Pencarian populer
12 Januari 2019 10:53 WIB
0
0
Tim Prabowo - Sandi Ingin Politik dengan Nalar Gembira
BPN: Andi Arief Tidak Sebar Hoaks. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
Demokrasi menjadi tulang punggung bangsa Indonesia. Koordinator Jubir Prabowo - Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, berpandangan dalam berdemokrasi ada dua modal penting, yakni politik nalar gembira dan politik nalar sehat.
Namun, di tahun politik ini, Dahnil menilai politik nalar gembira kehilangan panggung. Sebab sebuah candaan bisa berujung ke ranah hukum.
"Politik sekarang nalarnya enggak gembira, karena itu saya suka menyindir praktik politik, yakni politisi alay. Kalau sudah bertarung, yang sana musuh, yang sini enggak," ujar Dahnil dalam diskusi Populi Center bertema 'Kampus dan Pemilu 2019' di Gedung Sarinah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1).
Ia mengatakan politik nalar gembira merupakan politik yang bisa diajak bercanda. Dahnil selanjutnya mencontohkan sebuah kejenakaan saat warga Muhammadiyah bertemu warga NU.
"Misalnya NU bisa dipilih dengan orang hidup dan orang yang sudah mati. Beda dengan Muhammadiyah, hanya bisa dipilih orang hidup saja. Kalau bercanda dengan orang baperan, ini bisa dibawa ke hukum," ujarnya.
Sementara, modal demokrasi satunya adalah politik sehat. Ia menganalogikan politik sehat dengan kondisi sebuah pasar. Dahnil menyampaikan jika segala sesuatu berimbang, antara permintaan dan penawaran, maka pasar tersebut baik.
"Nah pasar politik asimetrisnya tinggi sekali. Nah oleh sebab itu, ini membutuhkan info yang cukup," ujar Dahnil.
Diskusi 'Prespektif Indonesia' di The Atjeh Connection, Sarinah. (Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan)
Sementara itu, berkaitan dengan tema diskusi, peneliti senior Populi Center Afrimadona menilai politik dan kampus merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sebab menurutnya banyak hal berkaitan dengan politik yang dikaji di dalam kampus.
"Nah kembali pertanyaan utama, seolah-olah dunia kampus steril. Sebenarnya dunia kampus cukup banyak mengkaji persoalan pemilu, banyak konferensi yang kita lakukan, terutama tentang hoaks," ucap Afrimadona di lokasi yang sama.
Namun sayangnya, kata dia, kini para akademisi di kampus dirisaukan karena tak bisa terlalu dalam mengkaji politik. Hal itu ditunjukan dengan regulasi debat Pilpres 2019 tak bisa diselenggarakan di kampus.
"Saya setuju juga dengan usulan kedua calon. Perdebatan itu di kampus, di mana ide bisa diperdebatkan dan dichallenge. Dan itu tugas orang kampus yang mengingatkan," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: