahatan dengan ancaman hukuman mati di Saudi, namun belum pernah tercatat ada eksekusi karena hal ini.
Twitter kemudian ramai soal Qunun. Tandapagar #SaveRahaf menyebar dengan cepat bak virus.
Seorang remaja putri asal Arab Saudi, Rahaf Mohammed al-Qunun, saat bertemu dengan petugas imigrasi di hotel Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. (Foto: Reuters)
Dalam waktu 36 jam setelah cuitan pertama, pemerintah Thailand menyatakan membatalkan deportasi terhadap Qunun dan menyerahkannya kepada badan pengungsi PBB, UNCHR.
"Semua orang menyaksikan. Ketika media sosial bekerja, inilah yang terjadi," kata Robertson.
Saudi membantah terlibat dalam upaya deportasi Qunun dan mengatakan itu adalah masalah keluarga. Ayah Qunun kini telah berada di Bangkok, namun dia harus terlebih dulu mendapat izin dari UNHCR untuk menemui putrinya.
ADVERTISEMENT
Kini desakan muncul agar Australia menerima suaka Qunun.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan