Pencarian populer

Tsunami Anyer (2): Dibully di Medsos, Saya Tetap Yakin Ini Tsunami

Personel TNI bersama relawan mencari korban tsunami dari balik reruntuhan rumah di Sumur Pesisir, Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018). (Foto: ANTARA FOTO/Aurora Rinjani)

Jam-jam berikutnya adalah kisah saya di tempat pengungsian di sebuah kampung yang memiliki ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sebuah kampung yang sunyi, jalannya berbatu dengan nyala listrik yang tidak terlalu terang. Kampung ini mendadak ramai karena tiba-tiba banyak tamu datang yang tak diundang.

Mobil saya hentikan di pinggir jalan di depan lapangan volley, yang memiliki bahu jalan agak lebar. Saya berhenti karena melihat beberapa mobil berplat, B, D, dan F yang juga berhenti di sini. Ternyata sebagian besar mereka adalah penghuni Salsa Beach Hotel, hotel yang saya tempati. Kami saling bertemu dan menceritakan apa yang kami alami.

Mobil rusak diterjang Tsunami di Pantai Anyer, Banten (22/12). (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Pengendara mobil berplat D asal Bandung membawa keluarga dan anak-anak. Anak-anaknya terluka karena terkena pecahan kaca. Tapi tidak parah. Oleh warga kampung, anak itu diobati ala kadarnya. “Anak saya terluka saat saya evakuasi, karena kaca jendela sudah pada pecah saat itu,” kata dia.

Sementara pengendara mobil F, Rizal, asal Bogor yang bekerja di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), beruntung segera menyelamatkan diri begitu tsunami datang. Rizal menghuni kamar di dekat pintu keluar hotel. Genangan air saat itu sudah memasuki halaman hotel dan kamarnya.

“Saya keluar kamar, kursi dan meja di teras sudah berjatuhan dan menghalangi pintu kamar saya. Saya tendang semua, saya gendong anak saya, dan langsung masuk mobil. Mobil langsung saya bawa keluar. Alhamdulillah selamat,” kata Rizal yang datang ke Anyer untuk liburan bersama istri dan anaknya.

Pak Rani (60 tahun), seorang warga kawasan Anyer, juga ikut mengungsi, membawa serta keluarganya. Dia memiliki sebuah kios onderdil motor di sebelah Salsa Beach Hotel. Tiap hari, Pak Rani mengelola usahanya di kios tersebut. Begitu magrib, dia menutup kiosnya dan pulang ke rumahnya yang berjarak 100 meter yang berada di seberang kios, menyeberang jalan Raya Anyer.

Pak Rani tahu ada tsunami setelah mendengar banyak orang berteriak dan melarikan diri. “Saya sempat sesak nafas, tapi alhamdulillah bisa mengungsi di sini,” kata Pak Rani. Sudah bertahun-tahun Pak Rani tinggal di kawasan itu. “Baru kali ini, Pak, saya mengalami ini. Biasanya kalau air naik, tidak sampai jalan raya. Arusnya juga tidak kencang,” kata dia.

Sebelum mengungsi, Pak Rani sempat mendekati kiosnya. Lemas sekali badannya saat melihat kiosnya yang merupakan bangunan semi permanen, setengah tembok-setengah kayu, hancur diterjang air laut. “Saya sudah enggak mikir barang dagangan saya, yang penting selamat,” kata Rani yang mengungsi bersama istri, anak, menantu dan cucunya.

“Ke arah Carita lebih parah. Banyak bangunan yang hancur. Jalan raya pun tidak bisa dilalui, karena banyak warung dan kios yang terseret arus dan sekarang menutupi jalan,” kata Sulaiman, warga yang lain.

Kondisi jalan yang biasa di lalui menuju Pantai Carita. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Kisah yang saya alami dan kisah yang dialami dan dilihat oleh pengungsi lainnya, termasuk warga sekitar, semakin meyakinkan saya bahwa ini tsunami, bukan sekadar gelombang pasang. Saya menduga bahwa kejadian ini sangat mungkin mendatangkan banyak korban karena terjadi pada saat banyak wisatawan Anyer masih melakukan aktivitas.

Cerita bahwa Jalan Raya Anyer dipenuhi puing, sehingga tidak bisa dilewati bisa membuat makin runyam untuk proses evakuasi. Beruntung buat saya dan dua anak saya, karena di seberang Salsa Beach Hotel, ada akses menuju kampung di bukit. Tapi, bagaimana dengan pengunjung yang menginap di hotel yang akses menuju perbukitan harus melalui Jalan Raya Anyer?

Informasi Fikri Assegaf

Percakapan Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad dengan Ahmad Fikri. (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Saat saya menuju tempat pengungsian, Ahmad Fikri Assegaf, sahabat baik saya yang juga seorang pengacara terkenal dan komisaris independen BNI, mengirim Whatsapp (WA) ke saya sekitar pukul 21.51 WIB, Sabtu, 22 Desember 2018. “Assalamualaikum. Mas, saya lagi di KL, apa benar ada gempa di Ujung Kulon? Tsunami mas di sana. Barusan dengar.”

Saat terima WA, saya masih dalam kondisi mengemudikan mobil untuk evakuasi dan bertemu dengan para pengungsi. Beberapa kali, Mas Fikri menelepon dan saya tidak sempat angkat. Seusai bertemu singkat dan mendengarkan cerita para pengungsi, saya baca pesan Mas Fikri kemudian saya balas sekitar pukul 22.05 WIB. ”Betul. Saya pas ada di Anyer nih, barusan evakuasi.”

Informasi Mas Fikri terus terang membuat saya semakin yakin bahwa ini tsunami dan berdampak luas. Mas Fikri memiliki vila di daerah Sumur, di kawasan yang dekat dengan Ujung Kulon. Beberapa tahun lalu, saya pernah diajak Mas Fikri merasakan vilanya dan bermain kano. Saya menginap dua malam. Vilanya berada dekat pantai. Selain memiliki vila, Mas Fikri juga mengelola sebuah sekolah di sana. Tentu, Mas Fikri mendapat informasi soal tsunami ini dari para penjaga vila maupun warga yang selama ini membantu aktivitas sosialnya di daerah Sumur. Saya yakin valid. Artinya, bahwa tsunami tidak hanya terjadi di Anyer dan Carita, tapi juga sampai di Ujung Kulon.

Berbagai kesaksian dan kejadian yang saya alami inilah yang kemudian memberanikan saya untuk menginformasikan bahwa terjadi tsunami di Anyer dan saya kirim ke teman-teman redaksi kumparan (kumparan.com). “Siapa piket? Telp saya. Tsunami menerjang Anyer,” bunyi WA saya pertama kali pukul 22.05 WIB ke grup WA ‘Penjaga Malam’.

SOP dalam pemberitaan kumparan, setiap informasi yang masuk harus diuji akurasinya. Karena itu, beberapa teman yang piket malam berbagi tugas. Ada yang menelepon saya dan ada yang melakukan konfirmasi ke pihak terkait, seperti BMKG, BNPB, aparat kepolisian, dan sebagainya. Adhim Mugni, wartawan kumparan yang sedang piket malam, menghubungi saya melalui telepon. Tapi sinyal tidak stabil, akhirnya terputus. Wartawan kumparan lain, Ferio Pristiawan, ganti menghubungi saya, tapi selalu terputus.

Akhirnya, saya menuliskan berita singkat yang terdiri dari 6 alinea, dengan judul: Tsunami Menerjang Pantai Anyer. Teman-teman lain yang melakukan konfirmasi ke pihak-pihak terkait saat itu sudah mendapatkan informasi bahwa tidak ada tsunami di Anyer, meragukan informasi yang saya tulis. Koordinator Liputan kumparan Ikhwanul Habibi yang memimpin koordinasi malam itu mengusulkan di grup, mengubah judul yang saya tulis. Dia mengusulkan judul: “Air Laut Pantai Anyer Naik, Beberapa Bangunan Rusak.” (lihat image percakapan di WA-Red).

Percakapan Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad dengan tim kumparan. (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Dalam hati kecil, kesal juga saya. Judul yang ditulis seorang pemimpin redaksi (pemred) diusulkan diganti. Padahal istilah ‘Tsunami’ dan ‘Air Laut Naik’ beda jauh makna dan dampaknya. Tapi saya senang, karena Habibi dan teman-teman piket malam tidak terima mentah-mentah informasi dari pemred-nya. Saya angkat topi kepada teman-teman sekaligus anak buah saya, karena telah menjalankan SOP untuk menguji akurasi sebuah informasi.

Wajar mereka meragukan informasi dari saya, karena saya belum menjelaskan saya berada di lokasi, mengalami sendiri dan menjadi korban. “Bi, ini tsunami harusnya. Ini karena naiknya di atas 2 meter. Menurutku tsunami ini. Mobil geser semua Bi. Nabrak2 tembok,” demikian WA saya meyakinkan teman-teman.

Mas di TKP?” tanya Habibi. “Iya…karena saya bawa anak, jadi saya evakuasi anak dulu. Itu mobilku yang rusak Bi. Sinyal juga susah,” jawab saya. Saya saat itu kirim foto mobil Fortuner saya yang hancur di bagian depan.

Teman-teman akhirnya yakin, dan membuat berita pertama berjudul “Tsunami di Pantai Anyer, Beberapa Hotel Roboh’ pada pukul 22.21 WIB. Begitu berita pertama naik, saya memerintahkan kepada teman-teman, “Langsung push notif. Aku aman, insya Allah.” Berita kedua kemudian meluncur mengenai masyarakat dan wisatawan yang mengungsi ke tempat lebih tinggi.

Sistem di operasional kumparan, begitu ada peristiwa besar, maka semua tim dikerahkan, meski sedang libur. Beberapa menit berselang, semakin banyak tim redaksi yang melibatkan diri dalam mengupdate dan mencari konfirmasi-konfirmasi lanjutan. Wisnu Prasetyo, salah seorang asisten redaktur, sudah mendapat konfirmasi dari Pak Daryono dari BMKG. Dia pun WA di grup ‘Penjaga Malam’. “Ada catatan kita, tapi sensor seismik kita tdk ada record gempa. Dari Daryono BMKG,” bunyi WA Wisnu.

Nurul Hidayati, wartawan senior kumparan yang juga menjabat Kepala Bahasa, mengirim WA juga, “Infonya gelombang tinggi..bkn tsunami.” Habibi pun sempat labil dengan istilah ‘tsunami’, kemudian dia pun membalas WA Nurul, “duhh, berita pertama tsunami mbak. Perlu diralat?” Saya tahu Habibi sangat hati-hati dan memang harus begitu.

Begitu Habibi agak labil, saya yakinkan kembali. “Kalau gelombang tinggi, biasa itu. Ini menyapu semua. Kalau di lokasi…tsunami itu. Saya dengar informasi bahwa orang-orang di Cilegon evakuasi juga. Ujung Kulon, katanya juga lebih parah.”

Habibi kembali mengirim WA pernyataan resmi BMKG di Twitter. Isi twit BMKG sebagai berikut: “BMKG tidak mencatat gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang. Terlebih malam ini ada fenomena bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang tinggi. Tetap tenang.”

Saya memerintahkan untuk tetap merilis konfirmasi dari BMKG menjadi berita sebagai bagian dari keberimbangan informasi. Tapi saya memerintahkan juga untuk mengecek dan mengkonfirmasi apakah sebuah tsunami harus diawali dengan gempa? Teman-teman kemudian bergerak mencari tahu definisi apa itu tsunami dan bagaimana sebenarnya tsunami. Saya mencurigai bahwa tsunami ini terjadi terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Karena saat itu, dentuman Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi.

Banjir Bully terhadap kumparan

Para netizen yang membully kumparan di Twitter. (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Begitu twit BMKG muncul, saya diberitahu teman-teman bahwa kumparan dibully netizen. Bahkan sangat banyak Netizen memaki-maki kumparan dan mengatakan bahwa kumparan sumber hoaks. Teman-teman shock. Tapi saya minta teman-teman tidak usah panik, tetap yakin bahwa yang terjadi adalah tsunami. Yang ada di pikiran saya saat itu, kalau kejadian di Anyer hanya disebut gelombang pasang, dampaknya akan sangat bahaya: proses evakuasi akan lamban, tim rescue yang dikerahkan pun hanya seadanya, perhatian pemerintah pun akan minim. Dampaknya: korban bisa makin banyak yang tak terselamatkan.

Ternyata kecaman terhadap kumparan juga terjadi di banyak grup WA, termasuk di grup yang saya ikuti. kumparan dianggap menyebarkan rumor. kumparan dianggap membuat masyarakat panik. Dan masih banyak lagi. Saya tetap mempertahankan informasi bahwa yang terjadi adalah tsunami, bukan gelombang pasang. Saya juga yakinkan bahwa saya di lokasi. Saya juga dikritik tidak bisa menyebut ‘tsunami’, karena istilah ‘tsunami’ harus keluar dari pernyataan lembaga yang berkompeten.

Saya maklumi kritik-kritik itu, karena yang mengkritik tidak mengalami kejadian langsung di lapangan. Sementara saya mengalami hal ini secara langsung, mendengar kesaksian-kesaksian langsung dari para korban dan warga, serta sebelum tsunami terjadi juga telah melakukan pengamatan-pengamatan dan diskusi-diskusi, walaupun sangat terbatas.

Di grup WA kumparan lainnya, grup WA Share & Report, Anton William, wartawan senior, pernah menjadi wartawan Tempo dan Liputan6.com yang kini menjadi salah seorang General Manager di kumparan, menyampaikan insight yang menarik. Anton lulusan jurusan Astrofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia sangat paham dengan tsunami dan memiliki jaringan dengan para ilmuwan.

Catatan tinggi gelombang di Banten saat tsunami (Foto: Dok. BIG)

Insight Anton menenangkan teman-teman Redaksi. Anton membeberkan data mengenai elevasi pasang surut di pantai kawasan Anyer dan sekitarnya yang berasal dari TideGauge, alat yang paling sahih untuk mengukur ketinggian gelombang di pantai. Anton juga membagi informasi, “Dari Group BMKG: Mohon ijin…Ada info tsunami akibat erupsi gunung krakatau. Bisa jadi longsoran krakatau.

Informasi dan data dari Anton sangat menarik buat saya. Beberapa teman di grup juga menshare mengenai info-info yang semakin membenarkan bahwa yang terjadi adalah tsunami. Eunike Kartini alias Keke juga menshare definisi ‘tsunami’. Tsunami is a long high sea wave caused by an earthquake, submarine landslide, or other disturbance. “Tapi most of Indon taunya tsunami pasti harus ada gempa duluan. mungkin itu yg edukasinya ga nyampe padahal artinya begini,” tulis Keke.

Martono, salah seorang anggota Tim IT kumparan membagi definisi ‘tsunami’ yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tsunami adalah gelombang laut dahsyat yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunung api di dasar laut.

Anton William kembali menimpali dengan data. “Anyer dulu juga pernah kena tsunami gede, tapi bukan dari gempa. Tapi gara2 letusan krakatau 1883,” tulis Anton yang memang sangar mahir dalam mengolah data. “Tsunami akibat longsoran gunung itu bisa terjadi. Jamak di Alaska. Tsunami paling mematikan akibat longsoran gunung diprediksi terjadi di La Palma,” tulis Anton lagi sambil memposting sebuah link di Youtube.

Kalau mobil sampai keseret sih harusnya sumber gelombangnya besar. Gak mungkin cuma angin kencang. Dugaanku sih Krakatau longsor mas,” lagi-lagi kata Anton. Terhadap data-data yang disampaikan Anton, saya memujinya. “Mantabs Ton, ini data menarik.” Saya perintahkan teman-teman redaksi untuk menyeriusi data yang diberikan Anton, termasuk memasok juga ke BMKG dan BNPB, untuk meyakinkan mereka bahwa yang terjadi adalah tsunami.

Di tengah diskusi dan pengembangan berita di kumparan, bully dan kecaman terhadap kumparan makin meluas. Apalagi Sutopo Purwo Nugroho, yang menjadi jubir BNPB, ngetweet yang intinya menyampaikan yang terjadi di Anyer bukan tsunami, tapi gelombang pasang akibat bulan purnama, bukan letusan gunung Krakatau. Sutopo ikon BNPB, followernya banyak.

Sampai akhirnya sekitar pukul 23.00 WIB, tim kumparan dibuat tenang dengan munculnya rilis Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono MSc. Judul rilis yang diterima kumparan, “PERISTIWA TSUNAMI DI PANTAI BARAT BANTEN TIDAK DIPICU OLEH GEMPA BUMI”. Rilis ini bisa mengurangi bully terhadap kumparan, karena menyebut ‘tsunami’. Rilis ini langsung kumparan kutip sebagai berita.

Berbagai informasi kemudian muncul. Di grup WA muncul informasi bahwa tsunami juga terjadi di Lampung. Artinya, tsunami terjadi dengan area yang luas. Namun, BMKG dan BNPB saat itu belum juga memutuskan bahwa yang terjadi adalah tsunami. Meski sudah ada pernyataan dari pejabat BMKG, tapi Kepala BMKG Dwikorita Karnawati belum memberikan pernyataan. Bahkan, teman-teman redaksi menginformasikan ada pernyataan BNPB yang menyatakan warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Ini membuat saya terkejut, karena nyatanya masyarakat masih di pengungsian.

Konferensi pers BMKG mengenai gelombang tinggi di Selat Sunda. (Foto: Adhim Mugni Mubaroq/kumparan)

Malam itu, saya sebenarnya ingin turun ke bawah melihat Anyer dari dekat, tapi warga meminta untuk tetap di dataran tinggi. Dua anak saya juga meminta-minta saya untuk tidak pergi meninggalkan mereka. Warga pun juga tidak memperbolehkan sepeda motornya disewa atau dipinjam. “Informasi dari bawah, masih bahaya,” kata warga.

Tim redaksi memberitahu saya bahwa saat itu masih terjadi perdebatan apakah kejadian di pantai Banten dan Lampung adalah tsunami atau gelombang pasang. Ada informasi BMKG akan menggelar jumpa pers pukul 00.30 WIB, Minggu (23/12). Sambil menunggu keputusan pemerintah, saya pun terus memasok informasi kepada redaksi kumparan, termasuk soal dentuman Gunung Anak Krakatau yang terus terdengar, hujan deras yang sedang berlangsung, terblokirnya jalan Raya Anyer karena puing-puing, dan isu mengenai banyaknya korban tewas. Teman-teman di kantor terus mengkonfirmasi informasi-informasi yang saya sampaikan dan memberitakannya.

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)

TVOne menghubungi saya karena tahu bahwa saya ada di lokasi, meminta untuk siaran live. Saya saat itu spontan menyetujui, karena saya akan semakin bisa meyakinkan bahwa yang terjadi adalah tsunami, bukan sekadar gelombang pasang. Saya ceritakan yang saya alami, termasuk mobil saya yang berbobot 2.700 Kg yang terseret arus air dan menabrak pohon kelapa, hancurnya hotel dan cottage Salsa Beach Hotel, dan mengungsinya para wisatawan dan warga.

Jumpa pers BMKG ternyata molor, karena alotnya rapat dalam menentukan tsunami atau tidak. Saya dan teman-teman redaksi terus menunggu keputusan pemerintah, sampai akhirnya sekitar pukul 01.11 WIB, Ikhwanul Habibi memposting informasi di grup ‘Penjaga Malam’, “Redaksional twit BMKG diganti. Got, tolong bikin. Mereka tidak menyebut lagi air pasang,” Informasi Habibi sekaligus perintah kepada wartawan kumparan Ardhana Pragota, yang saat itu piket malam.

Ini tanda-tanda baik, bahwa pemerintah sudah yakin bahwa yang terjadi adalah tsunami. Harapan saya, pemerintah memutuskan hal itu lebih cepat lebih baik, agar penanganan bencana bisa lebih cepat dan masif, termasuk mengantisipasi tsunami susulan yang bisa saja terjadi. Sebab, sebelumnya muncul imbauan agar masyarakat tidak panik dan kembali ke rumah masing-masing, karena yang terjadi adalah gelombang pasang biasa.

Akhirnya, Ini Tsunami

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)

Hingga pukul 01.00 WIB, BNPB masih menyebut gelombang pasang, meski sudah ada kepastian 3 orang tewas. Namun, pukul 01.59 WIB, Habibi mengabarkan bahwa BMKG akhirnya memutuskan yang terjadi adalah tsunami karena erupsi Gunung Anak Krakatau. Saya bersyukur terhadap keputusan pemerintah. Selain bisa mempercepat penanganan bencana, saya sebagai pemimpin redaksi kumparan juga lega karena yang kami beritakan bukanlah rumor, apalagi hoaks. BMKG juga menyampaikan ada kemungkinan tsunami susulan, sehingga masyarakat untuk tetap di lokasi pengungsian yang aman dan tetap waspada.

Hujan deras mengguyur kembali kawasan Anyer pukul 02.30 WIB. Saya dan dua anak saya tidak bisa tidur, begitu juga dengan pengungsi lain. Kami pun terus berjaga-jaga. Tempat pengungsian kami di kampung dengan jalan berbatu, tapi sekitar pukul 03.00 WIB, mulai lewat mobil ambulans, mobil Tim SAR, dan sebagainya. Saya makin lega karena pengerahan tim untuk proses evakuasi sudah berjalan. Mobil ambulans dan Tim SAR melewati jalan kampung ini, karena Jalan Raya Anyer tak bisa dilalui. Masih tertutup puing.

Kantung mayat di Puskesmas Carita, Jalan Carita Raya Km 6, Pandeglang, Banten. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Saya bertahan di lokasi pengungsian hingga pukul 05.00 WIB. Dalam suasana hujan deras, ada Tim SAR yang mengabarkan bahwa Jalan Raya Anyer menuju Cilegon sudah bisa dilalui sebagian. Tapi, masih ada jalan yang terputus, karena untuk menyingkirkan puing perlu alat berat. Saya diberitahu untuk melalui jalan memutar sampai Pantai Karang Bolong.

Beberapa saat sebelum beranjak pergi, saya mendapatkan informasi bahwa sekarang banyak netizen yang memuji kumparan. Bahkan banyak netizen yang meminta maaf karena telah membully kumparan. Pak Sutopo juga menyampaikan maaf karena sebelumnya menyampaikan yang terjadi bukan tsunami.

Suasana kerusakan pasar malam dampak Tsunami Selat Sunda di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur,Kabupaten Pandeglang. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Kejadian tsunami di Banten dan Lampung ini pun akhirnya menguak kelemahan-kelemahan pemerintah dalam mengantisipasi bencana, termasuk rusaknya alat pendeteksi tsunami. Tsunami ini juga menguak definisi tsunami, yang selama ini hanya dipahami sebagai naiknya gelombang air laut karena gempa. Penelitian-penelitian mengenai tsunami pun bermunculan.

Yang menyedihkan dan memprihatinkan adalah banyaknya korban meninggal dalam musibah ini. Tak terbayangkan oleh saya saat itu, jumlah korban tewas bisa mencapai 400 orang lebih. Ratusan bangunan, termasuk hotel dan villa juga hancur. Saya berdoa semoga para korban meninggal husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

Lantas bagaimana kisah saya saat keluar dari lokasi pengungsian? Begitu saya melalui Jalan Raya Anyer, saya merasakan begitu dahsyatnya tsunami ini. Tapi, tunggu di tulisan selanjutnya ya….

Laporan: Pemimpin Redaksi kumparan Arifin Asydhad

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63