Pencarian populer

Trump Terpaksa Jilat Ludah Sendiri Demi Mengakhiri Shutdown

Donald Trump. (Foto: AFP/CARLOS BARRIA)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap menjilat ludahnya sendiri dengan menawarkan perlindungan bagi imigran anak demi mengakhiri shutdown. Padahal sejak awal, justru Trump yang mencabut perlindungan tersebut.

Diberitakan Reuters, Trump pada Sabtu (19/1) menawarkan perlindungan selama tiga tahun bagi imigran ilegal anak dalam program DACA yang dikenal dengan sebutan "Dreamers" dan juga bagi imigran pemegang status perlindungan sementara (TPS).

Sebagai gantinya, Trump meminta agar Kongres menyetujui permohonan dana USD 5,7 miliar untuk membangun tembok di perbatasan Meksiko. Ihwal pagar ini jadi biang kerok tidak disetujuinya anggaran belanja pemerintah, berujung shutdown alias penutupan beberapa institusi negara karena anggaran tidak cair untuk menggaji pegawai.

Trump juga meminta tambahan USD 800 juta untuk bantuan kemanusiaan darurat dan USD 805 juta untuk teknologi deteksi narkotika di pintu-pintu perbatasan AS.

Hingga saat ini shutdown telah berlangsung selama 29 hari. Ada sekitar 800 ribu pegawai negeri yang terpaksa dirumahkan karena tidak bisa digaji selama shutdown.

"Saya di sini ingin memecahkan kebuntuan memberikan Kongres jalan untuk mengakhiri shutdown pemerintah dan menyelesaikan krisis di perbatasan selatan," kata Trump di Gedung Putih.

Pemimpin Demokrat Nancy Pelosi (kiri) bersama Presiden AS Donald Trump (kedua dari kiri). (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)

Namun tidak butuh waktu lama sampai kubu Partai Demokrat menolak mentah-mentah proposal Trump tersebut. Pemimpin Senat Chuck Schumer dari Demokrat menganggap Trump menjilat ludahnya sendiri karena Presiden yang justru ingin menghilangkan hak-hak Dreamers.

"Presidenlah yang pertama kali mencabut perlindungan DACA dan TPS. Menawarkan perlindungan kembali yang ditukar dengan tembok bukan kompromi tapi peyanderaan," ujar Schumer di akun Twitternya.

Penolakan yang sama juga disampaikan Pemimpin Kongres Nancy Pelosi. Dia mengatakan penawaran Trump tidak memperlihatkan itikad baik untuk memulihkan kepastian pada kehidupan masyarakat.

DACA adalah program perlindungan deportasi bagi anak-anak pendatang ilegal yang disahkan Presiden Barack Obama pada 2012. Saat ini ada sekitar 700 ribu penerima DACA yang memiliki izin kerja, tapi bukan kewarganegaraan.

Demokrat menginginkan agar DACA diperpanjang masa berlakunya. Namun Trump pada 2017 mencabut DACA, berpotensi memicu deportasi massal imigran ilegal dari Amerika Latin. Hingga saat ini DACA masih berlaku berkat perintah pengadilan.

Sementara TPS adalah status khusus bagi pendatang ilegal dari negara-negara yang terlibat konflik atau bencana alam. Pemegang TPS berhak bekerja dan tinggal di AS untuk waktu terbatas. Pemerintah Trump telah mencabut TPS untuk imigran dari El Salvador, Haiti, Honduras, dan negara-negara lain.

Demokrat memiliki solusi sendiri untuk mengakhiri shutdown, yaitu menambahkan dana tembok perbatasan USD 1 miliar lagi menjadi USD 2,3 miliar. Namun angka ini masih jauh dari yang diminta Trump.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31