Pencarian populer

Trump Kecam FBI karena Lanjutkan Investigasi Kasus Rusia

Presiden AS Donald Trump rayakan Natal di Gedung Putih. (Foto: REUTERS/Jonathan Ernst)

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengecam FBI atau Biro Investigasi Federal yang bersikeras melanjutkan investigasi kasus Rusia. Trump menyebut, tindakan FBI tersebut 'tanpa alasan dan tanpa bukti' ketika melakukan investigasi kembali.

Dilansir AFP, Minggu (13/1), dari New York Times, akibat hal tersebut, FBI meluncurkan penyelidikan kontra intelijen yang sebelumnya dirahasiakan. Penyelidikan itu untuk menentukan apakah Trump merupakan ancaman keamanan nasional.

Pada saat yang sama, FBI juga membuka penyelidikan kasus kriminal tentang Trump yang kemungkinan menghalangi keadilan di AS. Melalui akun Twitternya, Trump bahkan mengungkapkan kekecewaan karena FBI kembali melanjutkan investigasi.

"Wow baru tahu di New York Times (disebutkan) mantan pemimpin FBI korupsi. Lalu hampir semua karyawan dipecat dan meninggalkan organisasi kemudian melakukan investigasi terhadap saya," cuit Trump di Twitter.

"Investigasi tanpa alasan dan bukti setelah saya memecat Direktur FBI James Comey. FBI dalam keadaan kacau total karena kepemimpinan Comey yang buruk," lanjut dia.

Federal Bureau of Investigation (FBI) (Foto: Carlos Barria/Reuters)

Sementara itu saat ditanya dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Sabtu (12/1) malam, soal apakah Trump terlibat dalam kasus Rusia, ia hanya menjawab singkat.

"Saya pikir itu hal yang paling menghina yang pernah Anda tanyakan," ucap Trump.

Sebelumnya di tahun 2017, FBI menyelidiki pembobolan email Hillary Clinton oleh hacker. Dari kasus ini terungkap bahwa Clinton menggunakan email pribadi untuk kepentingan negara saat dia menjabat Menteri Luar Negeri.

James Comey. (Foto: AFP/Mandel Ngan)

Trump saat itu mengecam tindakan Clinton yang dianggapnya membahayakan negara. Awalnya Comey pada Juli 2016 mengatakan kasus Clinton akan ditutup karena tidak terbukti mengancam negara. Namun 11 hari sebelum pemilu 8 November 2016, Comey membuka kembali kasus itu setelah menemukan banyak bocoran baru email Clinton.

Banyak suara miring yang mengatakan Comey dipecat setelah FBI menyelidiki hubungan antara Rusia dengan peretasan email tersebut. Dalam laporan Januari lalu, berbagai badan intelijen AS mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin berupaya mengganggu jalannya pemilu 2016, bertujuan untuk membantu Trump menang.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33