Pencarian populer

TKW Indonesia di Hong Kong: Meninggalkan Keluarga Demi Keluarga

Suasana Victoria Park di Hong Kong. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Nuning (25 tahun) tahu betul ada banyak tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang bernasib sial di Hong Kong. Tapi hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat bekerja di sana.

“Saya awalnya takut. Saya sampai mikir beberapa kali sampai berbulan-bulan,” kata Nuning kepada kumparan, Rabu (10/4).

Perempuan asal Purwokerto, Jawa Tengah, itu menegaskan, ia telah mempertimbangkan keinginan bekerja di Hong Kong dalam waktu yang tidak singkat. “Itu bisa sampai satu tahun untuk memutuskan pergi ke Hong Kong,” ungkapnya.

Baru pada Desember tahun lalu, Nuning memberanikan diri mendaftar ke agen atau perusahaan penyalur tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Hong Kong. Syarat untuk bisa lolos mendaftar diri ke sebuah agen di Jember, Jawa Timur, dapat dengan mudah ia lalui.

Nuning (25 tahun), baru tiba di Bandara Internasional Hong Kong untuk menjadi TKI di Hong Kong Foto: Utomo Priyombodo/kumparan

Syaratnya antara lain berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Berjenis kelamin perempuan. Berusia antara 22 sampai 35 tahun. Minimal lulusan Sekolah Dasar (SD) serta bisa membaca dan menulis. Bersedia mengikuti kesepakatan yang ditentukan oleh agen atau perusahaan tersebut.

Selain Nuning, Santi (29 tahun) juga lulus dari persyaratan itu. Perempuan lulusan SMP asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu tiba di Hong Kong bersama Nuning pada Rabu, 10 April lalu. Sesampainya di Bandara Internasional Hong Kong, mereka berdua dijemput oleh orang dari agen yang memberangkatkan mereka.

Mereka berdua tidak langsung bekerja. Mereka ditampung untuk sementara di sebuah rumah di Hong Kong oleh agen mereka. Keduanya baru bisa mulai bekerja bila pihak majikan sudah menjemput.

“Mulai kerjanya (kapan) nggak tahu, soalnya nunggu dijemput majikan (dulu),” lapor Nuning kepada kumparan, Kamis (11/4), sehari setelah ia tiba di Hong Kong.

Demi membahagiakan keluarga

Bermalam di Hong Kong tentu membuat Nuning tak bisa tidur di bawah satu atap bersama keluarga. Dia pergi ke Hong Kong meninggalkan ibu, bapak, kakak, dan adiknya.

Perempuan yang masih lajang itu mengaku rela bekerja jauh dari tanah air agar mendapat penghasilan lebih besar demi bisa menyenangkan keluarga. Sebab, di Purwokerto ia hanya bisa mendapat upah bekerja paling besar Rp 2,5 juta per bulan. Sementara di Hong Kong ia bisa mendapat gaji dua kali lipat atau bahkan lebih besar dari itu.

Banyak mimpi yang Nuning bawa ke Hong Kong. Antara lain, dengan gaji yang ia dapat setelah nanti bekerja dua tahun di Hong Kong, ia berharap bisa membuatkan rumah yang lebih bagus untuk keluarganya.

“Kalau cita-cita, banyak. Pengen umrohin orang tua, pengen bawa keluarga ke sini, pengen nyenengin keluargalah terutama,” tutur Nuning.

Santi (29 tahun), baru tiba di Bandara Internasional Hong Kong untuk menjadi TKI di Hong Kong Foto: Utomo Priyombodo/kumparan

Senada dengan Nuning, Santi juga ingin membahagiakan ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih hidup. Santi sebenarnya sudah berkeluarga, tapi ia pisah dengan suami dan anak satu-satunya yang kini berusia 10 tahun. Anaknya telah dibawa suaminya sejak kecil. Jadi, sebelum ke Hong Kong, Santi sehari-hari tinggal bersama ibunya.

Cita-cita Santi setelah bekerja selama dua tahun di Hong Kong nanti adalah memperbaiki ekonomi dia dan ibunya. “Pengen cari modal buat usaha sendiri di rumah,” kata Santi.

Mimpi-mimpi Nuning dan Santi tentunya tidak bakal bisa terwujud jika mereka belum bekerja. Sampai saat ini, mereka masih menunggu dijemput majikan mereka masing-masing.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Kamis,23/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22