Pencarian populer

Tsunami Anyer (3): Kawasan Anyer yang Porak-poranda

Pantauan udara dampak pasca tsunami di Kecamatan Sumur, Banten. (Foto: Resnu Andika/kumparan)

Di tengah hujan deras yang mengguyur sejak pukul 02.30 WIB, saya memutuskan untuk turun dari kampung lokasi pengungsian. Adalah Rizal, sesama penghuni Salsa Beach Hotel, yang mengabarkan Jalan Raya Anyer sudah bisa dilalui kendaraan, meski puing masih berserakan. Rizal yang tinggal di Bogor mengetahui informasi ini setelah diberitahu keluarga yang menyusulnya ke kawasan Anyer.

Sekitar pukul 04.30 WIB, Rizal menghampiri dan mengetuk kaca mobil saya. Saya langsung membukakan kaca mobil untuknya. Sambil berhujan-hujan, bapak satu anak ini bilang, “Pak Arifin, keluarga saya sudah di bawah. Mereka tetap menjemput saya, padahal sudah saya bilang, jangan susul karena masih bahaya. Kata petugas di bawah, jalanan sudah bisa dilalui.”

Awalnya kami bersama Rizal dan beberapa warga berjaga sambil rebahan di sebuah pos ronda. Namun, hujan deras yang disertai angin kencang memaksa kami membubarkan diri. Saya dan Rizal masuk ke dalam mobil, sementara warga masuk ke dalam rumah.

“Yang pasti, jalan yang sudah kebuka, yang ke arah Carita. Belum ada info yang ke arah Cilegon. Nanti saya kabari lagi Pak Arifin kalau saya sudah sampai bawah,” kata Rizal. Saya sepakat dan saya minta dia hati-hati dan semoga kembali ke Bogor dengan selamat.

Mobil rusak diterjang Tsunami di Pantai Anyer, Banten (22/12). (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Rizal. Dialah yang membantu saya mengikat bumper mobil saya saat di lokasi pengungsian. Akibat menabrak pohon kelapa saat diparkir, bagian mobil saya penyok, bumper mobil nyaris terlepas. Agar lebih aman, Rizal menyarankan supaya bumpernya diikat saja. Dia kemudian yang mencari tali dan mengikatnya. Saya hanya kebagian menyalakan lampu handphone untuk menerangi. Terima kasih Mas Rizal.

Sambil menunggu informasi dari Rizal, saya memantau grup WA redaksi kumparan. Koordinator Liputan Ikhwanul Habibi sudah mengkoordinasikan mengirim tim peliput ke Anyer, Carita, Tanjung Lesung, Sumur di Pandeglang, dan Lampung saat itu juga.

Tim lengkap yang kami kirim: reporter, fotografer dan videografer. Saya ingatkan tim untuk tetap memetingkan keselamatan dalam meliput. Saya sebelumnya juga sudah kirim kontak-kontak narasumber terkait tsunami, salah satunya kontak Kepala Badan Geologi ESDM Rudy Suhendar.

Kondisi Hotel Mutiara Carita usai diterjang tsunami di Selat Sunda. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Sekitar pukul 04.50 WIB, Rizal telepon saya, memastikan Jalan Raya Anyer sudah bisa dilalui. Bahkan informasi Tim SAR, jalan menuju arah Cilegon juga sudah aman. Saya diskusi dulu dengan dua anak saya, apakah tetap melanjutkan untuk tes masuk sekolah atau langsung pulang ke Bogor. Akhirnya kami bersepakat untuk tetap mengantar anak bungsu saya ikut tes sekolah. Anak kedua saya, Shabhi Aliyya alias Chacha, masih tetap semangat meski tak tidur semalaman.

Jam itu masih hujan deras, saya kemudian memberitahu pengungsi pengendara Nissan X-Trail, sesama penghuni Salsa Beach Hotel, yang parkir di depan saya. Saya tahu ibu dan dua anak lelakinya itu juga memiliki tujuan yang sama: mengantar anaknya tes masuk ke sebuah SMA boarding school di kawasan Anyer.

“Bu, saya mau mencoba turun, karena katanya jalan ke arah Cilegon sudah mulai bisa dilalui,” kata saya kepada mereka.

Saat itu, ibu tersebut duduk di bagian depan di kursi penumpang, sementara yang berada di kemudi adalah anaknya. Sementara anaknya yang lain, yang akan ikut ujian masuk sekolah, duduk di belakang. Belakangan, dari komentar di kumparan (kumparan.com), saya tahu bahwa anak ibu ini belum lama bisa mengemudikan mobil. Dari jaket yang ia kenakan, anak ibu ini mahasiswa FMIPA ITB.

“Pak, kita konvoi ya..,” kata ibu tersebut.

Testimoni ibu korban tsunami di komentar tulisan Pemimpin Redaksi kumparan, Arifin Asydhad. (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Akhirnya kami turun dari lokasi pengungsian. Hujan yang sangat deras membuat saya harus mengemudikan hati-hati. Kira-kira 15 menit, kami sudah sampai di pertigaan Jalan Raya Anyer. Saya berhenti sebentar, salah seorang Tim SAR mendekati saya.

“Akses ke Cilegon belum sepenuhnya bersih, tapi bapak bisa lewat. Ada bagian yang belum bisa kami bersihkan. Jadi nanti Bapak masuk ke kanan dulu, lewat jalan kampung, tapi nanti kembali ke jalan raya lagi. Hati-hati, Pak,” kata bapak yang mengenakan jas hujan bertuliskan BNPB.

Saya sempat melihat Salsa Beach Hotel. Tapi saat itu, semua area di Jalan Raya Anyer dalam kondisi gelap gulita. Listrik padam atau mungkin sengaja dipadamkan. Padahal saat kami meninggalkan hotel itu, listrik masih menyala. Kami berjalan pelan menyusuri Jalan Raya Anyer menuju Cilegon. Meski sudah dinyatakan ‘bersih’, nyatanya puing-puing masih berserakan di tengah jalan. Tapi, mobil tetap bisa melaju, meski dengan kecepatan yang rendah.

Kondisi Anyer yang porak-poranda (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Kira-kira setelah 2,5 kilometer, terlihat puing-puing besar dari bekas bangunan masih berada di tengah jalan. Ada beberapa orang yang berjaga di lokasi itu meminta saya untuk belok kanan.

“Belum bisa dilewati Pak. Lewat sini pak, ikuti saja jalan ini,” kata dia. Hujan deras masih mengguyur, saya pun mengikuti instruksi mereka. Saya lalui jalan sempit itu, yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan.

Tak ada petunjuk jalan setelah itu. Kami coba aktifkan Google Map dan mengikuti arahnya. Hingga suatu saat, saya dan pengendara Nissan X-Trail tadi terpisah. Saya menunggu lama mereka di sebuah jalan berbelok, tapi mereka tak kunjung datang. Saya pun tidak punya nomor HP mereka. Akhirnya kami teruskan perjalanan. Suasana yang masih agak gelap dan hujan deras, membuat saya tidak bisa berbuat banyak untuk eksplor jalan-jalan di kampung itu.

Hingga akhirnya sekitar pukul 05.20 WIB, kami menemukan jalan tanah dan batu dengan tingkat kecuraman yang tinggi. Saya sempat ragu untuk melaju lagi. Tapi, anak saya, Hilya memberikan semangat, “Terus saja Pa, bismillah.”

Akhirnya memang jalan kurang bersahabat. Di tanjakan, mobil Fortuner saya selip. Akhirnya saya memutuskan untuk mundur. Cukup lama saya untuk memundurkan mobil, karena jalan tanah itu licin, dan ternyata saya baru tahu samping kanan dan kiri adalah sungai.

Kondisi Hotel Mutiara Carita usai diterjang tsunami di Selat Sunda. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Begitu mobil sudah turun di kondisi yang agak landai, saya mencari jalan untuk memutarkan mobil. Kebetulan ada lahan yang agak lebar dengan tanah yang agak padat. Saya turun dari mobil, hujan-hujanan mengecek tanah. Saya memastikan tanah cukup kuat untuk diinjak mobil.

Ternyata, tanah itu tidak sekuat yang saya duga, mobil pun selip lagi. Saya turun lagi, mengumpulkan batu-batu untuk jadi pijakan mobil. Akhirnya setelah berjuang 15 menit dalam kondisi yang masih hujan, alhamdulillah, mobil bisa terbebas dari lokasi selip. Saat itu, suasana sudah agak terang.

Lantas, saya mengemudikan mobil dengan kecepatan agak kencang, menaklukkan jalan menanjak setengah berbatu dan setengah tanah. Sampai akhirnya, saya menemukan lagi jalan berbatu yang cukup bagus. Kami lega, terlepas dari horor selama 30 menit.

Sekitar pukul 05.45 WIB, kami menemukan masjid, kami berhenti dan salat subuh. Saya mengganti baju yang basah kuyup, dengan baju ganti yang masih terselamatkan di tas yang basah yang sempat terendam saat di hotel.

Sekitar pukul 06.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan lagi mencari jalan keluar menuju Jalan Raya Anyer. Karena hari sudah terang, dengan bertanya ke beberapa warga yang berada di pinggir jalan, akhirnya kami bertemu Jalan Raya Anyer, tidak jauh dari Pantai Karang Bolong. Alhamdulilah. Kami menyusuri Jalan Raya Anyer menuju arah Cilegon. Porak poranda.

Kondisi Anyer yang porak-poranda (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Saya minta Hilya untuk memotret dan memvideo suasana saat itu, sementara saya terus mengemudikan mobil. Jalanan sangat sepi, tapi beberapa mobil seperti mobil ambulans, mobil patroli, dan mobil sebuah stasiun televisi terlihat berhenti di pinggir jalan. Foto-foto dan video hasil jepretan Hilya, saya kirimkan ke redaksi kumparan, bersamaan saat itu Wakil Pemred kumparan Rachmadin Ismail meminta saya untuk kirim foto dan video.

Beberapa vila rusak, termasuk ada pagar sebuah vila yang ambruk. Ada juga sebuah toko yang masih utuh berada di tengah jalan, karena belum dievakuasi. Saya menduga kios ini mungkin awalnya berada agak dekat pantai. Tidak banyak masyarakat yang berada di pinggir jalan, karena mereka masih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Saya melewati Hotel Aston. Hotel ini tampak masih kokoh berdiri meski menurut salah seorang kawan saya, Zaenal Budiyono, yang menginap di sana, air laut saat tsunami terjadi menerjang hingga kolam renang. Hotel Aston aman, karena ada tanggul tinggi yang membatasi hotel dengan pantai. Mobil-mobil tamu hotel juga aman, karena diparkir di seberang hotel, melewati ruas Jalan Raya Anyer yang posisinya lebih tinggi.

Sampai akhirnya kami menemukan Jalan Palka yang mengarah ke kampus SMA boarding school. Dari pertigaan Jalan Palka dan Jalan Raya Anyer, kampus SMA ini masih berjarak sekitar 10 kilometer. Posisi kampus berada di dataran tinggi. Jadi, kampus ini aman dari tsunami.

Di pinggir Jalan Palka, saya berhenti sebentar. Ada warung kelontong yang sudah buka. Saya ingin mencari sepatu seadanya untuk kami pakai ke sekolah. Namun, di warung itu, hanya ada sandal. Akhirnya, tak ada sepatu, sandal pun jadi. Yang penting, kami datang ke sekolah tidak nyeker.

Kondisi Anyer yang porak-poranda. (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Alhamdulillah kami sampai sekolah sekitar pukul 06.50 WIB. Saya langsung parkirkan mobil dan kemudian menuju masjid sekolah untuk registrasi. Saya melihat mobil Nissan X-Trail putih yang dikendarai ibu dan dua anaknya yang terpisah dengan kami saat turun dari lokasi pengungsian. Mereka ternyata sudah sampai sekolah terlebih dulu. Alhamdulillah. Para orangtua juga saling tukar cerita mengenai kejadian malam itu yang mencekam.

Bahkan, ada yang bercerita, begitu tsunami menerjang, dia bersama anaknya langsung mengungsi ke sekolah ini dengan naik ojek. Mereka meninggalkan mobilnya di hotel yang diterjang tsunami. Mereka memilih mengungsi dan menginap di sekolah ini, karena hotelnya di dekat Jalan Palka. Hingga pagi itu, bapak ini tidak mengetahui nasib mobilnya. Yang pasti, dia sempat melihat mobilnya sudah saling bertabrakan dengan mobil-mobil lainnya.

Kami berada di sekolah hingga pukul 15.30 WIB. Seusai tes selesai, kami memutuskan langsung pulang menuju Bogor melalui akses pintu tol Serang Timur. Saya mengemudikan mobil dengan tidak terlalu kencang, karena khawatir bumper mobil lepas, meski saat di sekolah, tali pengikatnya sudah saya perkuat.

Begitulah kisah kami. Banyak pelajaran yang kami petik. Tetap berusaha menyelamatkan diri saat tsunami terjadi, pasrah dan terus berdoa, itulah yang kami lakukan. Kami sangat bersyukur bisa selamat dan anak bungsu saya sempat menjalani tes ujian masuk sekolah. Manusia hanya bisa berusaha, Allah yang menentukan.

Bagi saya pribadi, kejadian ini juga banyak memberi pelajaran, termasuk bagaimana saya memberitakan mengenai tsunami yang terjadi. Saya meyakinkan bahwa yang terjadi adalah tsunami, bukan sekadar gelombang pasang. Musibah di Banten ini juga membuat lembaga-lembaga pemerintah yang menangani gempa bumi, kegunungapian, tsunami, dan sebagainya harus lebih melakukan koordinasi dan proaktif dalam mengantisipasi dampak yang terjadi.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60