Pencarian populer

Timo Scheunemann dan Hidupnya Dialek Jawa di Media Sosial

Ilustrasi Wayang. Foto: Shutter stock

Timo Scheunemann, pelatih bola berdarah Jerman, tinggal di Malang lebih dari 30 tahun. Dia fasih berbahasa Jawa dengan logat yang kental, mirip warga lokal. Video 45 detik berikut menjadi bukti.

Coach Timo, panggilan akrabnya dibesarkan dalam keluarga yang memang berbahasa Jawa. Masa kecilnya pun dihabiskan dengan bergaul bersama tetangga yang juga penutur Bahasa Jawa.

“Saya masih ingat nilai penulisan Hanacaraka (aksara Jawa) tujuh kalau tidak salah pas SD,” ucap Timo kepada kumparan, Senin (18/2).

Sisi historis itulah yang membuat pemahaman Bahasa Jawa Timo tak perlu diragukan lagi. Bahkan, dia mengaku, baru diajari Bahasa Jerman ketika berumur delapan tahun.

Timo Scheunemann (memakai baju Pramuka) saat masih kecil. Foto: Instagram/@timo_scheunemann

“Kami sekeluarga lahir dan besar di sini (Jawa),” tutur Timo.

Meski begitu, Bahasa Jawa yang dikuasai Timo bukan ragam Krama atau halus. Melainkan, ragam Ngoko yang terkesan lebih kasar.

Ragam Ngoko dan Krama

Dalam budaya Jawa, pilihan penggunaan ragam menunjukkan tingkat kesopanan dalam komunikasi. Ragam Ngoko digunakan untuk berbicara dengan teman sebaya atau ke orang yang lebih muda. Sementara ragam Krama, digunakan untuk berbicara dengan kaum yang lebih tua atau yang strata sosialnya dinilai lebih tinggi.

Kosakata ragam Ngoko dan Krama mirip dengan irregular verbs dalam Bahasa Inggris. Dalam hal ini, tidak memiliki pola yang pasti. Cara mempelajarinya, lewat hafalan serta interaksi sehari-hari.

Misalnya, kata kerja atau verb eat yang berarti makan. Bentuk verb keduanya ate, kemudian bentuk ketiganya eaten. Semua itu juga berarti ‘makan’.

Mirip dengan Bahasa Jawa yang bentuk Ngokonya makan adalah madhang. Sementara, ragam Kramanya adalah dhahar. Lalu, kalau bicara dengan anak kecil bisa juga menggunakan kata maem.

Tak cuma itu, perbedaan kosakata ragam Ngoko dan Krama juga terdapat dalam nama-nama hewan. Misalnya, iwak di ragam Ngoko yang artinya ikan, akan berubah menjadi ulam dalam Krama. Asu yang berarti anjing akan berubah menjadi segawon dalam ragam Krama.

Aksara Jawa. Foto: Instagram/@bagolleol

Ragam inilah yang menjadi ciri khas Bahasa Jawa. Sekaligus sebagai titik sulit yang dihadapi penuturnya. Sebab, salah berbicara Krama bisa dicap tidak sopan.

Akibatnya, generasi muda dinilai tidak tahu unggah-ungguh (sopan-santun) dalam berbahasa. Itu pun berdampak pada ketakutan generasi muda untuk berkomunikasi dengan ragam ini.

"Wong Jawa kelangan Jawane (orang Jawa mulai kehilangan karakter Jawanya),” Ramalan Jayabaya

Penurunan penggunaan ragam Krama pun sudah ditemukan sejak era 1990-an. Antropolog asal Yale University Joseph Errington dalam penelitiannya menemukan, adanya penurunan penggunaan ragam Krama oleh anak muda di Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah. Penurunan itu disebabkan dominasi penggunaan Bahasa Indonesia di lingkup pergaulan setempat.

Selain itu, faktor globalisasi juga menjadi penyebab lain penurunan penggunaan ragam Krama. Seperti yang disebutkan dalam penelitian Celya Intan Kharisma Putri berjudul Shifting Language and Attitudes towards High Javanese in East Java (Monash University, 2017).

Tapi, apakah Bahasa Indonesia menjadi silent killer terhadap Bahasa Jawa? Kenyataannya, tidak ada suatu bahasa yang bisa menghilangkan bahasa lain.

“Pembunuh itu justru datang dari penuturnya, ketika mereka tidak mau menggunakannya,” tulis Celya.

Namun, Kaprodi Sastra Jawa FIB Universitas Indonesia Dwi Puspitorini menyikapi perubahan itu dari sudut pandang positif. Sebab, bahasa memang berkembang dan berubah. Itu karena, penuturnya juga berubah. Sehingga, bentuknya tidak bisa diharapkan seperti sedia kala.

Dwi Puspitorini, Ketua Program Studi Sastra Jawa FIB UI. Foto: Dok. Dwi Puspitorini

“Kalau dari sudut pandang itu (dibandingkan dengan generasi tua) ya tentu saja tergerus. Dalam arti, ada perubahan,” kata dia saat dihubungi kumparan, Senin (18/2).

Language is a living thing. We can feel it changing. Parts of it become old: they drop off and are forgotten. New pieces bud out, spread into leaves, and become big branches, proliferating. (Bahasa adalah makhluk hidup. Kita bisa merasakan perubahannya. Beberapa bagian menjadi tua: tidak digunakan dan dilupakan. Bentuk barunya keluar, menyebar ke daun, dan menjadi cabang besar, berkembang biak.) Gilbert Highet

Bahasa Tumbuh di Media Sosial

Di sisi lain, kala sorotan penggunaan ragam Krama yang menipis, internet malah menjadi ruang baru bertumbuhnya Bahasa Jawa Ngoko. Salah satunya, dengan kemunculan YouTuber asal Malang, Bayu Skak. YouTuber yang mampu menggaet 2 juta subscribers dengan konten-konten yang didominasi Bahasa Jawa.

"Mengapa harus terpaku Jakarta-sentris, banyak kok lelucon daerah yang lucu juga, kalau enggak paham tinggal kasih subtitle Bahasa Indonesia," ujar Bayu Skak kepada kumparan, Rabu (20/2).

Bukan sekedar membuat konten, Bayu juga mengkampanyekan penggunaan bahasa daerah, terutama dialek Malang, Jawa Timur. Kota tempat lahir sekaligus rumah bagi Bayu untuk berkarya.

Bayu Skak, YouTuber asal Malang, Jawa Timur. Foto: Instagram/@moektito

Dwi Puspitorini pun menanggapi positif popularisasi penggunaan dialek Jawa daerah tertentu di internet. Menurut dia, hal itu membuka kesempatan bagi logat-logat tersebut agar setara dengan lainnya. Sebab hingga kini, dialek yang menjadi ‘pakem’ masih terpusat dari Yogyakarta-Surakarta.

"Lewat media sosial dialek yang dianggap pinggiran bisa sejajar dengan lainnya. Mereka lebih berani menunjukkan saya adalah Jawa yang begini, yang dulu dianggap pinggiran," ungkap Dwi.

Video

Dia menambahkan, konten di media sosial merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari. Artinya, sebagai wujud obrolan saat bertemu langsung. Sehingga, jejaring seperti YouTube menjadi tempat terus hidupnya Bahasa Jawa.

"Bahasa itu hanya hidup kalau digunakan dalam media apapun sesuai dengan perkembangan zaman," Dwi Puspitorini

Selain melalui YouTube, Bayu Skak mulai merambah layar lebar dengan konten berbahasa Jawa. Film ‘Yowes Ben II’, sekuel dari ‘Yowes Ben’, yang akan dirilis 14 Maret 2019. Film tersebut menceritakan kisah cinta dari dua suku yang berbeda dengan background budaya Indonesia.

“Pesannya tetap sama, kita jangan malu akan menggunakan bahasa daerah. Bahasa daerah itu tidak katrok dan tidak ndeso,” tutup Bayu.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53