kumparan
7 Jan 2017 20:09 WIB

Twitwar 7117: Penutup Debat Rachlan dan Budiman Singgung Ahok

Acara Twitwars bersasama 3 perwakilan tim sukses (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
Twitwar yang dilakukan tiga politisi berakhir damai. Tak ada adu fisik walau berbeda pandangan. Debat yang dilakukan mendapat sambutan hangat dari publik di media sosial.
ADVERTISEMENT
Debat antara Rachlan Nasidik dari Demokrat mewakili AHY, Budiman Sudjatmiko dari PDIP mewakili kubu Ahok, dan Indra J Piliang dari Golkar mewakili Anies ini bagian dari 'perang' Pilgub DKI. Debat dalam suasana cair yang dipenuhi penonton di Equus Cafe di Kebayoran, Jaksel ini memang bermula dari debat di twitter tentang radikalisme. Debat difasilitasi para aktivis di media sosial.
Dan debat yang berlangsung 1 jam lebih ini, Sabtu (7/1) dengan tagar #Twitwar7117 ini berakhir dengan pernyataan sikap dari masing-masing politisi.
Indra Jaya Piliang setelah acara Twitwars (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)
"Sepanjang radikalisme tak dilakukan dengan tanpa kekerasan saya pikir itu bagus. Hal itulah yg ingin saya imbau kepada khalayak di sini. Dalam FPI saya tak melihat ide ide radikal dalam organisasi tersebut," kata Indra J Piliang.
ADVERTISEMENT
Kemudian giliran Rachlan yang memberiikan pandangan. Saat memberikan pendapat dia menyinggung soal Ahok.
"Jangan sampai Pilkada ini menjadi masalah yang mengancam kita. Jangan cepat percaya, kritik ke Ahok melulu kritik terhadap agama dan ras. Masih banyak kritik yang bisa kita lontarkan kepada Ahok di luar konteks agama dan ras. Satu nyawa terlalu berharga untuk dikorbankan," beber Rachlan.

Berhentilah para pendukung Ahok menggunakan isu kebhinekaan untuk menodong demokrasi. Dengan tak memilih Ahok maka kamu tak bhineka seperti itu contohnya

- Politisi Demokrat, Rachlan Nasidik

Apa yang disampaikan Rachlan kemudian dijawab Budiman dalam pandangan penutupnya. Dia meminta agar demokrasi tak dilukai dengan isu-isu rasisme.
"Riset yang saya lakukan menunjukan 65% program Anies merupakan program Ahok. 75% program Agus merupakan program Ahok juga. Jangan lukai demokrasi kita dengan rasisme, konflik agama. Ini ada luka yang menganga jika tak disembuhkan oleh siapapun yang menang di pemilihan gubernur nanti, maka ada bagian yang sakit, dan apa rela kita harus mengamputasi salah satu bagian tubuh kita?" beber Budiman.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan